Melampaui Peran dan Setelahnya
Namun, bagaimana sesungguhnya terjemahan dari gagasan Melampaui Peran dalam tataran praktis?
Secara garis besar, setelah menempuh sejumlah penyesuaian materi untuk berkompromi dengan situasi dan kondisi para aktor, Melampaui Peran dimulai dengan pembongkaran tubuh aktor. Pembongkaran dikerjakan untuk menemukan tubuh yang jujur, yakni tubuh yang tak berpura-pura, tubuh yang tak lagi digerakkan oleh perintah pikiran, melainkan impuls dari dalam tubuh itu sendiri. Sesi-sesi dalam upaya pembongkaran ini dipenuhi dengan luapan emosi murni ketika para aktor peserta workshop diminta menceritakan pengalaman-pengalaman paling mendalam yang pernah mereka alami. Pada titik inilah, saya – dan agaknya juga para peserta – menyadari satu hal, bahwa kesedihan dan puncak kebahagiaan memiliki airmata; kebahagiaan dan puncak kesedihan berbagi tawa serta senyum. Apa yang terlihat menempuh jalan yang berkebalikan, bertemu dalam satu muara, meski dengan jalan keluar yang berbeda.
Dan begitulah salah satu peserta berkata, “Saya datang untuk workshop keaktoran, dan yang saya dapatkan bukan hanya persoalan berakting, namun juga terapi psikologis.”
Penemuan tubuh yang jujur adalah pondasi yang dibutuhkan untuk menciptakan tubuh otentik, yakni tubuh jujur yang dilatihkan. Seni akting, bagaimanapun adalah hasil dari konstruksi ulang dari emosi-emosi serta ekspresi-ekspresi yang dimunculkan oleh tubuh jujur, dan pada gilirannya, tubuh otentik inilah yang akan dibawa ke panggung, dipresentasikan dengan kadar yang berbeda-beda, tentu saja.
Penemuan tubuh yang jujur serta penciptaan tubuh otentik membawa satu konsekuensi logis yang tak terelakkan, ialah vokal organik. Vokal organik, tak kurang dan tak lebih, adalah vokal yang terlepas dari teknik, ia lahir dari reaksi atas napas. Dengan menyadari sekaligus menguasai vokal organik, seorang aktor diharapkan akan bisa lepas dari tekanan dan keraguan, menghasilkan suara yang jujur. Suara organik bukanlah suara yang merdu, bahkan, ia tak harus merdu. Ia tidak bisa dibagi dalam kategori baik atau buruk. Unsur utama yang menyusun vokal organik, pada dasarnya, adalah kejujuran dan ketiadaan rekayasa di dalamnya. Dalam hidup keseharian, vokal organik bisa ditemukan dalam percakapan yang wajar, bukan percakapan basa-basi. Ia juga muncul dalam reaksi pertama atas keterkejutan, misalnya.
Seperti halnya tubuh yang jujur perlu dilatihkan untuk menghasilkan tubuh otentik, vokal organik, dalam kepentingan keaktoran, juga perlu dilatihkan untuk bisa diproyeksikan di atas panggung.
Tiga hal inilah yang terus berkelit kelindan sepanjang workshop, yang mengisi relung-relung workshop, terus dimanfaatkan untuk materi-materi lain semisal bagaimana membaca gerak sebagai teks, silent act, realisme psikologis, menciptakan ruang imajinasi, dan seterusnya.
Tiga hal ini juga yang kemudian diujicobakan pada pementasan kedua, yakni duo drama pada hari keempat workshop.
Seperti halnya naskah monolog yang dipentaskan pada malam pembukaan, naskah duo drama berjudul Melampaui Peran juga ditulis oleh Ab Asmarandana dengan wawancang-wawancang ringkas namun disertai kramagung yang ketat. Kramagung ini, bahkan, lebih panjang ketimbang dialog-dialog di dalam naskah. Penyertaan kramagung yang ketat, agaknya, diperlukan dalam kerangka workshop, untuk memberi petunjuk pemraktikkan materi dan latihan yang dikerjakan sepanjang workshop.
Dalam duo drama, lima belas aktor peserta workshop dibagi menjadi delapan pasangan – yang artinya ada satu aktor yang merangkap. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan bentuk pertunjukan dan menempuh improvisasi yang dibutuhkan untuk menghidupkan naskah pendek tersebut. Naskah duo drama Melampaui Peran, dalam kacamata saya, tak kurang dan tak lebih adalah kelanjutan dari naskah monolog Aktor. Jika monolog Aktor bersoal jawab dengan diri aktor sendiri, maka dalam duo drama Melampaui Peran, persoalan ini dibawa keluar, dibicarakan dengan aktor lain. Karena itu, dua peran dalam duo drama adalah aktor, yakni satu aktor tua yang berpengalaman dan skeptis terhadap konsep baru, sementara yang lain adalah aktor muda penuh semangat yang tengah mencari makna lebih dalam di seni peran.
