Pasar Petang – Setelah Korrie…

Pasar Petang - Setelah Korrie...

       Di Pasar Petang, mata uang kita adalah kata-kata.

 

       Riwayat pasar, agaknya, setua riwayat peradaban umat manusia, yakni ketika mereka menyadari bahwa mereka tak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ribuan tahun yang lalu, pada masa prasejarah, ketika umat manusia hidup secara nomaden dalam kelompok-kelompok kecil, pasar mengambil bentuknya yang paling sederhana: barter antarindividu tanpa lembaga resmi atau tempat yang tetap. Seiring kemajuan peradaban, pasar turut berkembang semakin kompleks. Pada masa Mesopotamia atau Yunani kuno, misalnya, pasar fisik mulai tercipta dan mata uang ditemukan sebagai alat untuk mempermudah jual beli. Memasuki abad pertengahan, raja dan bangsawan bertindak sebagai pemberi perlindungan atas pasar sehingga para pedagang dan pembeli bisa bertransaksi dengan aman. Pasar pula yang turut mendorong kolonialisme merayap dan mengubah wajah dunia untuk selama-lamanya, seperti halnya ia menyokong kapitalisme dan mempengaruhi bagaimana cara kita hidup kemudian. Hari ini, kita menemukan bentuk pasar yang lebih rumit dan canggih: marketplace daring atau munculnya blockchain serta fintech yang menuntut aturan serta cara bertransaksi baru, setelah sebelumnya ia menawarkan bahan dagangan yang belum pernah ada, yakni saham dan valas.

       Pasar adalah apa yang tak terelakkan dari sejarah kita sebagai umat manusia. Ia, pada akhirnya, bukan semata tempat menukar hasil produksi atau jasa sehingga setiap orang bisa mendapatkan apa yang tidak bisa ia hasilkan sendiri, melainkan juga memainkan fungsi sebagai arena bertemunya berbagai kelompok manusia dengan latar belakang beragam yang pada gilirannya mendorong terjadinya pertukaran budaya, bahasa, dan pengetahuan. Apa yang sebelumnya terpisah perlahan mengenal, aneka sekat dan demarkasi perlahan memudar.

       Tergerak oleh kesadaran mengenai betapa pentingnya fungsi pasar, maka kami, Yayasan Lanjong dan Ruang Sastra Kalimantan Timur, menginisiasi sebuah pasar yang kemudian kami sebut sebagai Pasar Petang – sebuah pasar yang akan dimulai pada petang hari. Sebuah pasar yang menawarkan kehangatan dan kedekatan sebagai nafasnya.

       Petang, konon, adalah waktu yang tepat untuk berbincang. Pada petang harilah, kita bisa menemukan orang-orang yang sedang beristirahat selepas kerja, duduk-duduk santai di teras rumah, mengobrol bersama tetangga atau sanak famili, bertukar kabar dan cerita tentang apa saja yang mereka alami seharian, kadang dengan suguhan gorengan dan kopi, kadang tanpa camilan apa-apa, namun tetap menguarkan kehangatan serta kedekatan.

       Petang adalah waktu yang tepat untuk kata-kata. Dan karena itu, Pasar Petang adalah pasar kata-kata. Kami percaya, tak akan ada pasar tanpa bahasa, tak akan ada pasar tanpa kata-kata. Melalui bahasa, yang memanifestasikan dirinya lewat kata-kata, transaksi dalam pasar terjadi, pertukaran pengetahuan dan budaya berlangsung, dan ikatan antar individu serta kelompok terjalin. Kata-kata, barangkali, adalah produk kebudayaan manusia yang paling dekat dengan manusia itu sendiri. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, dari saat hari dimulai hingga nanti hari berakhir. Ia muncul dalam beragam bentuk, mulai dari suara hingga simbol-simbol yang disepakati sebagai huruf. Ia bisa ditemukan di layar gawai hingga lamat-lamat gelombang percakapan dari tetangga sebelah rumah. Kata-kata itu, karena begitu dekat dan lekat, kemudian terasa alamiah, bagaikan sesuatu yang sudah terberi begitu saja dari sononya. Dan karena itu pula, kerapkali kita justru tidak cukup memberi penghargaan yang selayaknya terhadap bahasa dan kata-kata.

       Pada mulanya adalah kata, kata Sutardji Calzoum Bachri, presiden penyair kita, dalam kredo puisinya yang terkenal. Dalam kepercayaan agama-agama Abrahamik, misalnya, hal pertama yang diajarkan Tuhan kepada Adam sebagai manusia pertama adalah kata-kata. Penciptaan dunia, dalam khazanah yang sama, juga dimulai dengan kata-kata, yakni Kun fayakun. Dalam banyak tradisi di dunia, dikenal mantra dan rajah, yakni susunan kata-kata (biasanya dipenuhi dengan permainan rima) yang dilafalkan atau diterakan pada kain atau kulit, dan dipercaya mengandung kekuatan adimanusia yang bisa digunakan oleh pengamalnya.

