Habateti : Museum Arsip dalam Tiga Bagian

Museum Arsip dalam Tiga Bagian

I

               Tema besar Lanjong Art Festival tahun 2025, Habis Barat Terbitlah Timur, kurang lebih bisa dibaca dengan cara lain, yakni tubuh dan diri sebagai semacam museum arsip. Kalau kita berkenan membaca penjelasan tema tersebut, kita akan menemukan bahwa tema itu, pada hakikatnya, adalah ajakan untuk berjalan ke dalam diri dan ke luar, ajakan untuk memeriksa lapisan-lapisan yang membentuk diri kita, lapisan-lapisan yang berasal dari berbagai macam pengalaman, pengetahuan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Lapisan-lapisan itulah yang saya maksud sebagai arsip, dan diri serta tubuh kita sebagai lokus bersemayamnya arsip adalah museum. Namun ia adalah museum yang aktif, alih-alih ruang beku dan dingin yang mengesankan kesingunan dan kesilaman yang pasif. Dan sebab ia aktif, maka ia terus bergerak, terus berpikir, dengan basis arsip-arsip yang melekat dan tak bisa dipisahkan darinya.

                Museum arsip tersebut kemudian menemukan pengejewantahannya secara elegan dalam pementasan Teater Satu Lampung, Panggung Terakhir, pada tanggal 23 Agustus 2025 di Amphiteater Ladaya, Tenggarong, Kalimantan Timur.

               Hujan yang membasahi Ladaya semenjak siang membuat rangkaian acara malam kedua LAF molor hingga pukul 21.00 WITA. Teater Satu, yang dijadwalkan sebagai penampil terakhir pada hari itu, baru bisa memulai pertunjukannya pada pukul 23.40 WITA. Kondisi inilah yang membuat pementasan tersebut, pada akhirnya, tidak hanya berurusan dengan keterampilan atau gagasan, melainkan juga energi yang telah terkuras. Namun, agaknya, energi dari para pemain jauh lebih besar ketimbang energi saya sebagai penonton.

                 Dengan tubuh teramat payah, saya teronggok di gazebo kecil, di atas bangku-bangku tribun amphiteater, dengan harapan bakal bisa menyaksikan pertunjukan dari sudut tinggi untuk bisa menangkap keseluruhan lanskap.

               Bersamaan dengan cahaya pertama yang jatuh menyinari panggung, dengan segera pula saya menyadari bahwa ini akan menjadi pertunjukan yang “berat”. Garis segitiga kuning di lantai, dengan seonggok kursi di masing-masing sudut yang terselimuti oleh kain merah, abu-abu, dan putih, terus menerus memaksa saya untuk berpikir dan menafsir – sekaligus pada waktu bersamaan terus menerus menjauhkan saya dari upaya sekadar “menikmati” pertunjukan.

               Kenapa segitiga? Kenapa warna-warna itu yang dipilih? Kenapa semua pemerannya adalah perempuan? Kenapa ada sapu? Kenapa para aktor tak pernah bergerak lebih jauh meninggalkan bidang segitiga itu?

                Kenapa energi saya – seorang lelaki di awal 40-an – tak cukup kuat sementara empat perempuan di panggung bermain dengan intensitas dan energi yang terjaga dari awal sampai akhir pertunjukan, tak kurang dari satu setengah jam lamanya?

                Maskulinitas dalam diri saya seakan dilucuti pelan-pelan. Alih-alih berada di Amphiteater Ladaya, salah satu arsip dalam museum tubuh saya aktif, membawa pikiran saya kembali ke tempat asal saya di Mojokerto, Jawa Timur, bertemu ibu saya, perempuan yang musti menghidupi dirinya sendiri sejak SD, yang tak lelah-lelah merawat tiga anak, yang terus dengan tabah bekerja hingga hari ini – singkatnya, perempuan dengan energi yang terus memancar sepanjang hidup.

               Saya menangis menyadari kelemahan saya malam itu. Pada waktu yang bersamaan, selembar arsip ditambahkan dalam museum arsip pribadi saya. Arsip yang masih begitu keruh dan agaknya belum bisa dibaca. Saya tahu, bakal butuh jeda waktu untuk kembali menengoknya, untuk bisa menyigi apa-apa yang dikandungnya.

