Habateti : Kompetisi Teater “Tentang Anak-anak Panggung di Ladaya (Bag. 2)

Tentang Anak-anak Panggung di Ladaya

Figo Ar' Rayyan

        Teater Bastra – Samarinda: Galeri Hidup, Seniman yang Dijual

        Teater Bastra yang berdiri pada tahun 2004 adalah wadah kreatif mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman. Aktor-aktor yang mempresentasikan pertunjukan mereka di ajang kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025 adalah Fauzan Aprilianto dan Syahdina Meila Aulia. Mereka berdua disutradarai oleh Silla Faizattul Hayati.

        Persis begitu pembaca acara meneriakkan “selamat menyaksikan”, sekelompok pria dan wanita masuk menyusun properti, setiap penempatan barang-barang dibuat dengan menarik sesuai arahan Fauzan sang aktor. Tata rias dan busana yang dikenakan sang aktor mengesankan gaya seorang seniman, lengkap dengan gelang, kalung, dan cincin dari batu akiknya. Ia membuka galeri seni dan menjual berbagai macam barang yang memiliki nilai sentimental karena merupakan barang-barang peninggalan seniman senior seperti Putu Wijaya. Baju, topi, buku, lukisan, piano, seruling, semua tersusun dengan rapi. Syahdina muncul dengan outfit warna yang cerah dan ceria, berbanding terbalik dengan warna pakaian yang dikenakan Fauzan. Kehadirannya membuat Fauzan kesal, entah karena sikap atau naskah baru yang dibawa Syahdina. Fauzan, dengan caranya yang aktraktif, mengajak para penonton untuk menyanyi dan bereaksi agar suasana menjadi lebih hidup. “Panggung itu ibarat cinta, kadang redup dan kadang gemerlap, tapi selalu ada,” ucap Syahdina. Fauzan dengan lantang berucap “Kita hidup untuk ini”. Sumber cahaya baru mengarah ke para pemain musik, dan salah satu dari para pemusik itu berkata ingin membeli sebuah naskah untuk dua orang dan akan ditampilkan di sekolah luar biasa. Fauzan memberikan naskah yang dikehendaki tersebut, sebuah naskah yang berjudul “Kicau Sepasang Murai”.

        Setelah urusan dengan para pemusik selesai, pertunjukan kembali berfokus pada Syahdina yang bermonolog menjadi Hamlet, dan Fauzan menjelaskan tentang tragedi karya William Shakespeare tersebut dengan sangat serius, baik adegan, tatapan, dan suara yang mesti dikeluarkan. Penjelasan tersebut justru membuat Syahdina merasa takut. Ia kembali mencoba dengan tempo dan ekspresi yang berbeda. Cepat, serius, dan sedih. Fauzan meresponnya dengan sikap yang menggambarkan kekecewaan. “Jelek,” katanya. Ia lalu mendatangi dan mencari beberapa penonton untuk mencoba adegan yang sama, namun seperti yang terjadi pada Syahdina, tak ada dari penampilan para penonton yang berhasil menarik minatnya. Syahdina kemudian yang mengeluhkan hidup pemain teater yang tak pernah usai. Panggung tak hanya di satu tempat, tapi dunia adalah panggung sandiwara dari cerita yang berubah-ubah. Pertunjukan berakhir dengan Fauzan mendekap erat balon-balon berwarna merah hingga satu per satu pecah di dadanya, seperti meletuskan kegundahgulanaan dalam dirinya sendiri.

        Sanggar Seni Gauri – Lampung: Panggung yang Tak Pernah Usai

        Sanggar Seni Gauri merupakan sanggar seni ruang tumbuh, tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang rindu berkesenian di tanah yang sejuk dan tenang di Lampung Barat sejak tanggal 1 agustus 2017.  Delapan tahun setelah berdiri, Sanggar Seni Gauri mempresentasikan pertunjukan mereka di kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025 dengan sutradara Dona Sabattina.

        Pertunjukan dibuka dengan sorot lampu yang mengarah kepada seorang lelaki yang tengah tertidur di atas dua kursi sebagai penopang tubuhnya.

