Kebermainan, Believable, dan Sejumlah Perkara Lain
Jojo Jumansyah
Hari itu, Senin 25 Agustus 2025, sekitar pukul 09.30 WITA, cahaya matahari tipis menggenangi pendopo Ladaya, membuat ruang workshop itu terasa hangat. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang penuh obrolan panjang bersama Kang Iswadi Pratama, kali ini suasana terasa berbeda. Beliau membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan yang sederhana sekaligus menggetarkan, “Apa problem utama dalam menyutradarai pementasan?”
Pertanyaan itu langsung memecah keheningan. Seperti batu yang jatuh ke air, riaknya menjalar ke setiap peserta. Semua mulai menimbang-nimbang, apakah problem utama itu soal naskah, soal aktor, soal teknis panggung, atau justru soal lain yang lebih mendasar.
Dalam lingkaran diskusi yang tidak sepenuhnya rapi, seorang peserta dengan jujur mengungkapkan keresahannya. “Kesusahan saya adalah bagaimana mengubah sudut pandang penonton bahwa teater itu tidak melulu komedi. Di lingkungan saya, mayoritas warganya adalah petani. Mereka datang ke pertunjukan berharap hiburan ringan, tawa, dan pelepas penat. Tapi bagaimana caranya agar mereka juga melihat teater bisa bicara hal-hal lain, yang lebih dari sekadar komedi?” ujarnya panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan.
Kang Is tersenyum tipis, lalu mempersilakan salah satu peserta lain yang mungkin dianggap punya pengalaman lebih untuk menanggapi. Namun alih-alih memberi jawaban, orang itu justru melempar pertanyaan baru, “Bagaimana kita mengajarkan teater, namun tidak mencetak?”
Sekejap ruang diskusi terdiam. Pertanyaan itu sederhana tapi tajam, seperti pisau yang mengiris lapisan paling dalam. Saya sendiri tercekat bukan karena percakapan melebar, melainkan karena pertanyaan itu tepat menyinggung problem terbesar yang saya lihat di Samarinda. Bagaimana menyuburkan teater sebagai pengalaman hidup tanpa menjadikannya sekadar kurikulum kaku yang melahirkan aktor-aktor seragam? Bagaimana membuat teater bertumbuh dari tanahnya sendiri, dari realitas sosial yang ada, tanpa kehilangan kebebasan berekspresi?
Kang Is kemudian menegaskan bahwa problem penyutradaraan sesungguhnya tidak hanya soal teknis atau estetika, melainkan lebih dalam ketimbang itu, yakni bagaimana sebuah pementasan menemukan konteksnya dalam masyarakat. Menurut saya, dengan penjelasan begitu sederhana, saya mendapatkan bahwa teater bukan benda asing yang bisa dipaksakan ke tengah penonton, melainkan organisme yang harus bernapas bersama penontonnya, bersama kehidupan sehari-hari yang mereka alami. Pagi menjelang siang itu, diskusi berkembang liar, bukan menghasilkan jawaban, tetapi melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih mendasar.
Alih-alih menjawab pertanyaan dari peserta, Kang Is justru melemparkan pertanyaan baru dengan penuh keyakinan, sebuah pertanyaan yang seketika mengguncang ruang workshop dan membuat semua orang terdiam sesaat sebelum suara-suara riuh mulai bermunculan. “Apa esensi dari teater?” Pertanyaan itu sederhana, namun dampaknya terasa seperti hantaman keras. Saya yang berada di ruangan itu bukan sebagai peserta, melainkan pendamping, bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana para peserta berusaha menggali ingatan mereka, kembali ke pengalaman awal ketika pertama kali bersentuhan dengan teater. Jawaban pun terlontar secara bergantian, ada yang menyebut aktor, tubuh, konflik, penonton, hingga naskah. Namun setiap kali sebuah jawaban dilontarkan, Kang Is tak segan mempertanyakan ulang, membalik sudut pandang, menggugat dasar pemikirannya, dan dengan cara itu menggagalkan satu demi satu jawaban yang terasa terlalu mudah diterima begitu saja.