II

                Hadirin sekalian, sebelum pertunjukan dimulai, izinkan saya membacakan sebuah teks. Baragkali bahasa atau pengetahuan pada akhirnya hanya mengantarkan manusia pada situasi yang serba tak pasti. Terlempar di antara sekian banyak persilangan narasi dan wacana-wacana besar yang sulit dipatahkan, namun tak satupun bisa mendapatkan jawaban final tentang ada dan kemengadaan manusia di dunia yang tak terperikan ini. Manusia seperti terlontar dalam jagad tanpa gravitasi, tanpa sebuah pusat yang bisa membuatnya tentram memandang diri dan kenyataan-kenyataan. Segalanya mengabu dan tak berujung. Situasi ini bisa menggairahkan bagi para penyuka wacana posmodernis. Ia mendedel tubuh pengetahuan yang tersusun berabad-abad, membeset kulitnya, membedah daging, meremukkan tulang belulang, menjelajahi hingga sel-sel yang sekian lama menjadi tempat bersemayam segala jenis pengetahuan, dan tak menemukan inti, sebentuk nilai atau makna yang pasti. Tubuh pengetahuan terurai menjadi bagian-bagian terkecil dan masing-masing berhak menegaskan diri sebagai entitas yang otonom dan mampu menentukan kebenarannya sendiri, terlepas dari semua kategori dan definisi yang tunggal dan baku. Upaya manusia sepanjang usia peradaban untuk membangun lalu mempertanyakan logos ini menyimpan ironinya sendiri. manusia berusaha untuk bukan sekadar mengerti dan memahami hakikat kenyataan hingga ke lapisan-lapisan yang paling dalam, melainkan ingin sekali percaya bahwa hidup dan segala sesuatu yang ada di dalamnya memang punya arah dan makna yang tak terbantahkan.

               (Lalu sebuah interupsi dari tiga perempuan yang mengacungkan sapu, yang mempertanyakan mengapa mereka tidak diajak bermusyawarah. Dan si narator – orang yang membacakan teks ini – mengatakan tak ada gunanya mengajak mereka bermusyarawah sebab mereka tidak memiliki pengetahuan tentang narasi yang tengah dibacakan.)

