SWOT ala Timur

Acap digunakan kalangan pelaku usaha untuk menyusun strategi bisnis yang efektif, Analisis SWOT sesungguhnya bisa diterapkan pada sesuatu yang lebih luas. Ia, pada hakikatnya, adalah salah satu instrumen untuk memandang dan mengenali diri sendiri: ia menghamparkan kekuatan dan kelemahan yang mendekam dalam diri kita, ia menunjukkan kesempatan dan ancaman yang mungkin merayap mendekati kita.

Jauh sebelum Albert S. Humphrey memperkenalkan teknik Analisis SWOT seusai penelitian panjangnya di Stanford Research Institute dengan pembiayaan dari perusahaan-perusahaan Fortune 500, orang-orang sesungguhnya telah pula menempuh pelbagai macam jalan untuk melihat dan mengenali dirinya sendiri, kekuatan serta kelemahan yang dimiliki, juga peluang dan ancaman yang barangkali bakal dihadapi. Maka demikianlah kita mendengar cerita tentang Raden Said yang berkhalwat selama seribu hari di tepi sungai sebelum kemudian menyadari bahwa strategi memperjuangkan kebaikan sekaligus menyelamatkan orang lain tidak bisa dengan jalan berandalan seperti yang ia lakukan sebagai Berandal Lokajaya, melainkan lewat cara-cara yang lebih santun dan artistik, memanfaatkan kepiawaiannya dalam menatah kulit sapi seraya mendeformasi bentuk realistis makhluk hidup yang hari ini kita kenal sebagai wayang kulit, misalnya. Dalam khazanah cerita yang lain, Bima menyelam ke dasar samudera untuk bertemu dengan Dewa Ruci, entitas ilahiah yang ternyata bersemayam dalam diri sekaligus menunjukkan siapa diri sejatinya, mengubah kelemahannya yang tak pernah mampu berbahasa halus menjadi kelebihan yang menyiratkan kejujuran sekaligus keterusterangan kepada semua orang. Dalam konteks masyarakat yang lebih dekat, yakni Kalimantan Timur, Melengkar, tokoh dalam cerita rakyat Kutai, musti berdiam di kaki Gunung Meratus dalam guyuran badai sebelum pada akhirnya ia mampu menggali maksimal kekuatan dalam dirinya sekaligus menyiasati kelemahan personalnya untuk mengalahkan Awang Seragen dari Kampung Setambun Tulang serta pergi ke Tenggarong untuk menyelamatkan Kerajaan Kutai dari invasi Raja Melayu.

Cerita tentang sosok-sosok agung – baik yang historis maupun mitologis – di atas, niscaya, bukan sekadar cerita. Ia adalah petuah sekaligus suri tauladan berbungkus kisah. Ia juga adalah sebuah isyarat yang jelas, bahwa sebelum kita melangkah dan mengerjakan sesuatu, maka yang pertama-tama musti dilakukan adalah mengambil jeda untuk mengenali diri sendiri, untuk memahami diri sendiri, agar kita tidak tersesat di tengah perjalanan, dan supaya kita kuasa mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin tiba, sekaligus memanfaatkan setiap peluang yang ada. Dengan kata lain, apa yang mereka kerjakan, sesungguhnya, adalah Analisis SWOT dalam bentuk yang lain, dalam rupa yang, barangkali, lebih dilumuri oleh kearifan Timur.

Kearifan Timur tersebut, agaknya, adalah sesuatu yang bersifat ritual serta permainan simbolisme yang kental, sesuatu yang mungkin saja tidak ada dalam konsep Analisis SWOT anggitan Albert S. Humphrey dan tim peneliti di Stanford Research Institute. Khalwat yang dikerjakan Raden Said adalah sebentuk ritual, yakni meditasi; dan semak, alang-alang, serta akar-akaran yang menjalar untuk kemudian membungkus tubuhnya adalah simbol tentang ancaman dan kelemahan. Bima menjalani ritual melarung diri dalam laut untuk mampu mengidentifikasi dirinya sendiri, sementara laut itu sendiri adalah simbol tentang hidup. Dalam cerita Melerang, simbol-simbol juga bertebaran, antara lain melalui seruas lemang dan sebiji ketupat yang ia makan tiap hari, tiga potong kayu sebagai alas duduk, hujan badai yang mengguyur, kaki gunung tempatnya menyepi, serta ular sebesar pohon pinang dan lipan seukuran pergelangan tangan yang merayapi tubuhnya. Tafsir terhadap simbol-simbol bisa beragam, tergantung keperluan dan pengetahuan si penafsir, dan hal itu justru akan semakin memperkaya makna simbol-simbol tersebut.

Dari sini, kita tahu bahwa Analisis SWOT sesungguhnya bukan semata sebuah laku baku bagi pelaku usaha untuk menyusun strategi bisnis, melainkan bisa digunakan untuk beragam keperluan dengan beraneka macam variasi bentuk praktiknya.

***

Lanjong sebagai satu lembaga atau organisasi yang hidup dan bertumbuh, tentu memerlukan momen-momen untuk mengenali ulang diri sendiri, untuk memeriksa diri sendiri, untuk mengerjakan semacam evaluasi supaya sanggup berjalan lebih jauh. Dengan kata lain, kami membutuhkan instrumen SWOT untuk menganalisis diri sendiri.

