Ulasan Pertunjukan Waiting for Godot

Pertunjukan Waiting for Godot

               Pertunjukan Menunggu Godot yang dipresentasikan oleh Lanjong bukanlah perpanjangan tangan dari naskah drama Menunggu Godot yang ditulis oleh Beckett. Lima menit belum berlalu sejak pertunjukan dimulai dan dengan terang benderang kita sebagai penonton akan bisa menemukan pernyataan-pernyataan tegas yang mengarah ke sana. Adegan pembuka yang disuguhkan Lanjong adalah satu upaya yang berani (sekaligus berhasil) untuk menempuh semacam negosiasi dengan teks asal, negosiasi dalam posisi yang setara, untuk selanjutnya melunakkan sekaligus pula merebut teks tersebut menjadi milik Lanjong yang bisa dengan lentur di bawa ke mana-mana di sepanjang pertunjukan. Tak ada sesuatu yang megah atau bombastis di adegan awal tersebut, hanya si bocil utusan yang muncul dan mengenakan sepatu, sebelum kemudian menyampaikan pesan Godot kepada Didi dan Gogo di tengah panggung. Itu bukanlah adegan yang berasal dari teks asal, bahkan, itu adalah adegan yang mencoba melawan (artinya merebut) teks asal tersebut agar menjadi milik Lanjong, atau setidak-tidaknya, bisa dijinakkan oleh Lanjong. Keputusan menghadirkan si bocah utusan di awal, saya kira, adalah keputusan yang sangat cerdas dan berbunyi lantang untuk memberi semacam pondasi bagi keseluruhan pertunjukan, sehingga naskah babon yang terkesan angker ini menjadi terterima, bahkan bagi siapa saja yang tak pernah membaca atau menonton Menunggu Godot sebelumnya. Pada titik inilah, bagi saya, adegan ini pada akhirnya mampu melunakkan teks berat ini. Ia adalah set-up yang sederhana namun manis, tak berlebihan namun efektif. Ia memberi kami sebagai penonton sebuah ancangan untuk bagaimana menyiapkan diri menghadapi pertunjukan ini ke depannya, yakni, peristiwa menunggu sesuatu bernama Godot itu sendiri. Perhatian kepada detail adalah hal vital yang dikerjakan dengan sangat baik. Ketika si bocah memasang sepatu, saya tahu, pertunjukan ini telah berhasil merebut atau menjinakkan teks Beckett. Seperti yang kita ketahui, Godot kerap diasosiakan dengan sepatu berdasarkan pernyataan Beckett sendiri. Dan di naskah aslinya, lakon ini diawali dengan adegan Gogo yang mencoba melepas sepatu. Melalui laku memasang sepatu di bagian pembuka yang dikerjakan oleh si bocah utusan, Lanjong dengan sadar dan cerdas melawan teks aslinya, menghidupkan kembali Beckett hanya untuk mengatakan bahwa “oke, ini sekarang teks yang kami kerjakan, dan kamu duduk diam saja menonton tanpa perlu campur tangan.” Tentu saja saya tak tahu apakah di tempat lain dengan penonton yang lain dan situasi yang lain, keputusan menghadirkan adegan ini di awal akan memberi efek yang serupa.

               Pondasi yang dikerjakan oleh Lanjong tidak berhenti di sepatu itu saja. Laku berlari memutari pohon dengan berbagai macam variasi gerakan yang ditempuh oleh Didi, Gogo, dan si bocil utusan juga merupakan simbol bahwa proses menunggu ini akan berjalan panjang, memutar, nyaris (atau memang) tanpa ujung yang pasti. Namun, alih-alih berhenti, proses itu tetap musti dijalani. Pohon yang meranggas dengan sejumlah dedaunan kering dan sulur-sulur yang menjuntai juga menyarankan nuansa yang kering kerontang, semacam situasi yang tidak nyaman, kondisi yang keras dan menyesakkan – semacam The Waste Land dalam puisi TS Elliot, namun barangkali dengan pengertian yang lain. Pohon inilah, pohon kehidupan yang menuntut kekeraskepalaan untuk menghadapinya inilah, yang dikelilingi oleh tiga orang tadi. Hidup yang barangkali menyedihkan itu, dengan begitu, memang harus dijalani dan ditempuh. Kelak, menjelang pertunjukan berakhir, kadar kesuraman ditingkatkan dengan jatuhnya lembaran-lembaran plastik yang menganggu, yang menambah kadar kesumpekan.

               Dengan pondasi semacam itu, saya kira, pertunjukan akan segera bisa dibawa ke arah mana pun yang dikehendaki Lanjong. Dengan kontrol penuh yang sudah direbut itulah kemudian Lanjong menggeser semua yang ada di Menunggu Godot ke situasi kita hari ini di Indonesia. Tak ada yang ganjil ketika kita melihat si bocah utusan mengenakan seragam anak SD, bagaimana kemudian Didi menyeletuk menyinggung MBG, atau bagaimana Lucky mendapat panggilan babi dan menceracau omong kosong yang sesungguhnya tidak omong kosong, melainkan sentilan kuat terhadap kondisi Indonesia dalam komposisi kata-kata yang acak namun terkendali. Semua ini dikerjakan dengan stamina yang mumpuni oleh para aktor. Intensitas permainan, saya kira, cukup terjaga, kecuali pada kemunculan kedua Lucky dan Pozzo. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Namun, saya merasa ada kekendoran di sana. Atau barangkali itu disebabkan oleh performa yang sangat kuat di kemunculan pertama mereka yang menyebabkan saya, mau tak mau, musti membandingkannya dengan kemunculan mereka yang kedua. Atau barangkali pula kesan ini disebabkan oleh terlalu minimnya peran Lucky di kemunculan kedua ini (untuk tidak menyebutnya sama sekali absen) dan meninggalkan Pozzo sendirian (dalam relasi Lucky-Pozzo yang kuat dan bukan interaksi dengan Didi dan Gogo) bekerja sendirian menghidupkan adegan. Dan lantaran saya tak bisa memberi alasan yang baik inilah, saya kira, ini semata perasaan saya belaka. Dan perasaan, seperti kodratnya, sangat subjektif dan tidak menarik untuk perbincangan yang menuntut elaborasi semacam ini. Jadi, bagian intensitas kemunculan kedua Lucky-Pozzo tak apa pula jika diabaikan.

