Catatan Pertunjukan "Ibu Negara" dari Penonton Biasa
Dwi Oktavianto
Ditengah kerumunan penonton, disaat lampu sorot mulai menyala, muncul seorang penari mengenakan topeng berbeda yang berpindah dari satu frame ke frame lainnya. Di detik ini aku mulai sadar, pertunjukan sudah dimulai. Matahari rasanya di seret ke Amphitheater ladaya, pertunjukan malam kali ini terang sekali.
Terang seperti apa? Apa ini kelebihan atau kekurangan? Maka dari itu mari kita mulai.
Pertunjukan teater lanjong malam ini berjudul ibu negara. Kenapa ibu negara? Kenapa tidak bapak negara? Di awal barangkali jawabannya belum ada, tapi tak perlu waktu lama sampai kemudian muncul 3 aktor kemayu u u uuuu (dibaca dengan nada syududu). Dan ya, itulah matahari yang dibawa malam hari ini.
Dalam pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 50 menit itu setidaknya aku ingin menyoroti 3 hal.
Pertama yaitu kritik yang terang benderang. Dibandingkan simbol-simbol, kritik yang disampaikan lanjong malam ini lebih banyak lewat verbal dan gestur aktor. Kita sebagai penonton tidak diajak untuk banyak berpikir, tapi lebih banyak dijejali.
Kedua, menjadikan frame sebagai arena peran lain. Di pertunjukan malam ini aktor tidak hanya memiliki satu peran. Tapi beberapa peran sekaligus. Tidak butuh ganti baju atau lampu sorot dimatikan, di waktu bersamaan ketika keluar dari frame, perannya langsung berubah. Mak deng. Yang awalnya kemayu langsung balik ke jati dirinya.
Ketiga, barangkali ini pertanyaan retoris dariku, yaitu “apa yang dibawa pulang oleh penonton?” Setiap datang melihat pertunjukkan lanjong aku selalu berharap ada sesuatu yang kubawa pulang. Tapi untuk malam ini, jika memang ada sesuatu yang dibawa pulang yaitu gambaran kerusakan negeri ini. Pun tanpa menonton pertunjukkan lanjong, bukankah itu yang sehari-hari disajikan sosial media?
Namun bagaimanapun yang buat tak habis kagum, lanjong benar-benar mempertimbangkan penonton. Mereka tidak tampil untuk menunjukkan bahwa mereka aktor yang aduhai, tapi mereka menjadi cerminan kehidupan di negeri yang hidup segan mati tak mau ini.
Demikianlah, semoga berkenan, dari penonton yang kali ini tidak menahan kencing sambil menonton pertunjukkan.