Namun, alih-alih mengerjakan Analisis SWOT ala Albert S. Humphrey secara mentah-mentah, kami menimbang dan menyadari bahwa kami lahir dan berkembang di situasi yang berbeda. Kaki kami menginjak bumi Kalimantan Timur dan kami melangkah dalam adat, kebiasaan, tradisi, serta kebudayaan yang berkembang di Kalimantan Timur. Sebagai satu kelompok seni, kami merasa perlu mengakar pada budaya lokal untuk memperkuat identitas. Tentu saja kami menyadari bahwa identitas adalah sesuatu yang cair dan berlapis, sesuatu yang dibentuk oleh banyak sekali faktor, mulai lingkungan sekitar hingga buku bacaan dan gelembung media sosial. Namun, kami juga menyadari ada ikatan tak terputuskan dengan tanah yang kami pijak dan langit yang kami junjung, yang membuat identitas tersebut menjadi unik, yakni identitas yang kental berlambar nilai lokal.

Oleh karena itu kami menempuh strategi yang sedikit berbeda, strategi yang kami sebut SWOT ala Timur.

SWOT ala Timur, sesungguhnya, adalah pendekatan reflektif untuk menganalisis Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Kesempatan), serta Threat (Ancaman) dalam kelompok Lanjong dengan mengintegrasikan tradisi dan kearifan budaya Timur dalam praktiknya. Ia menggabungkan prinsip-prinsip SWOT seperti yang dianjurkan oleh Albert S. Humphrey dengan laku yang khas Timur. Oleh karena itu, pendekatan ini akan menggunakan ritual dan berbagai macam simbolismenya sebagai metode untuk menggali informasi secara mendalam dengan melibatkan emosi, spiritualitas, serta kesadaran kolektif.

Melalui ritual, kami mengharapkan Analisis SWOT yang kami kerjakan tidak berjalan kaku formal dan menghasilkan pemahaman-pemahaman yang bersifat rasional semata, melainkan bergerak lebih jauh dan mendalam, yakni memberi penekanan pula terhadap “rasa” dan “makna”, sesuatu yang barangkali lebih “spiritual”. Kami percaya ritual mampu mengakomodasi itu semua. Ritual pula, dalam praktiknya, khususnya yang dikerjakan bersama-sama, kerapkali mengharuskan adanya kerjasama dan harmoni antar individu yang terlibat. Harmoni ini, pada gilirannya, merayap lebih jauh melampaui batasan spesies, bukan sekadar harmoni antar individu, melainkan juga harmoni dengan alam dan makhluk hidup yang lain. Apa boleh buat, di Timur, modernitas dan rasionalitas belaka tak cukup untuk memaknai hidup. Ia harus bergabung dengan nilai-nilai lokal. Upaya menjaga kebersihan sungai, misalnya, tak rampung dengan kampanye bahwa membuang sampah sembarangan bakal menyebabkan banjir, melainkan dengan pemuliaan yang bersifat mitologis, antara lain kepercayaan bahwa Lembuswana tinggal di dasar sungai; dan ritual-ritual, antara lain Erau. Kesemuanya itu bahu membahu membangun cara kami hidup, menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kami saling memiliki dan bahwa setiap individu sama-sama terlibat serta senantiasa menjadi bagian dari solusi.

Ritual, seperti meditasi yang dikerjakan Melengkar, selalu melibatkan permainan simbol. Dan permainan simbol tersebut, kerapkali, adalah melepaskan peristiwa sehari-hari dari kesehariannya yang biasa. Atau, menggeser satu aktivitas keseharian, melakukan defamiliarisasi atas akitivitas tersebut, untuk kemudian menuangkan makna baru atas aktivitas itu. Persis seperti itulah yang coba kami lakukan pada hari pertama pelaksanaan SWOT ala Timur melalui serangkaian ritual lewat simbolisme dari pelbagai kegiatan keseharian.

Mandi kembang, menyapu, bercukur, meditasi kolektif, serta melarung lentera adalah ritual-ritual yang akan dikerjakan untuk memperkuat refleksi terhadap kondisi internal dan eksternal kelompok, untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri, untuk peka menangkap kesempatan dan mewaspadai ancaman yang mungkin datang. Hal ini paralel misalnya, dengan batang kayu, ular, lipan, atau badai yang muncul sewaktu Melengkar bermeditasi.

Namun, tentu saja kami sadar bahwa ritual dan permainan simbol belaka tidak memadai. Seperti Raden Said yang bertukar pikiran dengan Sunan Giri sebelum menemukan strategi dakwah melalui wayang kulit, selaiknya Melengkar yang berembug bersama Perempuan Gunung Meratus sebelum menemukan siasat mengalahkan Raja Melayu, kami tahu bahwa kami mesti mendiskusikan apa-apa yang kami dapat melalui ritual dan permainan simbol tersebut pada hari kedua pelaksanaan. Inilah saat di mana nalar dan rasionalitas bekerja melengkapi apa yang sudah dilakukan oleh rasa dan emosi; otak menggenapkan hati; yang spiritual bertemu dengan yang material; Barat dan Timur melebur dalam harmoni dan kerjasama.

Dengan begitu, kami berharap akan mendapatkan bahan bagi kami untuk merumuskan program kerja yang relevan di masa depan. Bahan-bahan yang meliputi kekuatan, kelemahan, kesempatan, serta ancaman kelompok kami. Bahan-bahan yang bakal membuat setiap anggota menyadari peran dan kontribusinya bagi kelompok, mengingatkan identitas kelompok yang terus berakar pada nilai-nilai lokal seraya terus terbuka terhadap tantangan global, serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan festival serta kegiatan seni kami lainnya di kelak kemudian hari.

Scroll to Top