               Negosiasi yang dikerjakan Lanjong tidak serta merta membuat mereka menghabisi naskah aslinya, sebab jika itu terjadi, maka itu bukanlah negosisasi yang setara. Tilas naskah asli berhamburan di mana-mana, namun dengan penyesuaian yang menyenangkan, yang membuat si naskah asli melebur dalam isu besar yang diangkat oleh Lanjong. Satu detail kecil penting lain berkaitan dengan negosiasi dengan teks asal ini saya temukan menjelang ujung pertunjukan, ialah ketika si bocah utusan kembali datang untuk kedua kalinya, dan ia memanggil-manggil nama Tuan Albert. Keputusan untuk tetap meminjam teks asli dalam penggunaan nama Tuan Albert ini, sekali lagi, adalah keputusan yang cerdas. Seperti yang kita ketahui, si bocah utusan menggunakan nama ini untuk memanggil Didi sebagaimana teks aslinya. Dalam konteks Lanjong, nama Tuan Albert ini akan menimbulkan tafsir yang beragam, tergantung bagaimana penonton memberi penekanan terhadap bentuk pertunjukan itu. Pada sesi santai, saya sempat bertanya kepada Om Ed, siapa Tuan Albert sesungguhnya. Om Ed, sebagai seorang berlatar pendidik yang memberi perhatian besar kepada seragam SD si bocah utusan, menjawab itu adalah Einstein, seorang ilmuwan. Ada korelasi yang jelas antara sekolah (seragam SD) dan sains (Einstein) dan latar Om Ed sebagai pengajar. Saya, sebagai seseorang yang cukup pesimis dan memadang hidup dengan murung, mengatakan bahwa Albert merujuk ke Camus, berdasarkan laku menunggu serupa siklus berputar yang tak pernah berujung. Di hari ini, sewaktu kita semua sudah tahu bahwa Godot tak pernah datang, bahwa Godot bisa berupa Tuhan atau harapan, Lanjong memberikan sesuatu yang lain yang tak tertebak – dalam hal ini nama Albert – yang memberi saya perasaan serupa perasaan orang-orang lebih dari tujuh puluh tahun lalu ketika menonton Menunggu Godot pertama kali dan bertanya-tanya siapa Godot. Begitulah saya dan Om Ed, barangkali, tak lagi penasaran atau berdebat tentang siapa itu Godot dalam pertunjukan Lanjong, namun menggantinya dengan bertanya-tanya siapa Albert meski kami tahu secara harfiah ia adalah panggilan si bocil untuk Didi.

               Fakta lain yang menjadikan pertunjukan ini berharga, sekali lagi, adalah detail-detail kecil yang penting dan mewujud sebagai simbol-simbol yang berbunyi lantang. Simbol sepatu, yang sebelumnya telah dihidupkan oleh si bocil utusan, kemudian diteruskan oleh interaksi antara Didi dan Gogo dengan bagaimana Didi mengangkat kedua kakinya, menunjukkan sepatunya tinggi-tinggi, dan bercakap-cakap seolah sepatu itulah yang sedang bercakap dengan sepatu Gogo. Dengan cara itulah, sekali lagi, Beckett dihidupkan namun tidak dibiarkan mengambil alih sepenuhnya pertunjukan itu. Simbol-simbol lain dengan efektif dan efisien merentang panjang, mulai dari koper, cambuk, anggur, peci, keheningan, lagu latar, permainan lampu, dedaunan yang berjatuhan, lembaran-lembaran plastik, dan seterusnya. Semua muncul dengan wajar. Dan lantaran semua turut menyumbang suara, maka kehadiran mereka adalah sesuatu yang memang dibutuhkan.

               Sisi lain yang patut disyukuri adalah bahwa Menunggu Godot memberitahu saya wajah Lanjong yang lain. Lanjong yang tidak menyelenggarakan semacam “teater tentang teater” sebagaimana sebagian besar pertunjukan mereka. Setelah Lanjong mode Ab Asmarandana dan mode Wawan Soerawan, kini saya tahu ada mode lain yang juga berharga untuk disimak.

               Pada akhir pertunjukan, Arbi, teman saya yang baru pertama menonton pertunjukan Lanjong, berbisik ke telinga saya. “Dua puluh lima ribu terlalu murah untuk pertunjukan sebagus ini.” Dan saya menjawab lirih, “Jika ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan Lanjong, itu adalah memberi kita pertunjukan jelek.”

               Oke. Saya tahu saya akan mulai berlebihan jika saya melanjutkan catatan ini. Hanya akan ada puji-pujian dari awal sampai akhir. Dan saya tahu, teman-teman tidak menyukai itu. jadi, saya cukupkan di sini catatan ini – catatan yang sedari mula didesain untuk konsumsi internal dan bukan untuk dipublikasikan ke khalayak lebih umum.

               Terima kasih.

Scroll to Top