Langkah Hantu
Tak mudah mengikuti langkah hantu. Dan persis itulah yang terjadi pada diri saya sewaktu menyaksikan ROM – Read-Only Memory, pertunjukan tari Odah Kaminari Indonesia pada tanggal 23 Agustus 2025 di Amphiteater Ladaya, Tenggarong, Kalimantan Timur, pukul 20.45 WITA dalam rangkaian Lanjong Art Festival 2025. Odah Kaminari Indonesia adalah satu lembaga yang bergerak di bidang sosial dan memiliki tujuan untuk menjadi pusat studi tari dan musik Indonesia yang kreatif dan inovatif. Keterangan itu bisa kita temukan dalam unggahan profil para ekshibitor untuk LAF tahun ini di akun Instagram Lanjong Foundation. Odah Kaminari, masih dalam unggahan yang sama, juga berkeinginan memberikan ruang, edukasi, serta fasilitas bagi siapa pun yang memiliki perhatian terhadap tari dan musik Indonesia dengan orientasi utama pada pengembangan sumber daya, apresiasi masyarakat, dan pertumbuhan khazanah produksi serta pengembangan ilmu pengetahuan tentang tari dan musik Indonesia. Saya merasa perlu menyampaikan penuh-penuh keterangan ini, sebab inilah langkah pertama yang paling mungkin saya tempuh untuk mengikuti langkah hantu yang mereka hadirkan.
Ketika saya berbicara mengenai langkah hantu, maka yang saya maksudkan adalah langkah hantu yang telah ditubuhkan pada langkah manusia, yakni langkah dua penari lelaki yang memasuki panggung pada pertunjukan Odah Kaminari sebagai permulaan, untuk pada akhirnya berjumpa dan berinteraksi dengan empat penari perempuan yang telah lebih dulu berada di sana. Hantu itu bernama Hantu Belau, yakni makhluk halus dalam legenda masyarakat Kalimantan (Kutai, khususnya) yang suka menggoda dan menyesatkan orang, terutama anak-anak kecil melalui fenomena “waling”. Waling berarti si anak dibawa ke alam gaib, disesatkan di sana, dan membuat si anak tersebut sulit ditemukan. Kerapkali, ketika pada akhirnya si anak ditemukan, ia akan berada di tempat yang tak terduga dalam kondisi lemas. Istilah Hantu Belau juga kadang digunakan secara lebih umum untuk merujuk pada sesuatu yang menakutkan atau tidak masuk akal, tergantung konteksnya. Di Sumatera, kita akan menemukan hantu lain dengan nama mirip yang mendiami sungai atau danau, yakni Hantu Blau. Meski kerap dilekatkan dengan sifat jahat serta jahil, namun, masyarakat Kutai juga mempekerjakan si hantu dalam narasi lain, yakni sebagai bahan pertakut untuk bocah-bocah bandel. Misalnya, untuk melarang anak-anak yang nekat mau bermain di hujan panas yang rawan bikin sakit. Konsep pemanfaatan makhluk jahat, jahil, dan seram seperti ini, sesungguhnya terjadi di banyak kelompok masyarakat. Masa kecil saya dipenuhi hantu-hantu semacam ini. Masyarakat agraris Jawa abangan seperti saya, misalnya, mengenal hantu Ndas Glundung, Wewe Gombel, Gundul Pringis, dan lain sebagainya. Hantu-hantu itu dipekejakan dalam narasi-narasi untuk membuat anak-anak mau berangkat mengaji atau tidak terus-menerus minta uang jajan, atau segera pulang untuk belajar menjelang Magrib. Dengan cara semacam itulah, hantu menempati posisi yang unik. Ia ditakuti, sekaligus dibutuhkan. Ia dibenci dan dihindari, sekaligus dihormati dan kerapkali dihadirkan untuk menjaga tatanan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Penghadirkan langkah Hantu Belau oleh Odah Kaminari Indonesia bukanlah upaya menakut-nakuti para penonton. Tak terlihat pula usaha menyodorkan horor atau teror. Jauh dari itu, pertunjukan ROM – Read-Only Memory justru tampak indah dan rapi dari segi bentuk, harmoni antar pemain serta musik pengiring terus terjaga dari awal hingga akhir. Tak ada riasan atau baju yang ganjil. Semua serba wajar namun terstruktur dan terukur. Pada titik inilah, alasan kenapa saya mengutip penuh-penuh keterangan identitas lembaga ini menjadi relevan. Langkah Hantu Belau, yang menjadi pondasi serta pintu pembuka sekaligus pintu penutup pertunjukan ini adalah upaya Odah Kaminari untuk turut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan tari di Indonesia. Mereka mengerjakan riset panjang, ambil andil dalam penyelamatan Jepen Romba, salah satu produk kebudayaan masyarakat Menamang, Muara Kaman, yang telah tenggelam hampir selama 29 tahun. Jepen Romba adalah jepen yang unik karena sepenuhnya dimainkan oleh laki-laki. Dan jika kebanyakan jepen bicara tentang suka cita, maka Jepen Romba memilih jalur yang berlainan, yakni yang gaib, yang bersifat mitologi. Pada bentuk asalnya, Jepen Romba memanggul falsafah hidup yang kokoh. Jepen ini, tak kurang, adalah penggambaran sosok laki-laki yang meski terlihat kasar dalam tingkah laku, namun memiliki tanggung jawab besar atas keluarganya. Penghadiran Langkah Hantu Belau dalam Jepen Romba, yang kemudian diambil serta dilolah oleh Odah Kaminari Indonesia dalam ROM, dengan begitu, bisa dibaca sebagai satu strategi penghormatan terhadap si hantu, mengambil posisi dan sisi lain dari si hantu.
