Selesai Sebelum Melakukan
Pada Minggu, 24 Agustus 2025, selama dua jam yang dimulai pada pukul 09.30 WITA, Edi Sutardi atau yang kerap dipanggil Om Ed, bicara tentang “selesai sebelum melakukan” di Gedung Serbaguna Ladaya dalam workshop keaktoran yang beliau ampu sebagai salah satu mata program Lanjong Art Festival 2025. Frasa yang terdengar paradoks tersebut, sesungguhnya, dalam redaksi yang lain, telah terdengar tak kurang dari sebelas kali selama penyelenggaraan festival, sebagai salah satu dialog dalam naskah wajib para peserta kompetisi. Dialog dari naskah yang ditulis oleh Ab Asmarandana tersebut berbunyi: mangkanya, sampai dulu, baru berangkat. Dalam redaksi yang lain lagi, frasa semacam ini menjadi judul novel Faisal Oddang, yakni Tiba Sebelum Berangkat. Om Ed, Kang Ab Asmarandana, dan Faisal Oddang, tentu saja, berasal dari latar kebudayaan yang berbeda. Mereka juga tinggal di tiga kota yang berbeda. Kesamaan nilai yang ingin mereka sampaikan dari frasa tersebut, bagi saya, menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut sesungguhnya hidup di tengah banyak kelompok masyarakat.
Frasa itu mengandung banyak lapisan makna. Misalnya jika kita lihat dalam lapis makna kesadaran (mindfullness), maka tiba/sampai/selesai di sini bukan hanya soal fisik sampai di tujuan, melainkan hadir secara penuh dalam momen yang sedang dijalani. Dengan “tiba sebelum berangkat” atau yang semacamnya, seseorang sudah menyiapkan batin, pikiran, dan arah hidup sebelum benar-benar melangkah. Jadi, perjalanan bukan dimulai di titik berangkat, tapi jauh sebelumnya: dalam kesadaran diri.
Frasa ini juga bisa dikaitkan dengan tujuan. Sering kali orang berangkat tanpa tahu ke mana ia ingin sampai. Ajaran ini menekankan bahwa kita sebaiknya sudah membayangkan dan menegaskan tujuan bahkan sebelum langkah pertama diambil. Dengan begitu, perjalanan menjadi lebih tenang karena batin “sudah tiba” di arah yang jelas, tinggal tubuh yang menyusul.
Dalam beberapa tradisi mistik atau spiritual, waktu dipahami non-linear. “Tiba sebelum berangkat” bisa berarti bahwa perjalanan spiritual sejati bukan tentang bergerak dari titik A ke titik B, tetapi menyadari bahwa tujuan sudah ada di dalam diri. Artinya, kita tidak perlu menunggu sampai perjalanan selesai untuk merasa sampai; kita bisa mengalami “tiba” di saat ini juga.
Ungkapan ini bisa juga dibaca sebagai sikap penuh persiapan dan antisipasi. Sebelum melangkah, seseorang sudah menyiapkan diri sedemikian rupa sehingga segala kemungkinan di jalan sudah “ditiba”-kan di pikirannya. Hidup jadi lebih ringan karena tidak kaget oleh keadaan, sebab “sampai” sudah lebih dulu dialami dalam imajinasi dan perhitungan.
Jadi, singkatnya “tiba sebelum berangkat” atau “sampai dulu baru berangkat” atau “selesai sebelum melakukan” adalah ajaran tentang kesiapan, kesadaran, dan kemampuan menghadirkan tujuan di awal perjalanan. Ia mengajarkan kita agar tidak sekadar bergerak secara fisik, tapi juga hadir secara batin, sehingga perjalanan bukan sekadar perpindahan, melainkan pengalaman yang utuh.
Nilai-nilai ini, seperti yang saya sebut sebelumnya, agaknya muncul di banyak kelompok masyarakat. Masyarakat agraris-tradisional, misalnya, yakni petani, nelayan, atau pengembara yang sangat bergantung pada alam terbiasa hidup dengan siklus waktu yang tidak linear: musim tanam, musim panen, musim hujan, musim kering. Mereka perlu persiapan batin dan imajinasi jauh sebelum bekerja. Seorang petani, misalnya, harus sudah “tiba” pada bayangan hasil panen sebelum ia menanam; seorang nelayan sudah “tiba” pada harapan hasil tangkapan sebelum perahu dilepas ke laut.
Nilai-nilai ini juga hidup di masyarakat spiritual dan mistik (Jawa, Bali, Sufi, Buddhis). Dalam tradisi Jawa, ada banyak pitutur yang mirip: ngono yo ngono ning ojo ngono, atau “sebelum berangkat, mantapna atimu” – inti ajarannya adalah ngerti, ngrasa, nglakoni (mengerti dulu, merasakan, baru menjalani). Dalam tradisi Sufi, ada ungkapan “perjalanan sejati bukan keluar, tapi ke dalam.” Maka “tiba sebelum berangkat” sejalan dengan gagasan bahwa tujuan sudah ada dalam diri. Dalam Buddhisme Zen juga ada ajaran “jalan sudah sampai bahkan sebelum melangkah” – karena keberhentian dan kesadaran penuh ada di sini dan kini.
