Habateti : Merayakan Tubuh Kesenian

Merayakan Tubuh Kesenian

Kristal Firdaus

       Perayaan akan selalu hadir ketika ia diberi ruang. Merayakan berarti meluangkan, dalam hal ini melapangkan waktu & memberikan tempat yang layak. Ketika membicarakan perayaan tubuh kesenian, kita akan membayangkan sebuah pementasan yang berisi eksplorasi atau upaya menggerakkan berbagai sendi, organ tubuh, bahkan membebaskan ia menuju batas kompas. Habis Barat Terbitlah Timur atau disingkat HABATETI merupakan tema yang diangkat Lanjong Art Festival (LAF) 2025 pada kesempatan kali ini. Awalnya akan terkesan provokatif karena membuat kita membayangkan dua kutub atau ruang yang saling membatasi. Namun, ketika saya mulai merenungkan kembali dan mengizinkan tubuh saya untuk mencerna tema ini secara pelan, sampailah saya pada ruang tumbuh. Bagaimana ruang itu hadir karena perjalanan yang pelan-pelan menghapus prasangka & curiga.

       Di halaman belakang Ladaya, di antara pohon-pohon yang tegak dalam gelap biru pekat malam bersama harum dupa, Lanjong Art Festival membuka perayaan ini kembali setelah 8 tahun vakum tepat di pukul 8 malam pada Jum’at, 22 Agustus 2025. Saat itu, para penonton yang hadir telah membentuk setengah lingkaran mengitari panggung yang telah didekorasi dengan instalasi Pohon Setia Raja yang menghadirkan cermin di jantungnya. Ia muat untuk menampilkan dua tubuh sekaligus. Pohon ini berangkat dari cerita mengenai sebuah kota tak terlihat di Danau Melintang. Pohon Setia Raja menjadi gerbang, penjaga ambang antara yang terlihat dan tidak, antara yang kasat dan tak kentara. Dahan-dahannya dihiasi oleh lampu-lampu putih yang tudungnya berasal dari topi petani. Cermin hadir di tengah-tengah kita antara panggung penampil & penonton seperti menyiratkan siapakah kita hari ini, sekaligus medium berkaca untuk menemui diri-diri kita yang layu atau kembali rekah. Melihat pohon sebesar itu, membuatku mengingat Nabi Zakaria yang pernah bersembunyi di dalam pohon.

       Perlahan, sinar merah memenuhi halaman. Gendang tambur dan gong telah dibunyikan mengawali penampilan Tari Hudoq oleh Sanggar Seni Apau Punyaat. Tarian Hudoq merupakan bagian dari ritual Suku Dayak Bahau yang dilakukan saat memulai musim tanam untuk memberikan kesuburan dan kemakmuran. Pada malam itu, kita saksikan 4 penari Hudoq dengan topeng kayu dibalut rumbai hijau yang berasal dari daun pisang mulai bergerak dengan dinamis mengikuti dentuman musik & eskspresif melalui teriakan-teriakan spontan diikuti 1 penari perempuan dengan pakaian adat Dayak. Suasana itu membuka LAF 2025 dengan sakral. Aku membayangkan, yang malam itu kita tanam ialah bibit-bibit kesenian sekaligus memohon restu dengan alam di Ladaya, Tenggarong, Kutai Kartanegara sebagaimana festival ini akan berlangsung 22 Agustus hingga 27 Agustus 2025.

       Ketika perlahan-lahan penari Hudoq mulai melambat, pelan-pelan menjauhi lampu, muncullah dua pria; Mar’ie memakai pakain serba hitam dengan cawan berisi bara api sedangkan Adiat memakai pakain serba putih dengan memegang kembang api yang memancarkan cahaya hijau. Seiring itu, hadir musik suasana seperti raungan. Mereka berdua mengantar seluruh penonton perlahan berjalan kaki dari halaman belakang Ladaya menuju tribun amphiteater. Mereka berdua kembali menari, menempel seolah menyatukan tubuh, mengolah tubuh jadi satu, hitam membopong putih kemudian melepasnya di lantai. Panggung gelap, Mar’ie mengambil cawan apinya, menuntun Adiat dengan cahaya api dari belakang.  

       Petikan sape Kenyah berwarna putih dengan ornamen merah-hitam yang lembut membelah gelap yang ditinggalkan api. Suara cericit burung memberi perasaan tenang, dupa masih tercium & orang-orang makin memenuhi amphiteater. Penonton larut dalam petikan demi petikan maestro sape Dayak Kenyah oleh Anyeq Lian & Eri Cuno yang telah memindahkan suasana sungai & hutan Kalimantan di panggung malam itu. Dua penari lelaki tadi kembali hadir, menari dalam alunan sape yang cerah. Setelah merayakan tubuh & musik tradisional, kita melanjutkan perayaan melalui sastra lisan oleh maestro tarsul yang merupakan ikon seni tutur Kutai, Om Saiful. Ia memulainya dengan Bismillah kemudian melantunkan syairnya dengan khidmat mengenakan kopiah hitam. “Saling sengkarut untuk segalanya, semoga cukup yang tersedia” menggema di kepalaku. Ketika mendengar kalimat itu, air mataku pecah. Seperti diingatkan, betapa rakusnya kita dalam hidup dan terlupa dengan sesuatu yang sudah ada. Betapa ia tulus menuliskan syairnya hingga menembus mata & hati penonton. Rasanya seperti mendengar orang mengaji tetapi dalam bahasa Indonesia. Tak habis dengan tarsul, kita diiringi oleh maestro gambus tingkilan perempuan oleh Ibu Juwita. Petikannya membuatku mengingat tarian jepen, masa SMA saat bermain teater & teman perempuanku yang pandai memainkannya. Maestro perempuan itu menyanyikan lagu selamat datang sekaligus menceritakan inilah tingkilan khas Kutai diiringi doa-doa di antara petikan gambus & ritme gendang. Dua kesenian ini, merangkai dirinya sebagai tubuh syukur & pelipur.

       Rentetan penampilan demi penampilan seperti berakar pada doa juga ekspresi merekam sekitar, merekam tubuh yang mengarungi zaman. Mulai dari kaki, jari, bibir hingga penuh sebagai tubuh. Begitulah, Lanjong Art Festival 2025 membuka perayaannya. Ia memulai perjalanannya ke dalam, menuju timur. Bagaimana kelanjutannya, akan kita lihat di penampil-penampil selanjutnya. Bagaimana tubuh dipeluk dengan ruang yang membebaskan dirinya untuk terang.

Scroll to Top