Cara Menjadi Manusia melalui Suara Kata
Kristal Firdaus
Saya akan memulai catatan ini dengan salah satu dialog dari film Conclave (2024) sebagai pemenang Piala Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik yang diselenggarakan oleh Academy Awards ke-97, “Shameful to be this age and still not know yourself”. Dialog tersebut diucapkan oleh Bellini, salah satu orang yang dicalonkan menjadi Paus pengganti. Ucapan Bellini tadi membuat kita merenungkan tentang proses panjang mengenali diri yang ternyata tak kenal usia. Bagaimana angka belum tentu penanda kita telah menjadi manusia yang kenal & merangkul kemanusiaan itu sendiri. Memangnya, adakah cara mutlak menjadi manusia? Tiap orang pasti mempunyai cara yang berbeda untuk memeluk dirinya sendiri, selama tidak menyakiti manusia lain. Cara yang pasti dilalui manusia untuk “menjadi”, akan selalu melewati perjalanan panjang. Biasanya dimulai dari dalam lalu keluar atau sebaliknya, hal tersebut bersinggungan dengan tema Lanjong Art Festival 2025: Habis Barat Terbitlah Timur. Sebuah siklus perjalanan yang akan selalu di hadapkan dengan kanan dan kiri lalu ada masanya kita akan ulang-alik melalui keduanya, memasuki dan melebur dalam keduanya untuk mencapai ruang hari ini tanpa prasangka yang salah lagi, dengan sebijak-bijaknya.
Nuansa perasaan seperti itu yang saya rasakan ketika menyaksikan penampilan dari band alternative asal Tasikmalaya, bernama Kataswara di malam pembukaan Lanjong Art Festival pada Jum’at, 22 Agustus 2025. Ketika mendengar namanya, saya langsung mengingat Barasuara. Kemudian, muncul pemikiran tentang bagaimana kata-kata akan disuarakan berulang-ulang sebagai bentuk senjata dalam upaya membuat manusia-manusia yang menyaksikan merasakan detak emosi yang mereka coba tuturkan dalam bunyi & kata. Malam itu, mereka membawa 5 buah lagu, 4 di antaranya berasal dari EP mereka berjudul Menjadi Manusia yang sudah bisa didengarkan di berbagai platform musik. Sebagai band alternative, Kataswara tidak hanya menawarkan penampilan musik yang konvensional, mereka membawa akar mereka ke atas panggung, yaitu bagaimana mereka terbentuk di dalam sebuah komunitas teater Ngaos Art pada tahun 2020 sehingga pertunjukan bertajuk Menjadi Manusia malam itu ditemani oleh para penari & aktor asal Ngaos Art.
Apa yang Kataswara coba tawarkan sebagai cara menjadi manusia dibuka dengan lagu pertama, Menjelma. Penampilan dimulai dengan sorot lampu hijau menyinari seorang perempuan seperti sedang memindai. Mereka berenam berbusana serba putih. Set panggung amphitheater membentuk huruf U pada bagian depan panggung mereka duduk di kursi kemudian menjelma dengan topeng putih berambut tali rapi. “Tahu tahu hidup, kemarin lupa, besok tak tahu” mengiring pergerakan mereka. Intro lagu dibangun dengan tegas dengan ragam musik dari gitar, drum & terompet. Para penari bertopeng mulai tarik menarik seperti berebut wajah. Vokal koor menghadirkan vokal yang kaya akan lapisan sehingga membangkitkan kata-kata yang mereka suarakan. Seperti ketika kita mendengar orang-orang melakukan demonstrasi lalu menyorakkan yel-yel atau lagu secara bersama-sama. Kita akan merasakan tensi yang membuat kita mudah tertular. Lirik-lirik yang hadir di lagu ini memperlihatkan dua kutub yang saling menggetarkan, kemudian perjalanan menjelma manusia digambarkan sebagai labirin yang tak punya peta sehingga kita akan selalu mencari keseimbangan di antara perasaan-perasaan seperti kebenaran tulus & kehangatan hubungan yang akan saling tarik menarik ketika kita mulai jujur dengan satu sama lain, yang bisa mengakibatkan permusuhan karena perbedaan. Vokalis utama bernyanyi sambil berkeliling di antara para penari topeng yang ekspresif dengan tubuh mereka. Pada paruh akhir, mereka kembali mengulang-ngulang lirik awal (“tahu tahu hidup, kemarin lupa, besok tak tahu”) yang bersahut-sahut antara vokal para pria & satu perempuan dengan intens. Bagi saya, lirik tersebut menandakan ketidakberdayaan sekaligus keputusasaan manusia dalam hidup. Hal tersebut juga divisualisasikan dengan para penari yang terlihat kepusingan hingga berbaring menekan kepala & topeng seiring lirik “hari ini aku menjelma siapa?”.