Dari posisi saya sebagai pendamping, justru saya merasakan getaran pertanyaan itu masuk jauh ke dalam diri saya sendiri. Seolah-olah pertanyaan itu tidak sedang ditujukan kepada peserta semata, melainkan juga kepada siapa saja yang hadir di ruangan itu. Saya mendapati diri saya bertanya-tanya: apakah selama ini, bertahun-tahun saya mendampingi, mengamati, bahkan ikut hidup bersama dunia teater, saya benar-benar mengenali apa esensinya? Bukankah selama tujuh belas tahun saya berkecimpung di dunia teater ini, saya lebih banyak berjalan di atas kebiasaan, pada jalur-jalur teknis, tanpa berani menyentuh akar pertanyaan paling mendasar itu? Ada penyesalan yang lahir, bukan karena saya merasa salah, melainkan karena tiba-tiba saya menyadari betapa jarangnya saya benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya “apa itu teater” dengan sungguh-sungguh.
Tidak lama kemudian, Kang Is membagi peserta ke dalam empat kelompok besar. Dari cara mereka berlatih dan menyusun adegan, terlihat jelas bahwa pembagian itu secara implisit mengacu pada dua aliran besar yang mendominasi dunia teater, yakni Stanislavski dan Brecht. Setiap kelompok diminta mempersiapkan pementasan sederhana dalam waktu lima belas menit.
Di sela-sela waktu itu, saya yang sedari tadi menyimpan kegelisahan mencoba mendekati Kang Is. Bukan sebagai peserta yang hendak mencari jawaban praktis untuk tugas kelompok, melainkan sebagai seseorang yang ingin memahami lebih dalam. Namun setiap kali saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar itu, Kang Is justru balik mempertanyakan ulang, menggiring saya ke titik di mana jawaban saya sendiri terasa rapuh. Hingga akhirnya, dalam keheningan yang cukup panjang, saya hanya mampu mengatakan, “Kesadaran dan peristiwa.”
Kang Is langsung menanggapi, “Kenapa kamu memilih itu?”
Dari situ saya pun mencoba menjelaskan bahwa ada kesadaran penonton untuk datang menyaksikan sebuah pementasan, ada kesadaran aktor untuk hadir di panggung dan memainkan peran, dan dari pertemuan dua kesadaran itu lahirlah peristiwa. Semua teori tentang teater, sejauh yang saya kenal, selalu kembali ke dua titik ini: peristiwa dan penonton, serta hubungan yang terbangun di antara keduanya. Relasi itu yang membedakan teater dari sekadar tontonan; ia hidup karena ada kesadaran yang saling menyambut, bukan hanya karena ada teks atau tubuh yang bergerak.
Tak terasa lima belas menit pun berlalu. Para kelompok kembali ke ruangan dan mempresentasikan hasil latihan mereka. Dua puluh menit kemudian, seluruh peserta dikumpulkan kembali dalam satu lingkaran. Dan di momen itulah saya kembali dibuat terkejut, sebab jawaban-jawaban yang muncul dari peserta ternyata mengerucut pada hal-hal yang baru saja saya bicarakan dengan Kang Is secara pribadi: kesadaran, peristiwa, dan hubungan dengan penonton. Ada rasa aneh sekaligus meneguhkan seolah apa yang semula saya kira hanya percakapan kecil ternyata beresonansi lebih luas dan menemukan gema dalam pencarian bersama.
Setelah pementasan sederhana para peserta ditampilkan, Kang Is mengambil alih kembali ruang dengan penjelasan yang menukik pada inti. Ia menegaskan bahwa hal paling penting dalam esensi teater adalah peristiwa dan penonton. Bahkan, dengan nada yang lugas, ia menambahkan bahwa semua genre teater, apapun bentuknya, dari realisme Stanislavski, Grotowski, dan lain lain, pada akhirnya selalu kembali mengulik dua hal tersebut. Teater hidup karena adanya peristiwa yang disajikan, dan karena ada penonton yang bersedia hadir untuk menyaksikannya.
Namun penjelasan Kang Is tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan dengan mengangkat sebuah poin penting lain, yakni prinsip kebermainan. Ia mengingatkan semua peserta bahwa sebenarnya kita semua pernah mengalaminya sejak kecil. Saat bermain bersama teman-teman, kita bebas menjadi siapa saja – prajurit, dokter, raja, binatang – tanpa naskah, tanpa sutradara. Kita saling mengoreksi antar-teman, saling menegaskan aturan main yang dibangun bersama, dan di situlah teater lahir sebagai sebuah kerja yang menyenangkan. Tidak ada tekanan, sebab imajinasi menjadi penuntun utama. Hanya saja, kita jarang menyadari bahwa prinsip kebermainan itu bisa menjadi benih karya yang lebih serius. Dari sesuatu yang tampak iseng, dari permainan kecil, bisa muncul embrio seni pertunjukan. “Tapi ingat,” kata Kang Is menekankan, “kebermainan dan bermain-main itu berbeda.”
