Habateti : Workshop Ketubuhan Bersama Rianto

Keterikatan Tubuh melalui Ranting Pohon

Kristal Firdaus

       Sekumpulan daun bergradasi hijau-kuning gugur pagi itu, memenuhi beberapa bagian lapangan Kampung Seni. Ia terbawa angin atau waktu. Selalu ada tubuh-tubuh lain di luar tubuh yang kita kenal. Dari daun-daun tadi, kita bisa belajar tentang keterikatan atau koneksi antara ranting, daun, angin bahkan waktu. Ada sesuatu yang tarik menarik atau dijaga untuk mencapai tumbuh atau jatuh. Hal tersebut berlaku juga bagi tubuh manusia, terlebih ia yang memilih hidupnya sebagai penampil di panggung pentas. Hal tersebut menjadi penting karena pementasan tidak pernah benar-benar dilakukan sendirian, sehingga akan selalu ada keterhubungan yang saling ikat demi kelancaran pentas. Ketika kita membahas seorang penari di atas panggung, akan muncul lapisan-lapisan tertentu seperti keterikatan kaki dengan lantai yang ia pijak, keterikatan tubuh dengan angin, keterikatan tubuh dengan atribut atau setting. Hal itu yang mendasari workshop Body Connectivity oleh Mas Rianto di Lanjong Art Festival 2025 pada Selasa, 26 Agustus 2025 di Ladaya, Tenggarong.

       Sensibilitas tubuh ialah modal awal bagi para penampil, tutur Mas Rianto untuk mengawali workshop pada pukul 9 pagi itu. Ia meminta seluruh peserta workshop melepas seluruh alas kaki. Bagaimana kaki telanjang akan membuka koneksi antara tubuh dan yang ia pijak. Bagi Mas Rianto, tubuh adalah jagad. “Kita nyeker bareng ya,” aku teringat nada ceria Mas Rianto. Ini kali pertamaku menemuinya secara langsung. Ia ternyata sangat ceria & luwes. Workshop ketubuhan kali ini menggunakan ranting pohon sebagai mediumnya. Ia meminta panitia menyediakan 1 ranting pohon untuk tiap peserta. Workshop ini dibuka untuk umum sehingga lapangan Kampung Seni dipenuhi oleh 70 peserta yang berasal dari peserta kompetisi teater, para ekshibitor, rombongan mahasiswa Universitas Mulawarman & SMA Budi Bakti.

       Tujuan utama dari Body Conectivity ialah bagaimana cara kita mengkoneksikan tubuh ke tubuh lain, bagaimana mata bergerak & kulit merasakan saat tampil di panggung. Pelatihan ini menggabungkan antara ketubuhan Jawa & Butoh, Jepang. Mas Rianto sebagai Lengger Lanang Banyumas berkata, karena tubuh lain bukan hanya manusia saja, tetapi juga ada angin, suara, getaran, bagaimana intensi diri dengan benda-benda makhluk di sekitar kita & panggung bisa kita rasakan. Menurutnya, menari adalah sebuah doa. Kejujuran selalu diutamakan bagi tubuh. Kemudian, bisa kita bayangkan bersama ketika berbicara tentang koneksi maka ada pemancar, perantara & penerima. Bagaimana 3 pihak saling menjaga untuk mencapai kestabilan atau rasa yang dituju. Dibutuhkan keselerasan dalam bergerak sehingga dibutuhkan kepekaan diri untuk menahan ego.

       Workshop dimulai dengan pemanasan melalui instruksi untuk menggerakkan tangan & badan dengan gerakan kecil. Gerakan kecil sangat penting menurut Mas Rianto untuk merasakan akar gerak atau berasal dari mana gerakan ini. Barisan peserta mulai menggerakkan tubuhnya masing-masing. Mas Rianto berkeliling sambil mengecek tiap gerakan. Memusatkannya pada tangan & lutut seperti membuat getaran, seperti gunung yang mau meletus. Perlahan, gerakan semakin diperbesar dengan membuka tubuh & membebaskannya. Musik gendang mulai terdengar dari speaker panggung. Tubuh-tubuh bergerak kanan-kiri, depan-belakang kemudian pada hitungan delapan mengeluarkan semuanya melalui suara “HAAA” lalu istirahat sejenak. Para peserta mulai berkeringat, Mas Rianto meminta para peserta untuk merasaka aliran darah dari tubuh.