Persoalan eksistensial ini mendapatkan pengejawantahan yang berbeda-beda di atas panggung pada presentasi duo drama yang diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 24 April 2025 di Lamin Ladaya, namun cukup memberi gambaran kasar bahwa sebagian besar aktor tidak cukup menerapkan apa yang mereka dapatkan selama beberapa hari penyelenggaraan workshop. Om Ed, panggilan akrab Edi Sutardi, bahkan berkata dengan suara berat dalam evaluasi pasca pementasan, jika pementasan yang baru saja ia saksikan lebih menunjukkan upaya para aktor menjadi sutradara ketimbang menjadi aktor. Mereka sibuk mencari bentuk, dan melupakan tugas mereka sebagai aktor. Tubuh yang jujur, tubuh yang otentik, dan vokal yang organik menguap entah ke mana di sebagian pementasan, meski upaya untuk menempuh itu terlihat juga di sejumlah pementasan.
Bagi saya, presentasi duo drama adalah semacam ujian tengah semester. Ia berfungsi untuk menakar sejauh mana hasil latihan dan apa yang berubah dari presentasi monolog di malam pembukaan. Apa-apa yang masih terasa lemah dalam duo monolog akan dikuatkan dalam presentasi ensembel di akhir worskhop, dan apa-apa yang sudah kuat akan bisa lebih ditonjolkan lagi.
Dengan begitu, para aktor juga dituntut untuk lebih mengenali diri mereka sendiri, lebih menghikmati diri mereka sendiri.
Dok. Lanjong – penyampaian materi dan proses eksplorasi peserta
Ada penyesuaian-penyesuaian materi workshop yang dikerjakan selepas presentasi duo drama. Satu urusan yang memang sudah selumrahnya dikerjakan untuk menyikapi presentasi dan evaluasi tersebut dalam rangka memaksimalkan penyerapan materi-materi workshop. Penyesuaian paling mencolok (yang sekaligus mengejutkan para aktor peserta workshop) adalah pergantian naskah drama ensembel untuk dipentaskan pada hari Selasa tanggal 29 April 2025.
Pergantian naskah tersebut, pada prinsipnya, adalah upaya menonjolkan potensi-potensi dalam diri aktor sekaligus menyiasati kelemahan-kelemahan mereka, yang kemudian berimbas pula pada bentuk pertunjukan nantinya.
Hari-hari setelahnya adalah hari-hari latihan menuju presentasi ensembel. Materi-materi dalam rancangan ajar disisipkan dalam latihan-latihan tersebut – sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Tentu saja bukan hal yang mudah menyiapkan satu pertunjukan ensembel dalam waktu empat hari dari sejak teks dibuat. Ab Asmarandana, selain bertindak selaku penulis naskah, juga mengambil peran sebagai sutradara. Ia dibantu oleh Abang Rende, Adiyat dan Mar’ie Muhammad sebagai astrada dan Edi Sutardi sebagai dramaturg.
Bahu membahu, mereka membantu para aktor membedah naskah, menafsir teks, membuka kemungkinan-kemungkinan bentuk pertunjukan, mengeksplorasi gerak dan adegan, dan lain sebagainya. Dua hari setelah teks diberikan dan bentuk kasar pertunjukan mulai terlihat, mereka menggelar gladi kotor di amphiteater Ladaya. Dari gladi kotor tersebut, mereka berupaya mengevaluasi diri mereka sendiri, mengidentifikasi permasalahan dan kelemahan, dan melakukan bongkar ulang untuk menemukan bentuk yang lebih meyakinkan dalam gladi bersih yang diselenggarakan pada hari Senin tanggal 28 April 2025. Sepuluh penonton diundang secara khusus untuk menyaksikan gladi bersih, sekaligus untuk mengeruk sudut pandang yang lain dari para penonton tersebut.
Tak ada kata selesai bagi proses pertunjukan ensembel Melampaui Peran, bahkan setelah gladi bersih. Karena itu, pada hari Selasa, sebelum malamnya presentasi ensembel digelar, mereka kembali membongkar ulang garapan mereka dengan memanfaatkan aneka ragam pandangan yang mereka terima malam sebelumnya dari para penonton undangan. Ab Asmarandana menyisipkan teks-teks baru, para astrada memperhalus transisi antar adegan, dramaturg turut serta menuangkan emosi-emosi yang dibutuhkan oleh para aktor, dan para aktor bekerja keras merespon itu semua dengan cepat.
***
Ujian akhir dari workshop, dan apa yang barangkali paling mendebarkan, berlangsung pada hari Selasa tanggal 29 April 2025.
