Melampaui Peran dan Setelahnya
Saya tiba di Ladaya pada tanggal 20 April 2025 dengan sebagian kepala diisi kebingungan. Saya bukanlah seorang pencatat yang bersih. Ada pengalaman-pengalaman serta peristiwa-peristiwa dalam hidup saya yang membentuk cara saya berpikir, dan kemudian melahirkan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi itulah yang saya gembol ke Ladaya dalam kapasitas saya sebagai seorang pencatat apa-apa yang terjadi sepanjang workshop keaktoran dengan tajuk besar Melampaui Peran yang diselenggarakan oleh Yayasan Lanjong selama sepuluh hari, dimulai dari tanggal 21 April 2025 dan berakhir pada 30 April 2025.
Kebingungan dalam kepala saya, agaknya, muncul dari frasa Melampaui Peran. Frasa itu barangkali tidak akan menjadi masalah jika ditempatkan dalam konteks yang lain, misalnya bolpoin yang memiliki fungsi dan peran sebagai alat tulis, namun dalam kasus-kasus tertentu, bolpoin bisa melampaui peran dan fungsinya, bukan sekadar alat tulis, melainkan juga sebagai alat untuk menusuk karena ia memiliki ujung yang lancip. Dalam kasus workshop yang diselenggarakan oleh Lanjong, frasa tersebut terdengar cukup rumit karena – dan hanya karena – ia dilekatkan pada satu perkara yang dekat sekali dengan memainkan peran dalam batas-batas yang ketat, yakni keaktoran. Pertanyaan yang segera muncul di kepala saya adalah bagaimana seorang aktor, yang dalam asumsi saya memang semestinya memainkan peran yang diberikan kepadanya, justru melampaui peran tersebut? Apa yang akan terjadi di panggung jika setiap aktor melampaui peran mereka? Tidakkah kemudian yang muncul adalah rangkaian kekacauan?
Kebingungan saya tersebut, sesungguhnya, agak berkurang setelah membaca ulang pengantar workshop yang diunggah Lanjong di website mereka dengan judul Melampaui Peran – sama dengan tajuk besar workshop mereka. Dalam pengantar itu, mereka berupaya memberi gambaran apa yang mereka maksud sebagai melampaui peran dalam soal keaktoran, yakni gagasan bahwa aktor bukan sekadar penghapal naskah yang bergerak di atas panggung. Lebih dari itu, aktor adalah seorang pencari, perenung, serta penjelajah ruang batin. Hanya dengan cara demikianlah, yakni berlaku sebagai seorang pencari, perenung, serta penjelajah ruang batin, aktor bakal mampu melampaui batas naskah. Naskah bukanlah satu makhluk yang mutlak dituruti, namun ditempatkan sebagai sesuatu yang setara, sesuatu yang tetap bisa dinegosiasi. Dengan begitu, melampaui naskah mengandung makna bahwa seorang aktor tidak hanya terpaku pada kata-kata yang tertulis dalam naskah tersebut, tidak sekadar menjadi alat serta kepanjangan tangan semata dari teks, melainkan berupaya menggali makna di baliknya. Seorang aktor tidak cukup sekadar menghapal serta mengucapkan dialog, melainkan musti mampu menghidupkan situasi, membangun emosi, dan pengalaman yang mungkin tidak secara eksplisit tertulis dalam naskah. Laku semacam itu, niscaya, bakal membuat pertunjukan menjadi lebih organik dan tidak terasa kaku atau mekanis.
Ada lima belas aktor dari lima belas daerah di Indonesia yang lolos kurasi dan berhak mengikuti workshop keaktoran Melampaui Peran. Mereka adalah Radhika Darmawan dari Kutai Kartanegara, Nur Anisa dari Samarinda, Amalia Rizqi Fitriani dari Yogyakarta, Annisa Effendi dari Polewali Mandar, Muhammad Riyadh dari Kalimantan Selatan, Muhammad Ridho dari Pontianak, Rizki Risal Maundri dari Magelang, Ahmad Rifqi Fakhruzzaman dari Jakarta, Lucky Pasha Herzena dari Jakarta Selatan, Faridho Yuda dari Sumatera Barat, Gusti Wiratama dari Sumatera Selatan, Kun Baehaqi Almas dari Surabaya, Akhmad Yusuf dari Banten, Tutun Imam Turmudi dari Bandung, dan Muhammad Alfansuri dari Jember.
Sepuluh di antara mereka tiba di Ladaya, lokasi di mana workshop digelar, sebelum Magrib pada tanggal 21 April 2025, yakni hari pembukaan workshop. Dua di antara para peserta yang lolos kurasi, Kun Baehaqi Almas dan Gusti Wiratama, batal mengikuti workshop karena satu dan lain hal dan slot jatah mereka kemudian diisii oleh Wawan Soerawan dan Fahrul Yamani – keduanya merupakan aktor dari Lanjong. Sementara tiga peserta yang lain, yakni Muhammad Alfansuri, Faridho Yuda, dan Muhammad Ridho masih dalam perjalanan, yang mengakibatkan mereka tidak mengikuti acara pembukaan pada pukul 20.00 WITA.