       Pemanasan kembali dilanjutkan dengan mengangkat kedua tangan ke atas lalu menutup mata sambil berjinjit, kemudian pelan-pelan melepasnya turun. Setelah itu, melenturkan area bawah tubuh dengan melakukan kuda-kuda, merasakan sendi-sendi, kemudian bergerak kanan-kiri dan menahan cakra di perut, menggerakannya ke dalam dan ke luar. Selanjutnya, menguji ketahanan tubuh melalui gerakan kuda-kuda ke kanan-kiri hingga menaikkan salah satu kaki lalu menahannya. Harus sabar dalam memproses gerak dalam hitungan. Gerakan kemudian fokus pada dada, hanya dada, bukan pundak. Bersamaan dengan itu, melangkah ke kanan-kiri seiring membuka dada ke luar dan ke dalam. Mas Rianto ingin peserta melawan pikiran. Gerakan-gerakan pada pemanasan tadi melatih ritme tubuh.

       Pemanasan telah diselesaikan. Ranting-ranting pohon dengan ragam ukuran (kurang lebih 1 meter hingga 1.5 meter) telah dijejer panitia di seberang kanan lapangan sejumlah peserta. Mas Rianto mulai mempraktikkan bagaimana latihan ini akan dilakukan. Ia berkata ujung & pangkal dari ranting tidak boleh tajam karena itu akan menjadi media penghubung antara dua tubuh. Ranting akan ditaruh pada bagian tubuh yang kita rasa nyaman atau bagian tubuh yang mau kita rasakan. Bisa taruh di leher, di dada dan di mana pun di mana kita sendiri ingin disentuh dengan ranting. Kalau nanti ada yang dirasakan, Mas Rianto berpesan untuk menyimpan perasaan itu.

       Seluruh peserta mulai melingkar. Mas Rianto memilih Yamato (ekshibitor dari Jepang) untuk berdiri di tengah, diikut Sharul (ekshibitor dari Malaysia) untuk memulai koneksi antara tubuh mereka dengan ranting. Sambil berkeliling, Mas Rianto mulai menunjuk peserta satu-satu untuk terkoneksi dengan mereka berdua hingga membentuk seperti jaring laba-laba. Bagaimana pusat getaran akan mengantarkan getarannya ke seluruh peserta jika terjadi keterikatan yang baik sehingga ranting tidak jatuh. Kita bisa melihat berbagai peserta punya pilihan yang berbeda untuk menghubungkan dirinya dengan ranting. Sharul mengambil posisi duduk lalu menghubungkan ranting dari perutnya ke pinggul Yamato. Ada yang menghubungkan ranting dengan dahinya dalam posisi berkuda-kuda. Dilanjutkan dengan peserta yang berkuda-kuda menyamping lalu memusatkan koneksi pada lehernya. Banyak sekali pilihan berbeda yang dilakukan peserta dari jari, area telinga, telapak kaki hingga dada dengan ragam posisi tubuh yang juga berbeda.

       Ketika seluruh peserta sudah mendapat posisinya masing-masing, musik suasana telah diputar. Mas Rianto meminta para peserta untuk mulai bergerak pelan-pelan & mengingatkan untuk tidak egois. Ia meminta para peserta untuk tidak diam, tapi mulai merasakan. Berkomunikasi lewat hati bukan lewat mulut, bukan lewat mata tetapi lewat kulit, bukan lewat gerak tetapi lewat pikir. Pergerakan kecil mulai terjadi, akan ada yang mendorong & menahan. Jangan menunggu. Bisa kita lihat beberapa peserta mulai menjatuhkan rantingnya lalu memulai kembali menghubungkannya. Titik tubuh yang kita pilih untuk terhubung dengan ranting adalah tanggung jawab yang harus kita selesaikan & bagaimana kita harus mengontrol tubuh agar tidak jatuh atau melepas ranting. Semakin banyak yang ditahan semakin banyak tanggung jawab kita, intensitas seperti ini dibutuhkan dalam menari, agar soul itu keluar.