       Melalui Pasar Petang, kami berupaya merayakan kembali kata-kata dan bahasa, merenungkan kembali betapa berharganya bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Sebagai salah satu bentuk perayaan dan penghargaan terhadap kata-kata itulah, seperti yang kami kutip di awal tulisan, di Pasar Petang, mata uang kita adalah kata-kata. Pasar Petang akan diselenggarakan di Pekarangan Ladaya, satu tempat wisata yang berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Pada hari-hari biasa, pengunjung Ladaya dikenakan tiket seharga dua puluh ribu rupiah. Namun, untuk Pasar Petang, pengunjung bisa menebus tiket tersebut dengan menuliskan puisi atau catatan pendek – satu usaha mengganti uang dengan kata-kata untuk memuliakannya kembali.

       Namun, Pasar Petang, sebagaimana sebuah pasar, tentu saja tidak homogen. Meski digerakkan oleh kata-kata dan dimaksudkan untuk merayakan kata-kata, Pasar Petang juga masih membawa watak-watak pasar konvensional pada umumnya. Karena itu, di dalamnya, kita akan bertemu dengan pedagang yang menjajakan makanan dan minuman atau orang-orang yang menawarkan jasanya, mulai dari burger dan kopi hingga tato temporer. Dan sebagaimana watak pasar konvensional pada umumnya, transaksi barang dan jasa dengan para pelapak ini masihlah akan menggunakan alat tukar yang sah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

       Watak-watak pasar konvensional ini akan bekerja beriringan dengan kata-kata. Kata-kata, sebagai tenaga dari Pasar Petang, kemudian membutuhkan satu kendaraan tertentu agar ia bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Dan, bagi kami, kendaraan untuk kata-kata yang paling sesuai adalah sastra – satu jenis kesenian yang material utamanya adalah bahasa. Dengan demikian, Pasar Petang adalah juga semacam pasar sastra.

       Menjajarkan kata “pasar” dan “sastra” dalam satu frasa, barangkali, bukanlah satu hal yang lazim ditempuh. Dua kata tersebut, sebagai konsekuensi penggunaannya selama ini di masyarakat, membawa nuansa yang berbeda – atau bahkan bertolak belakang. Kata “pasar” terlanjur dilekatkan dengan sesuatu yang banal, kitsch, pengerukan keuntungan yang berlebihan, kerakusan, hal-hal yang, katakanlah, “duniawi”; sementara sastra di sisi lain, kerapkali dikaitkan dengan sesuatu yang adiluhung, laku-laku kapujanggan, sesuatu yang jauh dari gemerlap harta benda, hal-hal yang, katakanlah, “transenden”. Upaya menggabungkan kata “pasar” dan “sastra” untuk memberi makna pada Pasar Petang adalah upaya untuk menempatkan kata sebagaimana mestinya, yakni bahwa pasar adalah tempat transaksi dan transfer pengetahuan serta kebudayaan, dan sastra, seluhur apa pun, toh tidak pernah bisa dilepaskan dari “yang duniawi”. Novel dan buku puisi dicetak dan diperjualbelikan di pasar, pertukaran gagasan terjadi di sana, dan roda perekonomian turut bergerak dan bekerja di dalamnya. Yang luhur dan yang banal, jikapun memang ada, ternyata kerapkali menempuh jalan yang sama.

       Lebih dari itu, sastra dan ekosistem yang menopangnya, kami kira memang memiliki keserupaan dengan pasar. Di sana, kita bisa menemukan aneka macam keriuhan, pertemuan aneka ragam suara yang berbeda, penulis dan pembaca, kritikus dan karya, percetakan dan toko buku, konflik dan intrik, dan seterusnya.

       Sebagai wujud perayaan kata-kata melalui sastra, Pasar Petang kemudian akan pula menghadirkan pertunjukan-pertunjukan seni, pembacaan dramatik cerpen, musikalisasi puisi, dan diskusi mengenai sastra – khususnya, karena kami berada di Kalimantan Timur, diskusi tentang sastra Kalimantan Timur.

       ***

       Adalah sesuatu yang nyaris mustahil membicarakan sastra Kalimantan Timur tanpa menyebut satu nama, yakni Korrie Layun Rampan. Tahun ini adalah genap sepuluh tahun semenjak Korrie meninggal pada 19 November 2015. Dan dalam rentang waktu itu pula, ia terus dibangkitkan dari kuburnya untuk kemudian memenuhi diskusi-diskusi mengenai kesusastraan Kalimantan Timur. Korrie melayang-layang, merentangkan sayap lebarnya dan memanjangkan bayangannya ke sekujur kawasan. Dan oleh karena itu, puluhan atau ratusan nama lain kemudian tenggelam dalam kebesarannya. Apa boleh buat, Korrie memang telanjur menjadi raksasa – atau bahkan berhala – dalam skena kesusastraan Kalimantan Timur. Dan itu tidak bisa dielakkan.