Pijakan mitologi ini, dalam ROM – Read-Only Memory, kemudian membuka ruang yang lain, yakni ruang untuk menghasilkan tubuh kultural sekaligus emosi kultural. Pada saat-saat seperti itu, masing-masing penari mesti menyisihkan sebentar diri mereka, bukan untuk menyingkirkan atau menafikkan keberadaannya, melainkan untuk mengeja pengalaman baru. Kesediaan mengeja pengalaman baru, dalam konteks Habis Barat Terbitlah Timur sebagai tema besar Lanjong Art Festival tahun ini, adalah sesuatu yang tak terelakkan. Konsep tema besar festival ini adalah untuk menghadirkan ruang di mana semua suara layak didengar, di mana orang-orang yang hadir berbagi dan saling mencoba memahami, untuk pada akhirnya menumbuhkan empati, melahirkan manusia-manusia yang utuh sepenuhnya. Tanpa kesediaan untuk mengeja pengalaman baru, niscaya tujuan ini tidak akan pernah tercapai. Odah Kaminari, dilihat dari sudut pandang tertentu, mengerjakan jauh lebih itu. Mereka tidak sekadar memberi ruang yang setara untuk manusia, namun juga untuk hantu. Dari sudut pandang yang lain, mereka menghadirkan ruang yang sederajat untuk yang rasional dan yang mistis, Barat dan Timur.
Dalam catatan untuk pertunjukan ini, Odah Kaminari Indonesia menyatakan bahwa ROM merupakan manifestasi tubuh kultural yang membaca jejak-jejak memori penari dengan menghidupkan kembali fragmentasi budaya Kutai dalam denyut gerak. Gerak ikonik Jepen Romba, yakni Langkah Hantu Belau, adalah simbol keterhubungan antara dunia nyata dan dunia gaib, antara yang tampak dan yang tersirat. Di dalam setiap langkahnya, pertunjukan ini berupaya mempertanyakan di mana batas antara sejarah dan ingatan, antara tradisi dan tafsir pada koreografi hari ini. Tubuh menjadi arsip hidup yang mengungkapkan memori masa lalu dan kini. Pertunjukan ini juga hendak menciptakan dialog antara yang personal dan komunal, antara narasi besar dan bisikan-bisikan sunyi dalam diri. Ia merupakan upaya menjembatani masa lalu dengan imajinasi masa depan dalam tubuh yang meruang, merespon dan membaca ruang kebebasan melalui tubuh penari.
Saya tidak tahu apakah tujuan itu tercapai atau tidak. Saya lahir dan tumbuh besar dalam budaya Jawa dan kemudian bekerja sebagai seorang penulis yang lebih banyak bergumul dengan kata-kata ketimbang gerak dan visual. Hantu-hantu yang membayangi hari-hari saya bukanlah Hantu Belau. Langkah Hantu Belau adalah sesuatu yang sepenuhnya asing bagi saya. Dan tubuh saya, pada awalnya, memasang tembok-tembok yang tinggi dan kokoh, yang seperti menolak diruntuhkan. Hal ini tidak mampu saya elakkan meski saya mencoba mendekatkan diri saya pada si Hantu Belau melalui persinggungan dengan Wewe Gombel atau Gundul Pringis seperti yang saya tulis di atas, misalnya.
Dan di momen inilah ROM menghantui saya dengan cara yang lain, menghantui dengan bisikan-bisikan yang terus bergema sepanjang malam, bahkan jauh setelah pertunjukan selesai pada pukul 21.03 WITA. Bisikan-bisikan itu terdengar seperti ini: sisihkan dulu dirimu, ejalah pengalaman baru. Sisihkan dulu dirimu, ejalah pengalaman baru.
Ketika bangun tidur pada tanggal 24 Agustus pagi, saya mengenang kembali pertunjukan itu, membacanya sebagai arsip yang tertinggal dalam kepala. Dan tiba-tiba, saya ingin melangkah keluar kamar dengan Langkah Hantu Belau, satu langkah yang baru saya kenal, namun membuka kemungkinan bagi saya untuk lebih mengenal pulau di mana saya tinggal hari ini, yakni Kalimantan.
