Ulasan Penonton Pertunjukan Waiting for Godot

Ulasan Waiting for Godot

Chai Siswandi
               WAITING FOR GODOT| Bisa jadi karena pawang hujannya yang bagus atau keberuntungan, tak ada hujan malam itu. Jujur saya sempat kuatir pertunjukkan teater Yayasan Lanjong agak sepi, sebab dua hari sebelumnya hujan mengguyur Tenggarong sampai malam. Tanda-tanda yang sama juga ditunjukkan cuaca di 6 Februari lalu, di tanggal pertunjukkan gerimis tak henti-henti dari pagi sampai sore.
 
               Dengan niat untuk meramaikan acara di amphiteater itu, saya mengajak teman-teman kantor statistic untuk menonton Waiting For Godot. Tentu diawali dengan pertanyaan yang menggantung seperti kelelawar sebab saya tak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk mereka, apa itu godot?
 
               Yang saya ingat, di Samarinda Pak Syafril Teha Noer, sering menggunakan istilah menunggu godot sebagai pengganti ungkapan keadaan macet, ketiadaan inisiatif atau penantian sia-sia. Bahwa perubahan keadaan itu didapat dengan kekuatan sendiri ketika kita mau bergerak, berbuat, melakukan, bukan menunggu keajaiban dari luar.
 
               Rupanya saya salah. Penonton teater malam itu ramai sekali. Amphiteater di puncak bukit Ladaya dipenuhi oleh ratusan apresiator. Mereka datang tak hanya dari Tenggarong, tapi juga Samarinda dan Balikpapan. Jelas ini semua; hujan reda dan banyaknya yang hadir, merupakan berkah semesta atas konsistensi Lanjong selama 25 tahun berkarya.
 
               Waiting For Godot merupakan drama absurd karya Samuel Beckett—dengan dua t, yang dipentaskan di Paris pada 1953 yang kemudian dianggap sebagai satu karya paling berpengaruh di dunia. Pementasan hampir dua jam malam itu, tak sekadar menonton teater, sebab sebagai karya absurd penonton dibebaskan dalam memberikan berbagai tafsir. Juga, menjadi pengalaman hadirnya karya berkelas dunia di Tenggarong.
 
               Sebenarnya di Indonesia sarangkaian drama-drama absurd barat sudah mulai diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia di akhir 1960-an dan awal 1970-an, seiring mekarnya orde baru, sekaligus menandai kian meluasnya minat pada teater eksperimental—yang bibitnya sudah dimulai Iwan Simatupang di akhir 1950-an.
 
               Eksperimen-eksperimen ini kemudian dilanjutkan salah satunya oleh Rendra, pasca kembalinya ia ke tanah air pada 1967 setelah sebelumnya tiga tahun tinggal di New York, melalui gagasan-gagasan segarnya yang dipengaruhi tokoh-tokoh teater seperti Peter Brook.
 
               Sebagai catatan sebelumnya drama-drama realisme dipengaruhi karya-karya Chekhov, Gogol dan Lorca menjadi warna dominan teater modern Indonesia sebelum orde baru, di samping Lekra yang memilih mementaskan naskah-naskah yang dianggap punya nilai progresif, juga pagelaran tradisional (teater tanpa naskah) yang tetap ada di masyarakat.
 
               Mununggu Godot karya Beckett menjadi pementasan Rendra yang dianggap monumental di 1970. Karya Beckett ini kemudian dipentaskan lagi pada 1982 disutradarai oleh Wahyu Sihombing di bawah kelompok produksi akademik IKJ.
 
               Sebagai karya yang sudah dimainkan lintas generasi, Waiting For Godot oleh Lanjong semalam memiliki tantangan tersendiri, baik dari segi artistik yang mungkin tak bisa kita ragukan dari pengalaman panjang Lanjong menggarap karya, dan yang kedua adalah pemaknaan ulang atau baru atas karya tersebut.
 
               Dalam penjelasan pra-pementasan oleh Ab Asmarada, Lanjong melakukan adaptasi terhadap naskah Beckett itu, baik adaptasi naskah atas situasi hari ini, juga adaptasi melalui konteks Indonesia. Hall ini kemudian muncul dalam dialog-dialog maupun celetukan-celetukan para tokoh, yang terkadang disertai dengan humor untuk mendapatkan efek lucu. Seperti Kekurangan MBG, Bahlil, buzzer, lingkungan hidup sekarat, dsb. Termasuk pemakaian bahasa Kutai yang tipis-tipis pada umpatan hali dll—-pas bagian ini saya kurang dengar jelas.
 
               Tapi tak terhindarkan penjelasan pada undangan, dan symbol-simbol dalam percakapan para actor, turut membingkai interpretasi saya terhadap pertunjukkan yang dimainkan. Waiting For Godot kali ini secara garis besar berbicara soal negara.
 
               Aduh, kayaknya jadi kepanjangan menulis ini.
 