       Dalam lingkaran yang lebih kecil, misal percakapan di forum-forum yang mengkaji sastra Kalimantan Timur secara lebih serius, sejumlah kecil nama berhasil menyeruak dari kebesaran Korrie. Maka terbersitlah nama-nama seperti Djumri Obeng, Ahmad Dahlan, atau Achmad Rizani Asnawi. Dari generasi yang lebih kemudian, Hasan Aspahani dan Amien Wangsitalaja berulang disebut.

       Lantas tak ada lagi – atau jikapun ada, itu adalah sayup-sayup, semacam desas-desus yang gampang hilang bersama angin.

       Dan pada titik itulah, kesan yang kemudian muncul, kesusastraan Kalimantan Timur berhenti tumbuh.

       Namun benarkah kesusastraan Kalimantan Timur berhenti tumbuh?

       Untuk menjawab pertanyaan itu, kita mesti berkenan menengok ulang apa-apa yang telah dikerjakan oleh Korrie Layun Rampan. Korrie Layun Rampan tentu saja telah melakukan banyak kerja besar di Kalimantan Timur. Salah satunya adalah upaya yang ia kerjakan dalam membuat sekumpulan kanon dalam buku Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia. Buku itu, secara ambisius, memilah dan memilih sejumlah sastrawan Kalimantan Timur yang ia anggap cukup merepresentasikan wajah kesusastraan Kalimantan Timur.

       Buku itu dikerjakan pada paruh akhir dekade pertama milenium ketiga. Dan pendokumentasian serta pengkanonan yang diselenggarakan di buku itu hanya berhenti pada generasi sastrawan yang lahir di tahun 1980-an dan sebelumnya.

       Dalam rentang waktu itu hingga hari ini, dunia tetap berjalan. Korrie meninggal dan bayi-bayi lahir. Sastrawan-sastrawan baru bermunculan dan sebagian di antara mereka tak pernah mendapat cukup ruang untuk menunjukkan keberadaan sekaligus gagasannya.

       Pasca Korrie dan seluruh kerja kesusastraannya, kami yakin, kesusastraan Kalimantan Timur terus bergeliat.

       Kegelisahan semacam itulah yang kemudian mendorong Ruang Sastra Kaltim, satu komunitas sastra yang berbasis di Samarinda, untuk melakukan semacam pemetaan terhadap para penulis sastra dari generasi yang paling mutakhir di Kalimantan Timur. Apa yang dimaksud generasi paling mutakhir adalah mereka-mereka yang luput dari kerja-kerja kesusastraan yang pernah dikerjakan oleh Korrie sekaligus yang belum memantapkan posisi semacam yang telah diraih oleh generasi Hasan Aspahani. Mereka adalah generasi yang saat ini tengah gencar menulis, bertungkus lumus dengan eksplorasi dan eksperimen gagasan dan bentuk, dan yang belum mendapat tempat sehingga belum cukup dikenal oleh publik sastra, bahkan publik sastra Kalimantan Timur sendiri. Generasi mutakhir adalah juga generasi yang bertumbuh dan mematangkan diri dalam belantara dunia digital. Internet, globalisasi, serta arus informasi yang begitu deras adalah dunia mereka sehari-hari. Generasi ini, tentu saja, berbeda dari generasi-generasi sebelum mereka yang tumbuh dan berkembang di dunia analog, merasakan kejayaan televisi dan media massa cetak, sebelum mengalami gegar dengan kemunculan dunia digital yang melakukan revolusi besar-besaran dalam peradaban dan membentuk ulang cara berpikir serta bertingkah laku.

       Generasi mutakhir ini pula yang kelak akan menentukan wajah kesusastraan Kalimantan Timur dalam beberapa tahun ke depan, ketika apa yang disebut sebagai lapis pertama dan lapis kedua sastrawan Kalimantan Timur berguguran dan generasi DKS sudah semakin uzur.

       Hasil dari pemetaan Ruang Sastra Kalimantan Timur tersebut adalah dua buku antologi bersama, yakni kumpulan puisi berjudul Cermin Lain di Balik Pintu Lamin yang terbit pada tahun 2023 dan kumpulan cerpen berjudul Hal-hal yang Tersisa dari Jam Makan Malam yang terbit pada awal 2025.