               Begitulah interupsi selalu terjadi, bahkan setelah beragam ideologi, filsafat, sains, seni, dan spiritual timbul tenggelam silih berganti mengubah-ngubah wajah peradaban hingga saat ini. Demikianlah saya memasuki medan penjelajahan tematik yang demikian luas bercecabang bersilangan, tersebar dalam struktur lakon yang diam-diam telah menjalin hubungan gelap dengan teks-teks di luar dirinya. Sebuah perselingkuhan narasi yang melahirkan anak-anak haram yang tak memiliki ibu bapak kandungnya sendiri. Sesekali saya merasa diseret dan terdampar di sana sambil merasa nonsens. Kadang iya, teks-teks itu demikian menantang dan mengganggu untuk dikenali lalu saya terjebak dalam jaringan tanda yang tanpa tepi, suatu sirkuit tanpa arah. Sebuah teks yang berusaha membikin dirinya menjadi drama. Dan pada saat yang bersamaan, menolak drama. Sejak adegan pembuka, jika adegan itu memang ada, para karakter dalam pertunjukan ini sudah dihadang rasa gamang, dengan cara bagaimana harus memulai semuanya. Kisah yang ingin mereka sampaikan belum lagi rampung sebagai cerita. Tokoh yang akan mereka perankan hanyalah subjek dan terus menerus terpecah oleh ketakandalan pengetahuan yang bekerja menyusun cerita. Anda akan diajak masuk ke dalam labirin, dan mungkin akan dibiarkan terlantar di sana sebab memang tak ada jawaban yang bisa sahih. Mereka, tokoh-tokoh itu, dipaksa untuk memberi titik  pada dirinya, sebuah akhir yang final, meski mereka sendiri tidak begitu yakin dengan akhir itu. Ya, mereka masih saja bersikeras untuk menjadikan drama ini sebuah cermin dan di depan cermin. Setiap orang bisa bertanya manakah yang nyata dan ilusi, yang memandang atau yang dipandang, manakah yang riil manakah yang ilusi, yang berdiri di depan cermin atau bayangan di dalam cermin. Tegangan atau tarik menarik dalam perdebatan yang khas bersifat filosofis ini disudahi dalam tradisi spiritualisme, diidentifikasikan sebagai sadar, sebuah problem filosofis yang tak gampang terpecahkan itu dipindahkan ke ranah spiritualisme mistisisme timur. Inilah patos metafisik yang telah diharapkan memberi jawaban. Di sisi lain ia seperti kumparan yang tak berhenti memutar ulang kecemasan itu, rasa sakit dan kesepian itu. Akhirnya, setiap tokoh dalam lakon ini terambing dan pecah oleh ketak-andalan pengetahuan dalam memahami realitas. Tapi tampaknya mereka memang amat keras kepala, tak mau cepat sudah. Mereka masih memberi perlawanan, menolak menjadi ada yang terlempar seperti segenggam pasir yang dilemparkan begitu saja ke ruang kosong. Tegangan antara filsafat sebagai patos metafisik dan spiritualisme yang cemas tampaknya menjadi tenaga yang amat besar dalam lakon ini. Saya katakan spiritualisme yang cemas sebab ia tak dihadirkan sebagai jalan keluar yang aman dan menenangkan, melainkan sebagai metanarasi yang juga membangun kontradiksinya sendiri dalam memecahkan kebenaran realitas. Namun betapa pun boyaknya realitas dan betapa pun goyahnya sebuah kebenaran, bagaimana pun ia bisa menjadi ada yang menyimak jejak dalam disusuri untuk sampai ke peng-ada yang berdiri sendiri, yang tak membutuhkan peng-ada lainnya. Sebuah jejak yang barangkali serba samar namun barangkali masih tetap berarti bagi mereka yang merawat rindu pada yang sejati. Apa boleh buat, kita harus memulai perjalanan dan cerita ini dari situasi bingung menuju akhir yang pasti supaya cerita ini, hidup ini, dunia ini, masuk akal untuk dijalani, sebab kita harus sembuh dari kematian. Selamat terlantar dalam lakon ini.

III

               Bagian kedua museum ini adalah arsip dari teks yang dibacakan oleh narator Panggung Terakhir, yang saya transkrip utuh-utuh pada tanggal 25 Agustus dari video pementasan Teater Satu Lampung dalam gelaran Lanjong Art Festival 2025 dan bisa diakses di Youtube pemerintah kabupaten Kutai Kartanegara. Rentang waktu dari pementasan ke penyimakan ulang video pertunjukan Panggung Terakhir adalah jeda yang saya butuhkan untuk mempersiapkan satu bidang khusus dalam museum arsip pribadi saya, satu bidang yang saya perlukan agar bisa melakukan pembacaan dengan lebih jernih, meski itu membawa konsekuensi tertentu. Teater selalu bersifat kini dan di sini. Dengan menonton video pertunjukan, ada lapisan-lapisan yang terkikis. Sayangnya, dengan segala keterbatasan yang melekat pada diri saya, hal itu tak mampu saya hindari.

Si narator Panggung Terakhir tersebut muncul pada bagian awal pertunjukan dengan kertas di tangan. Ia membaca dengan artikulasi yang jelas dan intonasi yang pas. Pada mulanya, saya kira, ia tengah memberikan semacam pondasi bagi pertunjukan. Namun agaknya saya keliru. Ketimbang pondasi, saya kira, dengan kehadiran teks tersebut, Teater Satu sesungguhnya telah menyediakan jalan masuk lempang berikut rute lorong dan pintu keluar bagi siapa pun ke semesta pertunjukannya, semacam peta dengan legenda terlampau detail, sekaligus pada waktu bersamaan, membuat si pertunjukan bekerja dua kali dalam kurun waktu yang sama. Pertunjukan itu mengulang dirinya sendiri, pertama dalam bentuk teks yang dilisankan tersebut, dan yang kedua dalam laku pertunjukan. Barangkali ini adalah sesuatu yang lewah, barangkali pula akan ada yang berpikir kenapa teks tersebut harus dihadirkan seakan-akan para penonton tidak akan cukup paham isi pertunjukan tanpa penjelasan gamblang macam itu, atau barangkali pula langkah ini diambil untuk memastikan resepsi penonton bakal sama dengan yang dimaksudkan pencipta. Namun yang jelas, bagi saya, teks itu adalah satu arsip yang berguna untuk memahami si pertunjukan – salah satu arsip belaka dari sekian kemungkinan arsip yang lain.

