500 Tahun Bulan Madu
Syadza Zahratun Nufus AZ
Lampu padam. Suara narator mengisi kegelapan, perlahan membacakan profil Azmi Bahron. Ia adalah seorang performer artist yang dijadwalkan menutup rangkaian penampilan pada hari ketiga Lanjong Art Festival 2025, Minggu, 24 Agustus 2025. Azmi berasal dari Malaysia, menghadirkan sentuhan lintas budaya yang hangat antara dua negara serumpun, Indonesia dan Malaysia – dua negara yang kerap dijuluki sebagai “Kakak-Beradik.” Kedekatan budaya ini terasa nyata di sekelilingku. Tak jauh dari tempat dudukku, terdengar bisik-bisik yang meniru suara karakter kartun populer Malaysia, Upin & Ipin, seolah menegaskan kedekatan emosional yang telah mengakar di antara penonton. Suasana itu membuatku merasa bahwa menonton Azmi malam ini bukan sekadar hiburan, melainkan kesempatan untuk merasakan persinggungan budaya melalui seni dan ekspresi personal sang performer.
Azmi berdiri di tengah panggung, tubuhnya bersinar dalam kostum putih yang lengan-lengannya menjuntai, seperti sayap yang siap mengepak. Setiap gerakannya memantulkan cahaya, seolah udara di sekitarnya ikut menari. Ia menoleh ke penonton, suaranya lembut namun mengundang, “Apakah ada yang tahu siapa Romeo dan Juliet?”
Aku menatap sekeliling. Tak ada yang berani mengangkat tangan. Mungkin takut diajak turun, berbaur di bawah panggung, apalagi ini adalah penampilan internasional pertama dalam festival tahun ini. Ada jarak yang nyata antara panggung dan kursi penonton, namun justru jarak itu menciptakan ketegangan yang magis. Bahasa menjadi jembatan yang rapuh. Azmi mencoba menggabungkan bahasa Indonesia dan Inggris, tapi kadang maknanya terasa terseret, hilang di antara gelak tawa dan bisik-bisik. Aku sendiri merasa sulit menegakkan fokus, membiarkan maksud penampilannya benar-benar masuk. Bahkan, sejak Azmi pertama kali muncul di panggung. Ada jarak yang samar antara niat artistiknya dan caraku sebagai penonton menangkapnya.
Azmi kembali menatap penonton, suaranya lembut namun menggugah. Ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang ingin menjadi Romeo?” Aku menoleh sekeliling. Kini, satu-dua tangan mulai berani terangkat, ragu-ragu namun ada antusiasme.
Aku mencoba menangkap maksud di balik pertanyaan itu. Mengapa Azmi menekankan sosok Romeo, yang dalam pertunjukan ini dihidupkan oleh Meo, hingga dua kali bertanya? Rasanya seperti ada pesan tersembunyi yang ingin ia sampaikan melalui upaya menarik perhatian penonton terhadap karakter tersebut. Untuk sementara, aku membuang imajinasi yang bercampur aduk tentang orang Melayu yang hadir dalam kepala. Sebagai gantinya, aku ingin membayangkan sosok P. Ramlee yang berakting di atas panggung malam ini.
“Sayang, jangan kau lawan rasa sedih itu. Kau ada aku, aku ada kau. Itu yang kita mahu. Kita akan terus berbulan madu hingga hari kiamat. Sedih hati kau, sedih juga hati aku.”
Azmi membuka penampilannya dengan satu kalimat kunci, yang diucapkan oleh Meo, karakter yang ia bawakan malam ini. Pertunjukan ini berjudul Jue & Meo (Cinta Agung Melayu). Karya ini merupakan reinterpretasi modern dari kisah klasik Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Ia membawakan karya ini dengan gaya surealis, karena hanya ia yang berada di atas panggung. Menurutku, mementaskan cerita yang seharusnya diperankan oleh dua orang dalam bentuk monolog bukanlah hal mudah. Ini membutuhkan keterampilan tinggi untuk menjiwai dua karakter dalam satu tubuh.
