Menunggu Godot sebagai Kebiasaan: Catatan dari Tubuh yang Tidak Pergi (Bagian 1)

Menunggu Godot sebagai Kebiasaan

Jojo Jumansyah

Bagian I

Dari Uji Coba ke Eksekusi

               Saya menonton Sementara Menunggu Godot Teater Lanjong dalam dua versi: uji coba dan pementasan final. Karena itu, malam pementasan bukan datang sebagai kejutan penuh, melainkan sebagai pertemuan ulang dengan sesuatu yang sudah pernah saya lihat  namun berubah.

               Beberapa perubahan terasa langsung di tubuh. Pertunjukan versi final bergerak lebih cepat dalam memperlihatkan niatnya. Hal-hal yang sebelumnya ditahan, kini dimajukan. Anak kecil, yang dalam versi uji coba muncul belakangan, kini hadir sejak awal. Dampaknya terasa jelas: penantian tidak lagi sepenuhnya gelap. Sejak awal, penonton sudah diberi isyarat bahwa ada pesan, ada janji, ada “besok”. Versi uji coba membiarkan saya lebih lama tersesat; versi final seperti lebih ingin memastikan saya tahu ke mana kegelisahan ini akan diarahkan.

               Pozzo dan Lucky juga tidak lagi datang sekali lalu menghilang. Mereka muncul dua kali. Pada kemunculan kedua, Pozzo menjadi buta. Perubahan ini terasa lebih keras daripada sekadar variasi adegan. Dunia di panggung tidak diam. Ia rusak. Tubuh-tubuh menua, fungsi hilang, tapi relasi kuasa tetap berdiri di tempat yang sama. Di versi uji coba, kekerasan Pozzo terasa seperti ledakan. Di versi final, ia menjadi proses yang berulang  lebih pelan, tapi lebih menggerogoti.

               Menonton versi final, saya merasakan pertunjukan yang lebih tertata. Tanda-tanda lebih jelas, arah lebih tegas, dan momen-momen penting lebih disorot. Namun justru di situ muncul rasa kehilangan kecil. Versi uji coba, dengan segala kekasarannya, meninggalkan ruang kosong yang lebih luas. Ruang itu tidak selalu menyenangkan, tapi membuat menunggu terasa lebih mentah dan melelahkan.

               Versi final terasa lebih yakin pada dirinya sendiri. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus menekan, kapan harus berhenti. Tapi keyakinan ini juga membuat beberapa kebuntuan terasa lebih “dikontrol”. Saya sempat bertanya pada diri sendiri: apakah rasa bosan yang kini muncul masih bagian dari pengalaman menunggu, atau hanya karena ketegangan yang tidak lagi dijaga setegang sebelumnya?

               Catatan ini bukan untuk menentukan versi mana yang lebih unggul. Yang jelas, Sementara Menunggu Godot tidak lahir sebagai karya yang beku. Ia bergerak, direvisi, dan diputuskan ulang. Dan sebagai penonton yang melihat dua wajahnya, saya merasa sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang sedang belajar memilih: antara membiarkan kekacauan bekerja apa adanya, atau menatanya agar lebih mudah dibaca  dengan risiko kehilangan sebagian keganasannya.

Bagian II

Menonton dari Dalam Kurungan

               6 Februari 2026, saya menonton Menunggu Godot bukan sebagai penikmat pertunjukan, tapi sebagai tubuh yang dipaksa tinggal. Tidak ada transisi yang ramah. Anak kecil muncul sejak awal, dan sejak itu saya tahu pertunjukan ini tidak ingin memberi jarak aman. Tubuh kecil dengan seragam sekolah dasar itu bukan pembawa harapan; ia adalah beban yang terlalu dini. Masa depan tidak datang sebagai janji, tapi sebagai sesuatu yang sudah terlanjur rusak sebelum sempat tumbuh.

               Ketika Pozzo dan Lucky muncul pertama kali, saya masih mencoba membaca mereka sebagai karakter. Masih ada jarak. Masih ada ilusi bahwa mereka bisa dipahami lewat fungsi dramatik: tuan dan budak, kuasa dan kepatuhan.

               Namun pada kemunculan kedua, semuanya berubah.

               Pozzo kembali dalam keadaan buta dan semakin urakan. Ia kehilangan penglihatan, tapi tidak kehilangan kuasa. Justru sebaliknya: kebutaannya membuat kekerasan terasa lebih liar, lebih acak, dan lebih menakutkan. Kekuasaan yang tidak lagi melihat, tapi tetap memukul, terasa sangat dekat dengan kenyataan yang saya kenal.