Saya percaya, sebuah pertunjukan teater, sama halnya dengan novel atau puisi, memiliki apa yang disebut Ignas Kleden sebagai otonomi semantik, yang bisa saja berbeda dengan maksud si pencipta. Kehadiran teks awal yang dibacakan oleh si narator dalam Panggung Terakhir, bagi saya terdengar seperti maksud si pencipta (meski saya tidak tahu apakah itu maksud Iswadi Pratama dan Vita Oktaviana sebagai penulis lakon, atau Iswadi Pratama sebagai sutradara, atau dua “maksud” tersebut memang sejalan). Sebagai satu cara masuk, teks tersebut tentu saja berterima dan menjadi bagian dari satu arsip pribadi saya sebagai penonton. Namun, saya juga tergoda untuk menambah satu arsip lain, satu arsip yang mencoba membebaskan diri dari maksud si pencipta. Pada titik itu, saya mengira mesti memutuskan sendiri dari mana pertunjukan tersebut bermula. Dan begitulah saya mengambil suara sirine pertama sebagai pijakan pembukaan pertunjukan. Suara sirine tersebut bertanding dengan gumaman tiga aktor di atas panggung, terdengar serupa dengungan samar di kuping saya, persis seusai si narator menghilang dari luas panggung yang dipersempit oleh bidang segitiga kuning.

Mereka berdebat tentang menerima atau tidak tawaran naik panggung komersil untuk proyek picisan. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa sekarang orang lebih tertarik dengan segala hal instan, kepopuleran, dan hal-hal semacam itu. Mereka menyinggung para selebriti yang lebih tertarik jadi anggota dewan sebab tunjangan yang besar tanpa perlu kapasitas. Mereka menyebut nama-nama kanon dari khazanah teater Barat, dimulai dari Hamlet dan terus bergulir. Dalam taraf tertentu, mereka seakan sedang mengancang satu laku yang khas gatekeeper atau penjaga gerbang keadiluhungan teater. Mereka bicara tentang  pentingnya membaca naskah atau teks meski mereka tidak akan mementaskannya. Mereka juga mengatakan bahwa mereka mestinya terbuka pada setiap gagasan, yang dengan demikian meluruhkan etos si penjaga gerbang. Lapisan-lapisan ketegangan mulai bekerja sejak awal, dimulai dari perdebatan tentang tawaran peran tersebut, lantas beranjak ke hal yang lebih halus namun substansial melalui peluruhan peran-peran gatekeeper.

Ketegangan-ketegangan tersebut, sesungguhnya, ditenagai oleh tawaran peran yang mereka terima, yakni tentang seorang seniman yang mati lalu menjadi hantu. Mereka berdebat tentang jumlah penonton, naskah bagus dengan penonton sepi atau naskah picisan dengan uang yang banyak.

 Mereka mengenang masa lalu, sewaktu mereka masihlah berlaku sebagai penonton di tempat duduk paling belakang, menatap takzim pertunjukan, di kota kecil yang tidak bagus ekosistemnya, lalu menjadi seniman yang disukai masyarakat, tapi dibenci seniman lainnya, lalu menjadi tua dan hanya mampu memainkan peran-peran kecil untuk bertahan hidup. Dan begitulah kita tahu bagaimana anatomi tulang punggung yang membentuk alur pertunjukan ini dengan lebih jelas, yakni, seorang aktor tua tanpa popularitas yang mendapat tawaran untuk bermain dalam pertunjukan picisan, namun dengan iming-iming popularitas dan uang yang banyak. Satu pertarungan klasik antara idealisme dan pasar, antara “seni tinggi” dan “seni populer”, antara “yang adiluhung” dan “yang massal”. Nantinya, setiap kali saya melihat sapu digerakkan di atas panggung, setiap kali itu pula saya berpikir bahwa para tokoh itu sedang bernegosiasi, upaya-upaya membersihkan jalan menuju ke satu permufakatan, meski itu tak kunjung tuntas sebab mereka, toh, pada kenyataannya, masihlah terus mengulang perdebatan.