Memasuki lagu kedua, berjudul Manusia, satu perempuan membuka topengnya lalu menari sejadi-jadinya mengikuti hentakan drum yang kuat kemudian gitar masuk & perempuan itu menari semakin cepat. Adegan itu membuat saya bisa membayangkan bahwa kejujuran membebaskan, melepas topeng-topeng yang bukan kita. Bagaimana kejujuran adalah kunci untuk menjelma, adalah hikmah yang dimaksudkan dalam lagu sebelumnya. Ketika mendengar pembukaan lagu Manusia, aku teringat pada lagu Tashoora – Terang. Bagaimana mereka memulai lagu dengan ritme & senandung O dengan cara yang sama. Lirik favoritku pada lagu ini ialah “bahwa yang bijak memilih satu kematian saja, maka kami belajar menjadi pengecut yang baik”. Kataswara menawarkan siasat dalam kehidupan yang hanya sekali, sehingga berhati-hati & berjuang berabad-abad untuk menjadi manusia yang bijak. Panggung terus menampilkan pergolakan tubuh penari perempuan hingga ia menyusun kursi-kursi serupa tower. Repetisi “guna menunda mati” pada akhir lagu memberi pernyataan perjuangan yang terus diusahakan untuk kefanaan hidup, agar menjadi manusia yang bijak dalam menghidupi hidupnya yang tersisa & terus bergulir walau hanya sekali. Harga diri yang dipertaruhkan sendiri-sendiri.
Aku Menemukan Tempat Indah Untuk Mengakhiri Luka ialah lagu ketiga yang Kataswara bawakan. Layar panggung menampilkan bunga mawar merah yang merekah hadir di antara dua naga yang menjadi artistik ampiteater di Lanjong Art Festival 2025. Terasa sekali perubahan musik di babak ini, mereka mengawali dengan musik cerah lalu kembali pada piano melankolis & musik yang membawa pada perenungan akan jalan-jalan yang telah dilalui. Seperti lagu yang menyambut ketika kamu baru saja sampai ke titik yang selama ini kamu tuju:
Tak ada lagi kebohongan
Taka ada senyum palsu
Tipu daya segala cara
Jiwa bebas melayang
Lirik ini menggambarkan bahwa kebebasan akan lahir ketika kita melepas semua topeng & membiarkan kejujuran jadi kunci yang membuka pintu-pintu mungkin. Melepaskan jiwa dari kerangkeng yang membuat kita jadi manusia palsu. Akan sangat disayangkan ketika hidup hanya sekali & kita menjalaninya dengan kebohongan juga kepalsuan.
Para penari telah hadir di antara penonton amphiteater memasuki lagu ke-4, mengajak penonton untuk bersama-sama menyanyikan lagu Barasuara, Terbuang dalam Waktu. Lagu ini terasa pas sekali menjadi fragmen tambahan sebagai cara menjadi manusia yang ditawarkan oleh Kataswara. Rasanya seperti merangkul perjalanan menuju dewasa, mengenali berbagai rasa yang niscaya sekaligus sadar betapa yang kita punya akan menjadi siasat lain untuk mencintai hidup dengan sepenuh-penuhnya. Ini pertama kalinya bagiku, melihat band secara langsung menampilkan lagu ini secara penuh dengan alat musiknya, dan sangat menikmati tiap penampilan solo musiknya. Senandung antara penonton & penampil terekam indah di kepala.
Kataswara menutup malam pembukaan Lanjong Art Festival 2025 dengan manis. Lagu bertajuk Bersamanya menjadi titik balik dari perjalanan menjadi manusia. Mereka menampilkan para penari dengan payung-payung hitam saling tempel. Hujan sebagai akhir atau awal yang baru, bagaimana mereka punya payung sehingga rintik air tak lagi menakutkan, berbahagia bersama hujan. Musiknya cerah sekali, interaktif & membuat para penonton hanyut dalam keceriaan. “Aku akan terus berjalan, melawan arus dan tantangan, tak ada yang bisa buat aku ragu,” adalah lirik yang menandakan babak penerimaan dalam hidup, bagaimana adegan demi adegan memudarkan rasa takut & lagu ini menekankan bahwa yang terpenting dari sebuah perjalanan ialah bukan tentang tempat tetapi dengan siapa kamu melewatinya. Setelah panggung gelap, terdengar rekaman suara:
Dan jika hidup adalah pertunjukan
Maka marilah kita tampil sebagai manusia paling jujur dalam keterbatasannya.
Dengan ini, Kataswara menutup cara menjadi manusia versi mereka dengan kembali mengingatkan betapa kejujuran akan selalu menyelamatkan kita dalam keterbatasan sekalipun. Pertunjukan musik yang sangat menggugah rasa & memeluk seluruh penonton yang hadir. Semoga kita sampai. Menggemakan kata dengan suara.