Bangku penonton amphiteater Ladaya benar-benar penuh pada pukul 20.00 WITA. Para penonton tidak hanya datang dari Tenggarong atau kecamatan lain di Kabupaten Kutai Kartanegara, melainkan juga dari Samarinda – ibukota provinsi Kalimantan Timur yang berjarak satu setengah jam dari Ladaya.
Pembawa acara muncul dan menyapa para penonton. Ia memberi latar dan konteks tentang workshop keaktoran Melampaui Peran dan kenapa pertunjukan ensembel Melampaui Peran ini digelar. Di belakang panggung, para aktor bersiap sementara sebuah video semacam kaleidoskop workshop – yang menampilkan potongan-potongan latihan, wawancara dengan para pemateri dan peserta – ditayangkan di backdrop hitam besar amphiteater, sehingga para penonton mendapatkan konteks yang lebih menyeluruh dan utuh terkait peristiwa malam itu.
Dan persis ketika video berakhir, lampu dimatikan. Dari belakang panggung, seiring lampu yang menyala perlahan, para aktor muncul dengan gumaman yang mengambang. Dan begitulah kami, para penonton, menyaksikan lima belas orang dalam balutan daster dan stoking yang membungkus kepala, keluar dari sisi kanan panggung, yang berarti sisi kiri penonton. Mereka berjalan pelan, terjatuh tiap beberapa saat, untuk kemudian mencoba bangkit kembali. Meminjam apa yang pernah disampaikan oleh Tan Malaka, terbentur terbentur terbentur terbentuk, mereka terus bangkit meski kembali terjatuh. Mereka bangkit dan kembali bangkit. Seperti Phoenix, agaknya. Untuk kemudian menyeberangi panggung, menuju sisi lain dari panggung dan berbalik arah. Asap tipis dari bakaran daun menggenangi amphiteater, menambah nuansa khusuk yang sejak awal telah berupaya dibangun lewat gumaman para aktor.
Dok. Lanjong – Pertunjukan Ensembel Melampaui Peran
Panggung amphiteater Ladaya adalah milik para aktor malam itu. Mereka menjelajahi luas panggung, berdiri, berjalan, meliuk, merangkak, berguling, berjongkok, bertumpuk, dan seterusnya, mengerjakan komposisi dan formasi yang mereka dapatkan selama proses latihan fisik dalam workshop kali ini.
Mereka juga memainkan aneka emosi dan ekspresi: sedih, bahagia, tertawa, dan lain sebagainya. Mereka memanggil ingatan-ingatan mereka untuk dipinjam ekspresi serta emosinya dan kemudian dipresentasikan di atas panggung.
Mereka berbisik dengan power yang mampu menjangkau setiap kuping di amphiteater. Mereka berteriak tanpa kesan berpura-pura. Mereka bicara dalam bahasa Indonesa dan bahasa Ibu mereka masing-masing. Mereka berzikir dan bernyanyi, berseru dan menciptakan jeda, bicara lantang dan bicara tanpa kata. Mereka juga menari, dari tari tradisi yang mereka bawa dari daerah mereka masing-masing hingga joged dangdut. Mereka, juga, bergerak acak pada saat-saat tertentu, lantas mengerjakan koreo yang rapi dan ketat.
Mereka juga memainkan aneka peran: pada awalnya, mereka adalah ibu-ibu yang melahirkan, lalu dengan cepat berubah menjadi anak-anak yang tumbuh dan bermain, lalu anak-anak yang pergi untuk belajar ke sekolah. Dan setelah itu mereka menjelma orang dewasa: pedagang, pelacur, penjilat, pejabat, seniman, apa pun.
Mereka menyinyiri sistem pendidikan, menyinggung isu-isu sosial politik yang sedang hangat semisal polemik Tugu Pesut Samarinda, memparodikan lagak pejabat, hingga mempertanyakan hal-hal yang filosofis dan esensial semisal makna hidup.
Satu video mapping ditembakkan ke backdrop – video mapping yang menampilkan para aktor, satu per satu, mengatakan “aku aktor” yang diikuti oleh ilustrasi dari topeng yang retak dan pecah – sewaktu para aktor membongkar dinding keempat, merangsek ke bangku penonton, dan mengajukan pertanyaan filosofis “ini hidup atau lakon?”. Mereka menerapkan semacam improvisasi, menyiapkan diri dengan aneka jawaban yang mereka terima dari para penonton, dan membawa jawaban tersebut kembali ke panggung, untuk kemudian diproyeksikan balik kepada para penonton melalui gumaman. Jawaban itu kemudian menggema lebih panjang di atas panggung.