       Dua buku tersebut, setidaknya, menyediakan semacam pintu masuk untuk menyigi bagaimana kondisi kesusatraan Kalimantan Timur hari ini, satu kondisi setelah Korrie…

       ***

       Setelah Korrie, dengan begitu, bukanlah semata satu penanda waktu. Ia juga adalah sebuah situasi, yakni situasi kesusastraan Kalimantan Timur hari ini. Di dalam situasi tersebut, berkelit kelindan banyak hal, mulai dari ekosistem dalam arti yang luas, para penulis, publik penikmat, kritikus, peran pemerintah, capaian estetik, gagasan-gagasan yang ditawarkan, bagaimana kultur dan kearifan lokal mempengaruhi karya, gerakan, komunitas, dan seterusnya.

       Korrie sendiri, pada tahun 1980-an, pernah menulis satu risalah berjudul Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia yang kemudian diterbitkan bersama sejumlah esai lain dalam buku Suara Pancaran Sastra pada tahun 1984. Risalah yang sama kemudian ia lengkapi dengan sejumlah data dan tanggapan baru, lantas diterbitkan ulang sebagai pengantar buku babon Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia yang merupakan bagian dari Dialog Borneo-Kalimantan XI, sebuah acara besar yang melibatkan tiga negara di Pulau Kalimantan, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dalam risalah tersebut, Korrie membabar kondisi kesusatraan Kalimantan Timur pada masa itu, dan menunjukkan sejumlah permasalahan yang terjadi.

       Permasalahan-permasalahan itu, antara lain dan yang paling utama, adalah persoalan kualitas karya sastra. Peningkatan kualitas sastra, menurut Korrie, adalah hal yang mustahil dilakukan jika tidak ada bahan perbandingan dengan karya sastra yang lain. Soal perbandingan ini kemudian membawa kita ke soal yang lain, yakni soal publikasi, sebab tak mungkin membandingkan kualitas satu karya dengan karya lain yang tak pernah dipublikasikan. Publikasi yang layak inilah yang merupakan masalah utama di Kalimantan Timur.

       Persoalan publikasi ini mengemuka sebagai akibat tidak adanya media massa yang khusus memuat karya sastra dan diasuh oleh pakar sastra serta sastrawan kreatif yang cukup kompeten dan otoritatif serta ketiadaan penerbit yang profesional. Masalah lain dalam kesusastraan Kalimantan Timur adalah kurangnya penghargaan pemerintah daerah terhadap sastrawan dan karya sastra; tidak adanya bengkel sastra dengan program penulisan kreatif; kurangnya keberanian dari pemerintah daerah untuk membiayai penulisan karya sastra; serta kurangnya kegiatan sastra yang memungkinkan para sastrawan di seluruh Kalimantan Timur untuk bertemu dan berdiskusi, bertukar pikiran serta saling mengkritik secara berkala.

       Kini, pada tahun 2025 – lebih dari empat puluh tahun semenjak Korrie menulis risalah tersebut – kita bisa bertanya, apakah permasalahan-permasalahan yang terjadi di tahun 1980-an, yang agaknya masih tetap terjadi pada tahun 2011 tersebut sudah selesai? Atau, kita masih berkutat pada masalah-masalah yang sama?

       Untuk menelisik lebih dalam situasi setelah Korrie ini, maka tema diskusi Pasar Petang adalah Setelah Korrie… Tiga pembicara, yakni Dahri Dahlan, Kristal Firdaus, serta Fitriani Um Salva akan menyampaikan pandangan-pandangan mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dahri Dahlan sebagai akademisi, penyair, kurator, dan peneliti sastra akan membentangkan lanskap yang lebih luas dan jernih mengenai ekosistem kesusastraan Kalimantan Timur hari ini. Kristal Firdaus, seorang penyair muda belia alumni dari buku Cermin Lain di Balik Pintu Lamin yang baru saja menerbitkan buku kumpulan puisinya sendiri sekaligus penulis emerging untuk Makasar International Writers Festival 2025 akan berbicara tentang kondisi-kondisi yang ia alami dalam usahanya sebagai penulis generasi mutakhir untuk terus menulis di Kalimantan Timur. Sementara Fitriani Um Salva, penyair yang sudah terlibat intens di dunia sastra Kalimantan Timur sejak dekade pertama milenium ketiga, yang pernah bersinggungan langsung dengan Korrie dan merupakan salah satu penyair yang dimasukkan Korrie dalam Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia, diharapkan akan berkenan menggambarkan perkembangan kesusastraan Kalimantan Timur dari masa pra hingga pasca wafatnya Korrie.

       Diskusi dengan tema Setelah Korrie… adalah rangkaian terakhir dari Pasar Petang. Ia akan memungkasi aneka pertunjukan seni yang membentang mulai dari tari hingga musikalisasi puisi yang bakal dimulai petang pukul 16.00 WITA di Pekarangan Ladaya, Kutai Kartanegara pada tanggal 24 Mei 2025.

***

Scroll to Top