Dengan begitu, melalui perdebatan-perdebatan yang mereka selenggarakan, kita bisa berpikir bahwa tiga karakter yang berada di atas panggung, tak lebih dan tak kurang, adalah tiga karakter dalam diri satu orang. Bidang segitiga kuning di atas panggung, lantas menggiring pikiran kita pada konsep id, ego, dan superego dari teori psikoanalisis Sigmund Freud. Dan karena itu pula, agaknya, yang menyebabkan mereka semua tak pernah bergerak terlalu jauh dari bidang segitiga tersebut, seakan ada magnet yang terus menarik mereka ke bidang itu. Sebab, jika mereka dengan lancang meninggalkan bidang segitiga tersebut, maka itu artinya mereka sedang keluar dari diri mereka sendiri dan menjadi entah apa di luar sana. Freud sendiri agaknya tidak pernah membicarakan warna secara khusus, namun, tokoh psikoanalisis yang lain, Carl Gustav Jung, memberi penekanan simbolisme warna dalam mimpi. Warna kuning sering terkait dengan kesadaran, intelek, energi vital, serta proses individuasi atau transformasi diri menuju keutuhan. Dalam mimpi, kuning bisa pula merepresentasikan pencarian makna hidup atau penerangan batin, meski bisa juga melambangkan kecemasan berlebih, kepalsusan, atau iri hati. Dalam tradisi Hindhu, kuning berhubungan dengan apa yang disebut sebagai manipura chakra atau solar plexus atau pusat energi pribadi yang berarti kekuatan diri, kemauan, vitalitas, identitas, dan kepercayaan diri. Dalam tradisi Buddhisme, jubah biksu kerap kali berwarna kuning atau safron yang melambangkan kerendahan hati, pencerahan, dan pelepasan duniawi. Segitiga berwarna kuning yang mengikat si id, ego, dan superego dalam Panggung Terakhir lantas terdengar berbicara tentang itu semua, yakni kuning dalam psikoanalisis Jung, dalam konsep Hindhu, serta Buddhisme, terlebih tentang individuasi, identitas, serta pencerahan. Perdebatan di antara mereka bertiga adalah proses menuju (atau menemukan atau mencapai) itu semua. Dengan model pembacaan semacam itu, maka warna merah, putih, dan abu-abu yang menyelimuti masing-masing kursi di tiap titik bidang segitiga juga menuntut pembacaan yang bukan persoalan artistik belaka. Warna merah kerap dikaitkan dengan energi dan vitalitas, emosi yang intens yang melambangkan cinta, gairah, serta amarah. Warna merah juga terbukti bisa menaikkan detak jantung, membuat orang merasa lebih aktif, waspada, bahkan agresif. Dalam laku spiritual Jawa, yakni Papat Kiblat Limo Pancer, warna merah melambangkan arah selatan, kerap dihubungkan dengan Dewa Brahma, memiliki unsur api yang berani, agresif, dinamis, dan penuh hawa nafsu. Dalam pewayangan, warna merah kadang melekat pada tokoh keras kepala atau raksasa. Putih, di sisi lain, melambangkan kesucian, kemurnian, kebersihan, kejelasan pikiran. Dalam kosmologi Jawa, ia menunjuk arah Timur yang menandakan kesucian batin dan kejujuran. Abu-abu, di sisi lain, melambangkan ambiguitas serta kompromi. Ia juga bisa berarti kedewasaan sekaligus keragu-raguan. Meski tidak secara jelas muncul dalam filsafat Jawa, namun secara simbolis, lantaran posisinya yang berada di antara putih dan hitam, ia kerap dipandang sebagai laku tengah atau jalan bijak. Tiga warna yang membungkus masing-masing kursi itu, dengan demikian, bisa pula diterjemahkan sebagai penguat dari konsep ego, id, dan superego dalam psikoanalisis Freud yang diwakili oleh para aktor Panggung Terakhir.