Di kelompok masyarakat pelaut atau pengembara, nilai-nilai ini juga hidup. Bagi pelaut Nusantara, “berangkat” bukan sekadar bergerak. Mereka harus sudah “tiba” di tujuan dalam perhitungan arah angin, bintang, dan ombak, bahkan sebelum layar dibentangkan. Perjalanan laut panjang membuat mereka mengandalkan peta batin lebih dulu daripada sekadar langkah fisik.
Om Ed, mengadopsi nilai-nilai tersebut dan menerapkannya untuk kerja-kerja keaktoran dalam workshop yang beliau ampu. Konsep ini, menurut Om Ed, diperlukan agar aktor senantiasa berada pada tubuh siaga, sehingga ia selalu siap untuk semua peran yang akan ia mainkan.
Ia menyampaikan enam tahapan yang musti ditempuh oleh seorang aktor, yakni:
- Tubuh Siaga
- Tubuh Aktif
- Ledakan Energi
- Impuls
- Variasi Energi
- Pintu Imajinasi
Tubuh siaga adalah tubuh yang rileks, tubuh yang sanggup mengontrol napas, aliran darah, detak jantung, segala macam pergerakan kecil dan renik yang membawa ke tubuh aktif. Tubuh aktif adalah tubuh yang siap, yang akan membawa gerak-gerak mikroskopik dalam tubuh ke permukaan. Aktor akan merasakan sensasi dari gerak tubuh, mulai dari ujung jari, bahu, pinggang, seluruhnya. Dan pada momen seperti itulah, akan muncul ledakan energi yang mesti dilepaskan. Pelepasan energi tersebut bisa ditempuh dengan cara melompat atau berteriak atau menjatuhkan diri dan lain sebagainya – yang jelas, satu laku untuk menyalurkan energi tersebut.
Ledakan energi tersebut, pada gilirannya, akan menghasilkan satu momen diam membeku untuk mendengarkan tubuh, menemukan impuls atau dorongan tubuh untuk melakukan sesuatu. Dorongan yang bukan berasal dari kekangan pikiran, namun murni dari tubuh itu sendiri – sebuah impuls. Impuls yang kemudian diwujudkan dalam laku seyogyanya diikuti oleh variasi energi, yakni perubahan gerak untuk terus menjaga sekaligus mengendalikan energi tersebut. Variasi energi itu, dalam praktiknya, bisa berbentuk perubahan tempo dari cepat ke lambat atau yang lain.
Dengan melampaui tahapan-tahapan tersebut, seorang aktor bakal kuasa membuka pintu imajinasi, ialah bagaimana ia memasuki situasi imajiner yang ia inginkan atau yang dibutuhkan untuk pertunjukan dan menghidupkannya. Dengan kata lain, aktor bakal sanggup menjadi apa pun yang ia imajinasikan, mulai dari makhluk hidup, batu, hingga embusan angin atau bahkan sesuatu yang lebih asbrak ketimbang itu.
Bagi Om Ed, ada dua proses penting yang mesti ditempuh oleh seorang aktor. Yang pertama adalah proses menuju artistik, yakni proses yang berkaitan langsung dengan materi seperti naskah, dan lain sebagainya; yang kedua adalah proses di luar artistik, yakni latihan membentuk tubuh dan kesadaran tubuh aktor. Tubuh aktor sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu tubuh intelejensi, tubuh emosi, dan tubuh fisik.
Agaknya, proses di luar artistik inilah langkah untuk menerapkan konsep “selesai sebelum melakukan” atau “tiba sebelum berangkat” atau “sampai dulu, baru berangkat” seperti yang disinggung di atas.
Dalam kaitannya dengan itu, Om Ed memberi penekanan lebih terhadap cara kita menyikapi keaktoran, yang tidak hanya terbatas pada wilayah teater atau pemanggungan, melainkan ke soal yang lebih mendasar, yakni kehidupan itu sendiri. Dengan rutin olah tubuh, misalnya, kita akan lebih sehat. Dengan rutin olah sukma, kita akan lebih peka pada kenyataan sosial. Dengan rutin membaca, kita akan memiliki banyak referensi dan pengetahuan untuk tubuh yang sesungguhnya, yakni tubuh realita. Kesemuanya akan menghasilkan tubuh siaga, tubuh yang sudah tiba sebelum berangkat, yang sudah selesai sebelum melakukan kerja-kerja keaktoran di atas panggung.
Kata kunci dalam workshop keaktoran kali ini, agaknya, adalah pemahaman tentang totalitas dalam keaktoran, bukan hanya demi kepentingan pemanggungan, namun juga dalam hidup dan realitas di luar panggung itu sendiri.