               Masuk pada pementasan, saya menduga-duga, prakondisi sebelum pertunjukkan dengan berkali-kali narator menyebut “selamat menunggu” merupakan bagian dari pementasan. Penonton sedari awal sudah dilibatkan dengan kesadaran menunggu. Sepi, bosan dan gelap.
 
               Drama dimulai dengan munculnya gadis kecil pembawa pesan yang menyampaikan; “ia (godot) tidak datang.” Saya kira, anak perempuan dengan rambut berkepang dua, memakai seragam SD untuk menunjukkan ia masik anak-anak, menjadi adaptasi penting dalam drama ini. Lanjong menghadirkan perempuan sebagai pembawa pesan.
 
               Ini berbeda dengan naskah Beckett, dimana dunia menunggu Godot; segala yang terkait dengan harapan, pembawa pesan, dan yang datang, sepenuhnya adalah laki-laki.
 
               Secara umum cerita Waiting for Godot mengisahkan dua laki-laki Vladimir dan Estragon, atau nama panggilannya Didi dan Gogo yang menanti Godot di bawah sebatang pohon.
 
               Gogo memakai sepatu boot dan Didi memakai topi bundar. Sampai akhir cerita Godot tidak pernah datang. Mungkin tidak akan.
Selama menunggu mereka melakukan berbagai aktivitas, berdebat, bermain, tidur, saling umpat sampai terakhir melakukan upaya bunuh diri.
 
               Sempat muncul tokoh lain yakni Pozzo dan Lucky yang awalnya diharapkan sebagai Godot, sekalinya bukan.
Dua tokoh itu, yakni majikan dan budak, dimana Lucky meski dipecut, dipanggil babi, dirantai dan mengangkat beban koper dan kursi lipat milik Pozzo akan tetap taat kepada tuannya.
 
               Saya membayangkan kondisi ini dengan negara, jangan-jangan ada pemimpin yang awalnya kehadirannya dianggap simbol harapan, ternyata justru sebaliknya menggunakan kekuasaan secara sembarangan, tidak peduli bencana, mengekang kebebasan berpendapat, kemudian malah tetap dipuja-puji oleh pendukungnya dan para intelektual yang diberi peci jabatan. Jangan-jangan Pozzo yang dimaksud adalah Pozzo Subianto? Sungguh kontoliano!
 
               Keberhasilan Lanjong dalam pementasan kali ini, menurut saya adalah memainkan kesunyian. Kesenyapan yang bisa diinterperasikan macam-macam. Beberapa adegan tanpa music dan suara apa-apa, dua orang duduk seperti putus asa yang menjadi simbol puitis dari menunggu.
 
               Pohon gersang dibuat besar, masih bisa menjatuhkan daun-daun berguguran di bawah sinar lampu yang disorot dari atas. Saya tidak tau apakah sebenarnya pohon kering itu masih hidup, yang diam-diam dalam menunggu ia masih menumbuhkan akar di dalam tanah, atau masih menumbukan tunas yang tersembunyi.
 
               Sebagai tokoh utama ketiga, saya kira pohon itu tidak lagi menjadi symbol keterasingan dan putus asa. Malah dalam pementasan ia bisa dimanfaatkan sebagai alat medis, stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, juga pendukung aktivitas kehidupan lainya seperti bernaung, kencing dan tidur.
 
               Begitu juga ketika tiga lembar plastic turun menjuntai dari atas—saya tidak tau apa maksudnya itu, ketika Didi dan Gogo putus asa, alih-alih mencoba gantung diri di dahan, mereka mencoba bunuh diri dengan membekapkan kepala mereka menggunakan tirai plastic tersebut, yang ini memisahkan pohon dengan upaya cari mati para tokoh.
 
                Ya mungkin ada kritik minor dari saya, bisa jadi disebabkan pemilihan properti. Yaitu saat Gogo kesakitan sebab sepatu boot-nya sempit dan berkali-kali mencoba melepasnya dengan susah payah. Padahal sepatu yang dipakai adalah boot bertali, dan dari sekian upaya kerasnya, tidak ada upaya alami untuk melonggarkan tali sepatunya.
 
               Yang lain, yg menarik bagi saya adalah ketika gadis kecil si pembawa pesan ditanya oleh Didi; “apakah ia (Godot) berjenggot? Gadis itu menjawab; “yaa” meski dengan nada ada keraguan.
 
               Dalam drama ini, Godot tuan-tuan, ia menjelma menjadi sosok. Dan ketika Godot berubah menjadi sesosok seseorang maka ia mestinya bukan sosok yang baik. Bagaimana mungkin jika ia baik tidak terusik hatinya, dengan sengaja membiarkan orang-orang menunggunya lama dan kelaparan. Jelas ia tau ada orang-orang yang menunggunya. Ia mengirim pesan.
 
               Mungkin agar terjadi perubahan-perubahan atas keadaan yang tidak baik itu, orang-orang tidak harus lagi menunggu godot, mereka bisa mencarinya. Untuk dibunuh.
Scroll to Top