Salah satu dari para aktor tersebut, yang bersikeras menerima tawaran peran tersebut, barangkali adalah si id, bagian paling dasar dari kepribadian yang bekerja berdasarkan prinsip kesenangan semata, dipenuhi dorongan instingtif, kebutuhan biologis, dan nafsu yang tidak mengenal logika, moral, atau realitas sosial. Sementara ia yang mati-matian menolak tawaran tersebut, yang terus mengenang karakter-karakter kanon nan adiluhung yang pernah mereka mainkan, mungkin saja adalah si superego, si bagian moral dari kepribadian yang menginternalisasi aturan, norma, dan nilai dari orangtua serta masyarakat, dan memberi rasa bersalah atas pelanggaran nilai serta mengganjar rasa bangga atas kesesuaian tindakan dengan moral. Dan yang lain, si yang duduk di titik tengah panggung, kemungkinan adalah si ego, sisi rasional dari kepribadian yang bekerja berdasarkan prinsip realitas serta mengambil peran sebagai penengah antara tuntutan id, nilai-nilai superego, dan kenyataan di luar, juga mengambil keputusan yang paling realistis dan bisa diterima.

Dalam Panggung Terakhir, konsep psikoanalisis tersebut sesungguhnya tidak dibiarkan menjadi konsep psikoanalisis semata, melainkan terus-menerus ditarik ke koleksi arsip yang ada pada diri mereka. Dengan cara begitu, nilai-nilai yang disampaikan oleh si superego, misalnya, adalah aktivasi peran-peran yang pernah mereka mainkan. Si superego berkata, bahwa ia ingin menjadi ia, orang yang pernah memainkan Antigone, berjuang sendiri menghadapi seluruh Athena tanpa pedang dan tanpa dewa; jadi Ophelius yang memilih mati demi orang yang ia cintai; jadi Antigone yang membimbing ayah yang buta kembali ke Thebes, perempan yang menuntut balas untuk semua bencana dan ketidakadilan, yang berjalan ke tiang gantungan dengan mata yang tak pernah tunduk, yang menanggung semua penderitaan hingga tak ada orang lain yang akan menanggung akibatnya.

Model yang serupa dipekerjakan pula pada si id, yang terus menerus menghidupkan Goneril dari semesta Raja Lear. Pada satu titik ekstrim, si id mengatakan bahwa ia puas menjadi mesin, sebab sejak lahir bahasa yang ia dengar adalah bahasa ayah dan air susu yang ia hirup adalah hasrat untuk memiliki. Dengan sangat halus, isu diseret ke wilayah patriarki. Isu yang kemudian direspon dengan manis oleh si superego yang mengatakan bahwa kakinya, kaki Antigone, adalah kaki yang paling kuat menanggung perjalanan.

Dialog ini memanggil kembali arsip dalam diri saya yang sudah saya letakkan di bagian I museum arsip ini, yakni tentang maskulinitas yang luruh dan energi besar dari Panggung Terakhir yang digerakkan oleh kaki-kaki Antigone. Tegangan-tegangan dengan model semacam ini, sesungguhnya, terus berlangsung selama lebih dari satu setengah jam pertunjukan dengan beragam variasi dan jalan masuk, menambah lapisan-lapisan dalam pertunjukan yang kian lama kian kompleks  — dan dengan begitu, mempertebal museum arsip yang sedari awal sudah tebal.

Dari Antigone, mereka bergerak cepat ke Palestina, menyinggung Isa yang berkata Eli, Eli lama sabakhtani, menyebut Husen yang ditinggalkan di Padang Karbala, Amir Hamzah, dan seterusnya. Secara lugas, inilah pengejewantahan tema Habis Barat Terbitlah Timur, dengan jalan menggunakan nama-nama besar dari kawasan-kawasan tersebut – awalnya adalah nama-nama yang berkelitkelindan di kebudayaan Barat, lantas merembet ke nama-nama yang berkeliaran di khazanah Timur.