Naskah ensembel Melampaui Peran, sesungguhnya, berbicara tentang eksistensialime. Ia merupakan kelanjutan dari naskah monolog Aktor dan naskah monolog duo drama dengan judul sama, namun dengan kompleksitas yang lebih tebal, dan karenanya lebih rumit. Peran dan topeng telah ditanamkan persis begitu manusia lahir ke muka bumi. Naskah ini, kemudian, adalah bagaimana manusia berupaya untuk melepaskan topeng tersebut dan melampaui peran yang telah diberikan kepada mereka semenjak lahir. Meski, pada akhirnya, ketika topeng tersebut berhasil ditanggalkan, kita masih akan bisa bertanya, apakah mereka benar-benar telah menemukan jati dirinya atau malah bertemu dan menjalani peran yang lain.
Pada akhir pertunjukan, setelah para aktor yang berjuang tersebut berhasil merobek stoking yang membungkus kepala mereka dan mereka terjebak dalam komposisi serta formasi rumit di atas panggung, satu suara memanggil nama para aktor satu per satu. Pelan dan menggetarkan. Suara itulah yang pada akhirnya memwisuda mereka, dengan mengatakan bahwa mereka telah melampaui peran. Dan inilah bagian yang paling menarik bagi saya, bukan lantaran suara itu, melainkan apa yang terjadi pada tubuh aktor ketika nama mereka dipanggil satu demi satu. Adegan memanggil nama itu tidak pernah diketahui para aktor sebelumnya, dan karena itu, tak pernah dilatihkan. Namun, justru pada adegan itulah, apa yang dimaksud Melampaui Peran, bagi saya, menemukan wujud yang sebenarnya. Tubuh para aktor yang sedang terperangkap dalam komposisi-komposisi rumit saling tumpang tindih di beberapa titik, tampak bergetar. Nama-nama mereka yang mengambang di udara menciptakan kesan intim yang menggetarkan. Ketika tubuh mereka bergetar, maka itu adalah getaran dari tubuh yang jujur. Ketika mereka menampakkan ekspresi terharu, maka itu adalah ekspresi yang tidak berdasarkan teknik, melainkan benar-benar dorongan dari diri sendiri. Tubuh-tubuh jujur mereka beresonansi hingga ke tempat saya duduk menonton, di deret paling atas amphiteater, membuat tubuh saya turut bergetar. Mereka, para aktor itu, pada akhirnya, memang telah Melampaui Peran.
Dok. Lanjong – Penonton Pertunjukan Melampaui Peran
Jika keharuan mempunyai bau, maka 12 hektar area Ladaya akan dipenuhi bau itu pada hari Rabu tanggal 30 April 2025. Itulah saat para peserta saling melambai mengucap selamat tinggal dan memanjatkan harapan agar bisa bertemu lagi entah kapan. Travel membawa mereka ke bandara, dan pesawat membawa mereka pulang ke asal masing-masing. Lalu ada yang terasa kosong.
Namun benarkah yang tersisa hanyalah kekosongan?
Selain rangkaian materi yang disampaikan sepanjang workshop, latihan-latihan yang intens, dalam kepala saya, masih terngiang sejumlah nasihat dari Ab. Asmarandana kepada para aktor peserta workshop:
1. Seorang aktor tidak boleh merasa sudah tahu.
2. Seorang aktor tidak boleh mengatakan tidak tahu.
3. Seorang aktor tidak boleh mengatakan tidak mungkin.
4. Seorang aktor tidak boleh mengatakan nanti saja.
Juga dari Teh Mimi:
1. Aktor semestinya mencatat kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan dalam kerja keaktoran sehingga ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu.
2. Aktor harus bekerja. Ia tidak bisa menunggu disuapi atau diperintah atau diberi instruksi. Hanya dengan bekerja dan mencari, mereka akan menemukan dirinya sendiri. Dan temuan itu, pada gilirannya, musti dipraktikkan, dilatihkan, alih-alih dibiarkan mubazir sebagai angan-angan belaka.
3. Aktor harus menghormati semua peran, bahkan jika itu adalah peran yang sangat kecil. Semua berharga. Semua peran memiliki andil dalam pertunjukan.
Dan dari Om Edi yang berulangkali menekankan pentingnya aktor memahami teks, menghikmati teks, menafsir teks, menggali makna dari teks, membuka kemungkinan-kemungkinan dari teks, menjadikan teks itu sebagai diri mereka sendiri.
Lalu sebuah harapan. Workshop keaktoran ini adalah bagian dari rencana jangka panjang Lanjong untuk menyusun satu buku keaktoran yang khas Lanjong dengan harapan bahwa gagasan serta metodologi yang mereka kembangkan bisa terdistribusikan ke lebih banyak orang.
Tentu saja, hal baik semacam ini harus diaminkan. Harus terus diupayakan. Dan itu artinya, yang tersisa setelah workshop Melampaui Peran adalah peran-peran yang lain, yang tak bisa tidak, mesti dikerjakan dengan kerja keras dan tubuh yang jujur.
Dok. Lanjong – Penyerahan Plakat kepada Narasumber dan Peserta, serta cenderamata untuk semua peserta

