Menunggu Godot sebagai Kebiasaan: Catatan dari Tubuh yang Tidak Pergi (Bagian 2)

Menunggu Godot sebagai Kebiasaan

Jojo Jumansyah

Bagian III

Setelah Menunggu: Ingatan, Sejarah, dan Benda-benda yang Tidak Netral

               Obrolan terjadi setelah pertunjukan usai, ketika tubuh sudah lelah tapi pikiran belum mau berhenti bekerja. Mas Dadang menonton dengan kesadaran penuh  tanpa mabuk, tanpa jarak. Ia mengatakan puas. Puas karena pementasan final terasa rapi, tidak ceroboh, dan tidak ragu pada pilihannya sendiri. Kerapiannya bukan hasil kehati-hatian yang jinak, tapi dari keputusan-keputusan yang jelas arahnya. Baginya, ini pertunjukan yang tahu apa yang ingin disampaikan dan berani menanggung akibatnya.

               Om Ed datang dengan tubuh yang membawa jarak geografis dan waktu. Ia baru saja menempuh perjalanan panjang  sekitar dua puluh jam  dari Banjarmasin ke Tenggarong. Tubuhnya mungkin lelah, tapi ingatannya bekerja. Ia juga merasa puas dengan pertunjukan malam itu, namun kepuasannya tidak berbentuk pernyataan final. Ia justru membuka obrolan lewat sejarah Samuel Beckett sendiri.

               Ia mengingat bagaimana Beckett pernah bersembunyi di ladang milik kakeknya untuk menghindari kejaran Nazi. Sebuah masa menunggu yang nyata, di mana diam adalah strategi bertahan hidup, dan waktu bukan gagasan filosofis, melainkan ancaman. Dari sana, Om Ed berasumsi bahwa pohon yang berdiri sunyi di panggung dapat dibaca sebagai bayangan dari pohon di ladang persembunyian itu. Pohon sebagai tempat berlindung, tapi sekaligus saksi ketakutan. Pohon yang tidak menawarkan jawaban, hanya keteduhan sementara di tengah ancaman yang tidak selesai.

               Dari pohon, obrolan bergeser ke benda-benda lain yang memenuhi panggung. Sepatu Estragon, misalnya. Om Ed mengaku terakhir kali membaca Waiting for Godot sekitar tahun 1997, dan ingatannya tentang detail naskah sudah kabur. Ia bertanya dengan jujur: apakah dalam teks asli sepatu itu memiliki penanda tertentu  merek, bentuk, atau detail khusus. Pertanyaan itu lahir dari lupa, bukan dari keinginan mengoreksi.

               Pertanyaan itu justru membuka pemahaman lain. Dalam pementasan ini, sepatu tidak lagi berfungsi sebagai detail realis, melainkan sebagai beban yang terus dipakai. Sepatu yang melukai, tapi tidak pernah benar-benar dilepas. Ia sejajar dengan tas yang dibawa  wadah kosong yang terus dipanggul, rantai yang mengikat Lucky, cambuk yang mengatur ritme kekerasan, dan pkaian sekolah dasar yang dikenakan anak kecil sejak awal pertunjukan.

               Semua benda itu tidak berdiri sendiri. Mereka membentuk satu lanskap penantian yang konkret. Rantai dan cambuk adalah bahasa kuasa yang telanjang. Sepatu dan tas adalah beban yang dinormalisasi. Pakaian SD adalah masa depan yang dipaksa masuk ke dalam mekanisme penundaan sebelum sempat memahami apa yang sedang ia bawa. Dan pohon  seperti dalam pengalaman Beckett  menjadi saksi bisu bahwa penantian bukan kondisi netral, melainkan situasi yang dibentuk oleh ancaman sejarah.

               Mas Dadang menanggapi semua dengan tidak mencoba menarik kembali simbol ke teks asli. Ia justru menegaskan bahwa pementasan ini memang memilih untuk membiarkan benda-benda itu kotor oleh konteks hari ini. Indonesia hari ini. Tempat di mana penantian diwariskan, dilatih sejak kecil, dan dijaga lewat simbol-simbol yang tampak biasa.

               Obrolan itu tidak ditutup dengan kesimpulan. Tidak ada upaya menyatukan tafsir. Tapi justru di situ terasa bahwa pertunjukan ini bekerja. Ia tidak berhenti sebagai peristiwa estetis, melainkan menjelma medan ingatan  tentang Beckett yang bersembunyi di ladang, tentang pohon yang berdiri di panggung, tentang sepatu yang melukai, rantai yang menjerat, cambuk yang mengatur, dan seragam sekolah dasar yang terlalu cepat dipaksa memahami penantian. Semua itu menyatu dalam satu kesadaran, vbahwa menunggu bukanlah keadaan kosong, melainkan sejarah yang terus berlangsung, dan benda-benda di sekitar kita adalah saksi sekaligus alatnya.

Penutup

               Pada akhirnya, Menunggu Godot versi Teater Lanjong tidak meminta saya memahami apa pun dengan lebih baik. Ia hanya memaksa saya tinggal lebih lama di dalam sesuatu yang selama ini saya kenal, tapi jarang saya akui. Penantian itu bukan ruang kosong. Ia dipenuhi benda, tubuh, dan sejarah.

               Pohon yang berdiri di panggung tidak lagi terasa sebagai simbol abstrak. Ia membawa ingatan tentang ladang persembunyian Beckett  tentang menunggu sebagai strategi bertahan hidup di bawah ancaman nyata. Tapi di sini, di Indonesia hari ini, pohon itu berdiri tanpa perlindungan. Ia hanya menjadi penanda bahwa waktu berjalan, daun gugur, siang dan malam berganti, sementara ancaman tidak pernah benar-benar pergi.

               Sepatu yang melukai kaki, tas yang terus dipanggul meski kosong, rantai dan cambuk yang mengatur tubuh lain, serta pakaian sekolah dasar yang dikenakan anak kecil sejak awal pertunjukan  semuanya membentuk satu lanskap yang tidak netral. Benda-benda itu mengajarkan satu hal yang sama: bahwa penantian dilatih, diwariskan, dan dinormalkan. Sejak kecil, kita diajari membawa beban sebelum memahami maknanya. Kita diajari bertahan sebelum diajari memilih.

               Godot, dalam pertunjukan ini, bukan sosok yang ditunggu. Ia adalah mekanisme yang membuat penantian terus brjalan. Ia hadir dalam janji yang ditunda, dalam kekerasan yang dilegalkan, dalam simbol-simbol yang tampak biasa tapi terus melukai. Godot adalah alasan yang kita rawat agar hari ini tidak perlu diselesaikan.

               Ketika pertunjukan berakhir, saya tidak membawa pulang jawaban. Saya membawa pulang posisi. Bahwa menunggu, dalam konteks ini, bukan nasib yang jatuh dari langit, melainkan kebiasaan yang dipelihara bersama. Dan selama kita masih menyebut kebiasaan itu sebagai kewarasan, Godot tidak akan pernah benar-benar absen. Ia akan terus datang  tidak sebagai harapan, melainkan sebagai penundaan yang kita izinkan terjadi setiap hari.

Scroll to Top