Di tengah pertunjukan, si narator yang lama menghilang, kembali muncul untuk menyobek buku di tengah panggung, lalu berkata: aku hanya ingin jadi manusia seperti yang pernah ada. Interupsi ini menjadi penting, sebab kemudian, setelah si narator (apakah ia si diri yang sesungguhnya, si museum yang menjadi habitat bagi tiga karakter yang terus-menerus berdebat di tengah panggung?) menghilang, tiga karakter yang tersisa di atas panggung, yang merupakan tiga struktur kepribadian manusia tersebut, kembali berdebat. Mereka berteriak ingin sembuh dari kematian. Ada kode-kode yang agaknya terhubung antara “manusia yang pernah ada” dan “sembuh dari kematian” – seakan-akan kematian adalah sesuatu yang bisa disembuhkan untuk menuju si manusia yang pernah ada tersebut. Lalu lampu mati dan ketika kembali menyala, mereka bicara dalam logat Jawa yang medok dengan menggunakana bahasa campuran antara Jawa dan Indonesia, bicara tentang bibir dan dubur yang gatal, dan pengobatan dengan getah nangka. Sulit sekali untuk tidak mengatakan bahwa “sembuh dari kematian” berarti pula kelahiran kembali setelah mengalami mati, dan “manusia yang pernah ada” adalah manusia-manusia yang muncul di bagian ini, manusia yang lahir dan besar di Timur, namun kemudian mengenyam dan meresapi ilmu pengetahuan Barat. Manusia-manusia yang pernah ada itu kini adalah manusia yang membawa nilai-nilai Timur, nilai-nilai yang dengan jelas terlihat dari logat dan langgam bicara mereka, menyusul kata-kata seperti mantra, mazmur, seruling Daud, dan lain sebagainya. Timur pada bagian ini adalah Timur yang bukan lagi simbol seperti deretan nama-nama, namun juga pengetahuan (misal, metode pengobatan dubur yang gatal) dan cara berbicara, dengan kata lain, sesuatu yang lebih dalam, lebih substansial.

Dengan diri yang “baru” tersebut, mereka lantas kembali bicara tentang tawaran peran yang mereka terima, dan berdebat dengan intensitas yang tidak setinggi sebelumnya. Sopan santun ala Timur, agaknya, mengambil peran dalam tingkat intensitas perdebatan ini. Perdebatan yang lahir sebagai akibat dari pertentangan antara yang idealis dan yang populer, yang adiluhung dan yang massal, kembali mengemuka untuk menebalkan apa yang sebelumnya sudah disampaikan, namun dengan cara yang berlainan.

“Kemana pun pergi ia hanya bertemu dengan pasar dan satu-satunya yang terjadi adalah transaksi. Peradaban hanyalah cara menjadi binatang yang paling agung di antara binatang lainnya,” kata salah satu dari mereka. Keseluruhan pertunjukan ini (atau naskah pertunjukan ini) dibangun dari kalimat-kalimat semacam ini, kalimat-kalimat dengan metafora yang solid dan segar, yang membuat si pertunjukan terasa puitis dan sublim, sekaligus membuka dirinya sendiri untuk banyak sekali kemungkinan tafsir yang lain.

Nama-nama besar dari berbagai khazanah kembali disebutkan. Antigone, Ophelia, Goneril, Siti Hawa, Siti Khadijah – peran-peran yang pernah mereka mainkan sebelumnya disebut dalam satu helaan napas, dengan urutan dari Barat ke Timur, semakin menegaskan apa yang ingin mereka sampaikan tentang konsep Habis Barat Terbitlah Timur.