       Selama workshop Mas Rianto menggunakan 3 bahasa, yakni Indonesia, Inggris & Jepang. Ia sudah tinggal di Tokyo sejak 2003. Setelah menyelesaikan praktik ranting, ia mulai bertanya apa yang para peserta rasakan dengan posisi tadi. Bagaimana keterikatan tubuh satu dengan tubuh lain membuat kita saling memahami & tak boleh egois. Bagaimana kita merasakan sesuatu yang kemudian ranting bisa proses tanpa patah. Kalau menggunakan tali akan lebih mudah tetapi ranting dengan keragaman bentuk hingga ketebalan membuat kita belajar menahan ego dan mulai merasakan tubuh lain selain tubuh kita sendiri. Praktik Body Connectivity ini sangat bagus diadopsi untuk tiap sanggar ketika hendak memulai latihan. Hal yang bisa kita petik ialah menyadari hal-hal kecil atau sering kita sepelekan sebagai sesuatu yang tak terlihat, bahwasanya pergerakan atau pementasan yang baik telah lama disokong dengan banyak hal-hal yang tak kasatmata. Bagaimana yang terlihat dan tak kasat memilki keterikatan yang kuat seperti pohon dengan ranting & daun kepada angin, begitu juga dengan tubuh.

       Kemudian, Mas Rianto mengajak para peserta untuk melakukan Lengger Banyumas bersama-sama, bagi yang punya sampur atau kain boleh mengambinya terlebih dahulu. Siapa pun bisa menari karena iramanya menggunakan calung & gendang. Ia mencontohkan gerak entarakan, salah satu tangan di tengah dan salah satunya lagi dipanjangkan sejajar. Sambi bergerak ke kanan dan kiri. Gerak selanjutnya, bernama Seblak Sampur, tangan kiri mengunci sampur sedangkan tangan kanan membuang selendang ke arah kanan. Sambil mempraktikkan gerak, Mas Rianto membuat musik seolah gendang dari mulut, “Tata Truntung Ta Ta”, kemudian musik khas lengger mulai diputar. Seisi Kampung Seni melakukan geol-geol besama dua penari perempuan pendamping Sophi dan Lintang. Sebagai penari Lengger, komunikasi juga menjadi hal penting untuk berinteraksi dengan audiens. Mas Rianto banyak mengeluarkan guyon dan keceriaan selama proses hingga lagu Ciwit-Ciwitan menutup tari bersama seluruh peserta di pukul 11 pagi itu.

       Lengger awalnya digunakan sebagai ritual musim panen untuk meminta kesuburan. Kadang ia ditarikan untuk lonceng pada sapi agar ketika sapi dipakai untuk membajak ia terjaga dan membawa kesuburan. Namun, zaman telah bergeser, digantikan mesin-mesin sehingga Lengger lebih sering digunakan untuk hiburan. Hal tersebut membuatku mengingat tari Hudoq Dayak, bagaimana topeng sebagai perwujudan media komunikasi kepada roh-roh untuk menjaga sawah dari hama. Dari gerak Lengger kita juga bisa merefleksikan bagaimana gerak tubuh mewakili hal-hal di alam seperti Langit & Bumi ketika kita menggerakkan tangan ke atas & bawah. Pemaknaan tersebut hadir karena kita mempercayai keterikatan antara tubuh dan tubuh-tubuh lain seperti bagaimana catatan ini dimulai. Antara sadar dan tidak. Antara naluri & mekanis.

Demikianlah.

Scroll to Top