Pertemuan saya dengan kesepuluh aktor (dan dua aktor peserta dari Lanjong) pada hari pertama tersebut membuat saya ragu kepada diri saya sendiri. Tak ada tanda yang menunjukkan mereka mengalami kebingungan seperti yang saya alami, yang berarti bahwa mereka telah sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan frasa Melampaui Peran. Jika ada ketegangan dalam tubuh mereka, maka itu adalah ketegangan yang lahir karena masing-masing dari mereka mesti mementaskan satu monolog di malam pembukaan – monolog dengan naskah berjudul Aktor (sebagian menganggap judulnya adalah Siapakah Aku? – frasa pertama dalam naskah) yang ditulis oleh Ab. Asmarandana dan telah dibagikan beberapa hari sebelumnya. Itu adalah sebuah naskah relatif pendek dengan wawancang-wawancang ringkas, namun dilengkapi kramagung yang sangat detail, mulai pemaknaan terhadap teks hingga penghayatan emosi atas adegan-adegan yang dikehendaki. Sebuah naskah yang berbicara tentang kegelisahan eksistensial seorang aktor. Si aktor dalam naskah tersebut adalah si aktor yang kian kehilangan dirinya dalam peran-peran yang ia mainkan. Ia nyaris tidak bisa menentukan di dunia seperti apa ia mesti hidup: apakah di dunia peran atau dunia nyata. Ia dilanda dilema mengenai akting: apakah itu proses pencarian kejujuran atau justru penghapusan jati diri. Dan ia tak tahu apakah ia masih bisa menjadi dirinya sendiri setelah memainkan begitu banyak karakter.
Naskah itu, barangkali, adalah alusi dari kehidupan para aktor itu sendiri, sebuah naskah yang, dalam bayangan saya, ketika dipentaskan bakal menjadi metateater – teater yang bicara tentang teater.
Salah seorang peserta berbisik di telinga saya, “Baru kali ini saya ikut workshop di mana pesertanya sudah harus tampil di malam pertama.”
Dan saya menjawab pelan, “Akan ada tiga pementasan sepanjang workshop.”
Saya tahu ia sudah mengetahui hal itu. Dan ia mendesah.
Monolog di hari pertama bukan sekadar gimik atau gagah-gagahan. Ia, setidaknya bagi saya, bisa dibaca sebagai upaya dari penyelenggara workshop untuk mengerjakan semacam identifikasi dan inventarisasi modal yang dibawa oleh para aktor peserta workshop dari daerah masing-masing, mengingat fakta bahwa mereka, para aktor tersebut, berasal dari komunitas serta kultur yang berbeda satu sama lain. Identifikasi serta inventarisasi modal awal tersebutlah yang kemudian akan dijadikan pijakan untuk menyampaikan materi workshop serta untuk mengukur sejauh mana hasil workshop melalui perbandingan dengan pementasan akhir di ujung workshop.
Pada presentasi monolog itu, saya melihat tubuh-tubuh yang berupaya bernegosiasi dengan kelelahan dan kekagetan di atas panggung. Kelelahan itu, saya kira, tentu saja disebabkan oleh para aktor yang baru saja menempuh perjalanan panjang, dan kekagetan tersebut muncul akibat kurangnya waktu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun, pada sesi evaluasi setelah pertunjukan, ternyatalah sebagian besar aktor baru membaca teks tersebut dalam perjalanan menuju Ladaya.
Sesaat setelah evaluasi itu, melalui obrolan singkat dengan para narasumber workshop dan sejumlah aktor, saya pada akhirnya menemukan petunjuk yang bagi saya lebih gamblang dalam memahami apa itu Melampaui Peran seperti yang dimaksudkan oleh penyelenggara. Peran dalam Melampaui Peran bukanlah peran seperti analogi saya sebelumnya tenang bolpoin, melainkan lebih ke teknik pemeranan – teknik yang kadangkala memerangkap tubuh aktor dan menempatkan aktor sebagai robot yang hanya mampu mengerjakan perintah-perintah sutradara dan teks.
Dan untuk itu, penyelenggara telah merumuskan bahan ajar yang cukup terstruktur. Materi-materi bahan ajar tersebut meliputi menemukan tubuh yang jujur; suara sebagai nafas jiwa; ingatan emosi dan realisme psikologis; menulis dan merenungkan memori; melampaui teks – eksplorasi peran; menciptakan ruang imajinasi; kekuatan relasi dalam akting; humor, absurd, dan kejujuran; serta proses mencipta – dari aktor ke seniman (presentasi dan dekonstruksi peran). Semua materi itu disampaikan oleh dua narasumber, yakni Ab Asmarandana dan Edi Sutardi dengan dibantu oleh tiga fasilitator, yakni Abang Rende, Adiyat, dan Mar’ie Muhammad.
***
Agaknya, tak ada yang gampang dalam workshop keaktoran Melampaui Peran. Materi workshop dan latihan dimulai pukul 08.00 WITA dan berakhir pada pukul 22.00 WITA setiap hari dengan dua kali jeda istirahat, yakni pada pukul 12.00 sampai 14.00 dan 17.00 sampai 20.00. Namun, kerapkali, disusupkan diskusi selama setengah hingga satu jam tiap waktu istirahat tersebut. Kedisiplinan ditegakkan sedemikian rupa, sehingga, misalnya, ketika pada hari ketiga para peserta terlambat bangun dan jadwal latihan molor setengah jam, maka keterlambatan itu mesti ditebus dengan pengurangan waktu istirahat.
Target tiga kali pementasan dalam durasi sepuluh hari (sesungguhnya sembilan hari, sebab hari terakhir dijadwalkan untuk kepulangan) juga cukup memberi tantangan. Para peserta dituntut memahami, menafsir, serta mengeskplorasi teks lakon di sela-sela materi, meski kadang materi juga diarahkan ke persiapan pementasan, khususnya pementasan ensembel sebagai pementasan terakhir.
Tidak ada kelonggaran bahkan bagi para peserta yang terlambat bergabung dalam workshop. Pada hari kedua workshop, dua orang aktor yang baru datang, yakni Alfansuri dan Faridho Yuda tetap mempresentasikan monolog mereka pada pukul 20.00 WITA, sebelum sesi materi dimulai malam itu. Begitu pula yang terjadi pada Muhammad Ridho yang baru tiba pada hari ketiga.