Selanjutnya, mereka mengatakan masih sanggup jadi Ophelia, Kunti, Drupadi, seakan memaklumatkan bahwa Barat dan Timur bukan semata arsip yang tertinggal dalam diri mereka, namun juga masa depan yang hendak mereka jelang. Penyebutan nama-nama dari deretan karakter yang pernah  mereka mainkan ini juga membawa ingatan saya pada apa yang pernah dikatakan oleh Malraux, yakni hati seorang pemuda (dalam arti seorang seniman muda) ialah kuburan dengan seribu nama seniman yang terpahat di dalamnya, namun, hanya beberapa hantu saja di antara yang sekian itu, yang sungguh-sungguh menghuni, dan saling bertentangan dalam diri si seniman muda. Hanya saja, tak ada kuburan dalam Panggung Terakhir, melainkan museum, seperti yang saya sebut sebelumnya, dan museum itu adalah sesuatu yang sangat gemar mengaktifkan arsip-arsipnya, yakni, peran-peran yang pernah mereka mainkan sebelumnya.

Pada akhirnya, tiga orang di atas panggung menyadari bahwa bagaimana pun, deretan tokoh-tokoh yang mereka sebutkan dan pernah mereka perankan bukanlah diri mereka sesungguhnya. Itu semua semata arsip dalam diri, yang membentuk mereka, mempengaruhi cara mereka berpikir. Salah satu dari mereka berkata, “Akulah si Siti. Aku memang tidak penting, tidak pernah dikisakan dalam kisah lelaki manapun.”

Namun sesungguhnya, mereka tak perlu lelaki mana pun untuk mengisahkan mereka. Sebab mereka telah mengisahkan diri mereka sendiri, mengisahkan dengan sangat kuat, bahkan. Diri yang sesungguhnya satu belaka. Meski, ucapan ini bisa juga dibaca sebagai sebuah penyerahan diri, pengikhlasan total, yang kemudian mengarah kepada sesuatu yang spiritual (atau relijius) pada akhirnya, sesuatu yang barangkali lebih kuat berdengung di Timur ketimbang Barat hari ini.

Penyerahan diri ini terasa kian tebal ketika kemudian mereka bicara tentang Tuhan. Bahwa sejak lama Tuhan tidak dilibatkan dalam banyak urusan kecuali dalam kondisi terdesak. Mereka berkali-kali menyebut Nietsche, dan dalam kondisi ini, penyebutan nama itu menjadi relevan mengingat Niestche adalah orang yang pernah mengumumkan kematian Tuhan. Upaya mengabaikan Tuhan, seperti yang telah banyak dikerjakan oleh para filsuf semenjak dulu, adalah upaya yang tidak berpengaruh apa-apa terhadap Tuhan.

Si narator, sebagai si diri yang utuh, kemudian muncul kembali untuk mendamaikan tiga struktur kepribadian dalam dirinya. Dalam koor, mereka berempat, satu suara, bersenandung “Beratus tahun mengembara. Beratus tahun bertanya. Dan tak sampai-sampai.”

Suara sirine muncul lagi, dan si diri yang utuh mulai mempertanyakan siapa yang ada di belakangnya, siapa yang menentukannya, suara siapa yang harus ia ikuti, dan seterusnya. Ia lantas berteriak, “Siapa kalian?” Apa yang saya kira akan menjadi akhir dari pertunjukan, ternyata menyisakan sekian pertanyaan yang belum jelas jawabannya. Dalam kebingungan tersebut, mereka kembali kepada Tuhan. Apa yang bermula di Barat melalui filsafat, misalnya, berakhir di Timur melalui ajaran spiritual atau relijiusitas.

Dan begitulah mereka tak lagi menyebut-nyebut ajaran filsafat. Mereka melantunkan surat Al Fajr ayat 27-30 beserta terjemahannya untuk mengakhiri pentas, sebelum sebuah puisi, tentang perjalanan, tentang permohonan kepada kekasih agar tidak ditinggalkan sebelum padam sekerlip lampu.

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ  ۖ‏ ٢٧ ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً​ ۚ‏ ٢٨ فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏ ٢٩ وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‏ ٣٠

Dan begitulah Panggung Terakhir berakhir, dan begitulah mereka kembali ke Tuhan yang mempersilakan mereka memasuki surga-Nya. Sebuah jalan lempang dengan ujung terang benderang yang dua kali diulang dalam remang panggung yang sama berbarengan.

Scroll to Top