Setelah itu, ia masuk ke poin lain yang tak kalah penting dalam esensi berteater, yakni believable. Believable ialah kemampuan untuk meyakinkan. Dalam tradisi realisme, hal ini menjadi mutlak. Misalnya, ketika seorang aktor memainkan adegan makan, maka ia tidak cukup sekadar menirukan gerakan menyuap. Ia harus memahami detailnya: siapa yang makan, apa yang dimakan, seberapa lapar ia, di mana ia makan, bagaimana rasanya, bahkan apa latar pekerjaan tokoh itu. Semua pertanyaan itu membentuk given circumstances yang membuat akting menjadi meyakinkan, bukan sekadar tiruan kosong.
Lalu bagaimana dengan konsep Brechtian? Apakah prinsip believable juga berlaku? Pertanyaan ini dilempar Kang Is kepada peserta, dan rata-rata menjawab: iya, tetap perlu. Bahkan ketika seseorang memainkan peran sebagai alang-alang, atau seekor ayam, keyakinan tetap harus hadir. Hanya saja, yang membedakannya dengan realisme adalah soal takarannya. Dalam realisme, believable dikonfirmasi lewat fakta sehari-hari atau dunia nyata, sementara dalam Brechtian, keyakinan itu tetap ada tapi dibingkai dalam kesadaran kritis penonton.
Di titik inilah Kang Is mengingatkan tentang bahaya lain yang kerap muncul dalam praktik realisme, yakni klise. Klise terjadi ketika akting jatuh pada pola yang berulang dan tumpul. Misalnya, penggambaran perempuan kaya yang sombong selalu diidentikkan dengan penggunaan properti kipas. Padahal ada banyak kemungkinan lain untuk mengekspresikan sifat tersebut. Ketika aktor hanya merekam satu bentuk ekspresi lalu mengulang-ulanginya tanpa henti, itulah klise. “Dan klise inilah,” kata Kang Is, “yang sering menjebak kita dalam pertunjukan realisme.”
Setelah menjelaskan tentang peristiwa, penonton, kebermainan, believable, dan jebakan klise, Kang Is kemudian masuk ke poin berikutnya yang tak kalah penting: misi atau sasaran setiap karakter. Untuk menjelaskannya, ia tidak memilih cara panjang lebar, melainkan sebuah tindakan sederhana. Ia tiba-tiba berjalan mendekati salah seorang peserta, lalu meminta sebuah permen. Peserta itu tampak kikuk, dan akhirnya tidak bisa memberinya apa-apa.
Kang Is pun terdiam sejenak, menatap dengan tenang, lalu berkata dengan nada yang dalam, “Bagaimana kalian bisa memberi saya sesuatu yang memang di dalam diri kalian sendiri tidak ada? Bagaimana kalian bisa mengantarkan kesedihan ke penonton sementara di dalam diri kalian tidak ada sama sekali kesedihan itu? Sekalipun kalian memaksa, yang terjadi hanyalah adegan tipuan-tipuan, sampah belaka.” Kalimat itu menggema di ruangan, membuat semua peserta menyadari betapa pentingnya menghadirkan kejujuran dalam setiap peran. Bahwa seorang aktor tidak sekadar menirukan emosi, melainkan harus menemukan sumbernya dalam diri sendiri agar dapat benar-benar sampai kepada penonton.
Menjelang akhir workshop, Kang Is sempat menghela napas. Dengan nada sedikit mengeluh, ia berkata, “Apa yang bisa saya sampaikan jika penyutradaraan hanya dilakukan dalam waktu dua jam?” Kalimat itu bukan bentuk kekecewaan, melainkan sebuah penegasan betapa luas dan dalamnya dunia penyutradaraan. Ia bahkan menyampaikan harapan besar agar para peserta kelak berkunjung kepadanya, melanjutkan diskusi, dan menggali lebih dalam lagi tentang dunia teater.
Sebagai penutup, Kang Is memberikan kalimat yang terasa begitu menancap, sebuah pesan yang terdengar sederhana namun membawa bobot pengalaman panjang: “Tolong percaya diri dengan apa yang sudah kalian kerjakan. Cintai itu dengan sebaik-baiknya dan tetaplah berjalan di jalan itu agar kalian terus ditempa dan terus ditantang. Tetaplah setia untuk berani, berani untuk setia.”