               Di saat inilah waktu mulai runtuh di atas panggung. Daun-daun kering berjatuhan perlahan, tanpa sebab yang jelas, menumpuk tanpa pernah dibersihkan. Cahaya berubah  malam bergeser ke siang, lalu kembali gelap  tanpa penanda peristiwa. Tidak ada musim yang benar-benar datang, tidak ada hari yang benar-benar selesai. Waktu memang bergerak, tapi ia bergerak tanpa arah. Ia hanya meninggalkan sisa.

               Daun-daun itu bukan latar puitik. Ia terasa seperti residu dari sesuatu yang sudah lama mati, jatuh satu per satu di tengah tubuh-tubuh yang tetap dipaksa berdiri. Seperti negara yang terus berjalan secara administratif, sementara isinya pelan-pelan gugur dan dibiarkan menumpuk.

               Lucky berbicara cepat, nyaris tanpa napas. Kata-katanya tidak tertata, meloncat, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu di tenggorokan. Tapi di balik kekacauan itu, setiap kalimat terasa tepat sasaran. Ia berbicara tentang kebobrokan Indonesia bukan sebagai analis, melainkan sebagai tubuh yang hancur oleh sistem yang ia layani. Peci hitam di kepalanya tidak memberi legitimasi; ia justru menjadi ironi yang kejam  simbol kehormatan yang dipaksa menempel pada mulut yang dipenuhi dusta dan ketakutan.

               Saya tidak merasa sedang mendengar kritik sosial. Saya merasa sedang menyaksikan ledakan dari sesuatu yang terlalu lama dibungkam. Dan itu membuat saya tidak nyaman, karena ledakan itu tidak datang dari luar, tapi dari dalam struktur yang sama yang selama ini kita percayai.

               Anak SD itu muncul kembali. Pesannya sama, nadanya datar, seolah ia hanya menjalankan tugas. Di titik ini, ia tidak lagi terasa sebagai individu, melainkan sebagai mekanisme. Ia mengulang penundaan yang sama, dengan tubuh yang sama, dengan suara yang belum mengerti maknanya sendiri. Saya tidak marah padanya. Saya marah pada dunia yang membuat anak sekecil itu menjadi kurir kebohongan.

               Menjelang akhir, gulungan plastik perlahan membentuk kurungan. Plastik itu bukan sekadar properti; ia terasa seperti residu. Limbah dari sesuatu yang sudah lama dieksploitasi, digulung, lalu ditinggalkan. Ketika Didi dan Gogo terkurung di dalamnya, saya tidak melihat dua tokoh absurd. Saya melihat tubuh-tubuh yang akhirnya menyadari bahwa ruang menunggu ini tidak pernah netral  ia selalu dibangun oleh sesuatu yang kotor dan tidak bernyawa.

               Keinginan Didi dan Gogo untuk bunuh diri tidak terasa tragis. Ia terasa absurd, konyol, dan menyedihkan sekaligus. Bahkan kematian pun tidak bisa diakses. Tidak ada alat, tidak ada kemampuan, tidak ada keberanian yang benar-benar utuh. Mereka meracau tentang Ibu Pertiwi yang rusak, tentang Indonesia yang runtuh, tentang isu-isu sosial yang datang bertubi-tubi tanpa sempat diproses. Racauan itu tidak terdengar seperti tuntutan, melainkan seperti kelelahan yang akhirnya kehilangan bentuk.

               Saya menyadari bahwa pertunjukan ini tidak ingin menggerakkan saya menuju aksi apa pun. Ia tidak menawarkan jalan keluar, tidak menyusun solusi. Ia hanya menahan saya lebih lama di dalam rasa tidak bisa pergi. Dan justru itu yang membuatnya terasa jujur. Karena dalam hidup sehari-hari, kita jarang benar-benar bergerak; kita hanya berpindah dari satu bentuk penantian ke bentuk penantian lain.

               Ketika lampu padam, saya tidak merasa lega. Saya merasa dilepaskan, tapi bukan dibebaskan. Seperti seseorang yang keluar dari ruang pengap sambil membawa bau busuk yang menempel di pakaian dan tidak bisa dicuci. Menunggu Godot malam itu tidak mengajari saya apa-apa, karena memang tidak ada pelajaran yang ditawarkan. Ia hanya memaksa saya mengakui satu hal yang selama ini saya hindari: bahwa penantian ini tidak berdiri di luar diri saya. Ia saya rawat, saya biarkan, dan kadang saya lindungi atas nama kewarasan. Dan selama saya masih bersedia tinggal di dalamnya, Godot tidak pernah benar-benar terlambat. Ia tepat waktu. Setiap hari.

Scroll to Top