Aku mencoba memperhatikan perubahan-perubahan halus dalam dirinya. Saat ia menjadi Meo, sosoknya tampak penuh kebijaksanaan. Bayangkan saja, ia bangkit setiap tahun untuk merayakan bulan madu ke-500 bersama Jue, kekasihnya. Namun saat ia menjadi Jue, ia berubah menjadi perempuan yang merajuk, kesal, dan marah. Wajar saja, setelah menjadi arwah, Jue baru mengetahui bahwa Meo pernah bermain hati dengan perempuan lain.
Bagaimana rasanya menyadari bahwa seseorang yang kau yakini setia seumur hidup, ternyata pernah bermain hati?
Bagaimana rasanya kau mengetahuinya setelah 500 tahun, bahkan setelah mereka menjadi arwah penasaran?
Beban yang dirasakan Jue nyaris tak terbayangkan. Azmi menyalurkan beban itu kepada penonton melalui setiap gerak, setiap mimik, dan setiap kata yang diucapkannya dengan intonasi yang beragam. Setiap detik penampilannya terasa hidup, memaksa penonton merasakan kepedihan, kebingungan, dan ketegangan emosi Jue dan Meo secara bersamaan.
Dalam karya ini juga diungkap bahwa kemarahan Jue berawal dari kenyataan bahwa ia hanyalah rebound love, atau hubungan pelampiasan dari kisah cinta awal Meo dengan Rozeline. Aku tersenyum kecil mendengar istilah itu. Di tengah dunia yang sering diukur dengan materi, rebound love ternyata menjadi semacam mekanisme pertahanan, cara orang-orang masa kini untuk tetap memiliki tempat bersandar. Melihat Jue, aku merasa ia begitu naif. Ia ingin menjadi satu-satunya perempuan dalam kehidupan Meo, mengira bahwa cinta sejati harus eksklusif dan abadi. Padahal, kenyataannya, hati manusia seringkali lebih kompleks daripada bayangan ideal yang kita simpan.
Jue yang masih diliputi amarah kepada Meo diceritakan ingin menggantung dirinya. Ia menangis di atas panggung, diiringi bias cahaya ungu yang menambah kesan pilu pada kisah itu. Bagi orang zaman sekarang, mungkin cerita tentang keputusasaan Jue terdengar konyol, bahkan berlebihan. Aku pun sempat merasakannya. Rasanya ingin aku berteriak dari kursi penonton, “Tinggalkan saja Meo-mu, Jue!”
Azmi, yang beberapa kali harus berganti peran antara Jue dan Meo, menurutku cukup berhasil menghadirkan simbol-simbol yang mewakili masing-masing karakter. Saat menjadi Jue, ia menampilkan sosok yang merepresentasikan kesetiaan dan cinta abadi. Konsistensi dan keterikatan emosional yang kuat tergambar jelas, diperkuat dengan suara getir yang membawa kesedihan, kekecewaan, sekaligus pertanyaan pahit tentang pengkhianatan. Sebaliknya, ketika memerankan Meo, Azmi menghadirkan nuansa rahasia, ambiguitas, dan ketidakpastian. Karakter Meo tak pernah diucapkan dengan intonasi tinggi, seolah ia sadar betul akan kesalahan yang diperbuat. Meo seperti pasrah karena waktu tak lagi bisa diputar untuk mengurangi kepedihan Jue yang terus meluapkan amarah di hadapannya.
Pertemuan tahunan yang mereka sebut sebagai bulan madu, menurutku layak dijadikan inspirasi bagi pasangan suami-istri. Bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah ritual introspeksi. Momen untuk merenungkan perjalanan cinta yang telah dilalui. Kisah Jue dan Meo menunjukkan bahwa semakin intens dan konsisten pertemuan itu dilakukan, semakin banyak tabir yang tersingkap. Tabir-tabir itulah yang mencerminkan betapa kompleksnya manusia dalam menghadapi, merawat, sekaligus mempertanyakan perasaan cinta.
Pertunjukan ditutup dengan lagu Anak Pipit, sebuah tembang anak-anak dari Kalimantan Selatan. Lagu itu terdengar sayup, mengalun dalam tempo sedang dan tidak tergesa-gesa. Azmi seolah tahu, melodinya akan membantu para penonton menghayati kisah Jue dan Meo yang baru saja usai. Alunan tersebut menggiring penonton untuk menoleh ke dalam diri sendiri mengetuk dialog panjang tentang cinta yang seakan tak pernah selesai.