        Konsep pertunjukan Sanggar Seni Gauri malam itu adalah membuat fase-fase perjalanan hidup seorang aktor panggung. Panggung, pada praktiknya, dipecah menjadi tiga untuk menunjukkan masa kini, masa lalu, dan masa depan yang kesemuanya diikat oleh kalimat “to be or not to be”. Pada awalnya, kalimat tersebut diucapkan oleh pasangan aktor muda di satu sisi, lantas diucapkan dengan pahit oleh sepasang aktor yang lebih tua. Pada tiga kurun waktu berbeda yang mereka coba ciptakan itu, kita bisa melihat perbedaan pandangan yang dipengaruhi oleh usia dan pengalaman yang berbeda. Pada masa kini, misalnya, perdebatan antara kecintaan terhadap panggung dan kebutuhan konkret akan makanan menjadi tak berkesudahan, diakhiri dengan tidur sebagai pilihan terbaik untuk menghadapi hari esok. Di masa lalu, mereka adalah sepasang kekasih muda yang berlari menuju sorotan lampu, yang mereka anggap sebagai tempat teduh. Tangan menengadah, mengisyaratkan ambisi besar untuk menjadi aktor legendaris. “To be or not to be,” teriak mereka, kalimat yang penuh gairah tentang memilih antara hidup, mati, terus maju, atau menyerah. Keyakinan mereka begitu kuat, bahwa kegagalan hanyalah jeda untuk mencoba lagi, hingga pada akhirnya, harapan mereka untuk menjadi legenda bisa tercapai. Di masa depan, sewaktu sudah kenyang dengan pengalaman, mereka menyadari bahwa semua yang telah mereka peroleh itu hanyalah kenikmatan sementara. Mereka telah mengorbankan diri mereka sendiri untuk menghidupkan karakter, hanya untuk berakhir dilupakan. “Aktor adalah sesuatu yang tak pasti, hari ini kita bersinar, tapi besok?” tanya mereka, menyadari panggung punya cara kejam untuk perlahan merampas semuanya. Mereka menyimpulkan bahwa mereka telah menjadi tua dan tidak menjadi apa-apa. Mereka kemudian bangkit, berdiri di atas kursi, berpose tangguh dengan suara menggelegar. Mereka menjadi aktor yang selalu lapar tapi selalu berbakti pada panggung. Mereka menyadari, “Waktu memang kejam, ia memberikan hal yang tak mudah lalu merampasnya pelan-pelan.” Tapi, terlambat untuk berhenti, karena hidup telah habis di panggung. “Kita habis di panggung karena kita hidup untuk ini, Bang,” ujar salah satu aktor. “Namanya teater yang gak pernah selesai.” Mereka mengingatkan bahwa panggung adalah metafora dari kehidupan itu sendiri. Kalimat “to be or not to be,” yang ribuan kali diucapkan di masa muda, baru pada masa tua bisa dihayati maknanya.

        Pada akhirnya, pertunjukan ini adalah sebuah renungan yang berani tentang penyesalan dan penerimaan. Bahwa panggung teater, seperti kehidupan, tak akan pernah selesai, dan selama hayat masih dikandung badan, drama terus berlanjut.

 

        GWS Teater – Karawang: Spontanitas Sulap di Atas Panggung

        GWS Teater asal karawang adalah kelompok teater yang lahir dari semangat penyembuhan sosial dan budaya melalui seni pertunjukan. Berdiri pada tahun 2019, kelompok ini adalah bentuk kegelisahan terhadap minimnya ruang ekspresi seni yang mendalam dan bermakna di daerah. GWS Teater datang ke Tenggarong dengan dua aktor yang juga merangkap sebagai sutradara, yakni Hendri Pramono dan Husni Wardana.

        Pertunjukan GWS Teater dibuka dengan cara yang unik dan penuh kejutan. Seorang pria langsung berbicara kepada operator lampu, lalu memperkenalkan diri dengan lugas. Ia memohon maaf, berulang kali, karena tak bisa membeli tiket pesawat untuk datang ke Tenggarong dan terpaksa berutang, serta yang terpenting, ia tidak menggunakan naskah yang disediakan panitia. Ini bukan sekadar permintaan maaf, melainkan sebuah pernyataan berani tentang spontanitas dan orisinalitas yang akan menjadi inti dari pertunjukan mereka. Drama yang disuguhkan dimulai dengan interaksi langsung kepada penonton. Sang aktor meminta penonton melempar dan menangkap bola, hingga tiga orang terpilih menjadi aktor dadakan. Aksi ini langsung mencairkan suasana, dan salah satu aktor dadakan berhasil menciptakan gelak tawa dengan sikapnya yang tak terduga. Salah satu aktor GWS ternyata menyelinap di bangku penonton, memerankan penonton yang cerewet dan kemudian turun ke panggung untuk memberi tahu aktor lainnya tentang apa itu akting dan apa itu panggung, sekaligus menerjemahkan naskah wajib kompetisi dalam bentuk pertunjukan sekaligus menciptakan pengalaman yang tak terlupakan dengan sentuhan magis dengan rangkaian sulap yang ia mainkan. Pertunjukan sulap ini, misalnya, saat adegan Romeo dan Juliet, seorang aktor memberikan bunga dan tiba-tiba muncul pita panjang entah dari mana. Ini adalah sebuah pembeda, di mana seni akting berpadu dengan sulap, membuat penonton terheran-heran.

        Pada akhirnya, pertunjukan GWS adalah tentang refleksi diri. Menggunakan satu pencahayaan utama yang fokus, sang aktor merenungkan nasib panggung, tanpa ada gangguan. Ini adalah momen di mana semua lelucon dan kejutan berhenti, menyisakan sebuah keheningan yang mendalam. Mereka menunjukkan bahwa panggung bukanlah sekadar tempat untuk mengikuti naskah, tetapi sebuah wadah untuk spontanitas, keberanian, dan refleksi jujur tentang seni dan kehidupan.

        Zizaluka Project – Yogyakarta: Peluru Juliet dan Tragedi Hamlet

        Zizaluka Project merupakan ruang eksploratif pada wilayah seni pertunjukkan yang dibentuk pada tahun 2022. Berangkat dari hasrat personal masing-masing orang yang terlibat didalamnya, ruang ini di bentuk untuk mengolah dan mengembangkan gagasan secara kolektif, menguji perasa artistik yang terus tumbuh dan mengelolanya menjadi sebuah pertunjukkan. Dengan biografi semacam itulah Zizaluka datang dari Yogyakarta dan menjadi bagian dari peserta kompetisi teater dalam Lanjong Art Festival 2025 di Tenggarong, Kalimantan Timur. Mereka adalah peserta kompetisi pertama pada malam keempat festival (artinya malam ketiga sekaligus malam terakhir kompetisi, sebelum malam pengumuman pada penutupan festival nantinya).

        Pertunjukan Zizaluka dibuka dengan permainan DJ dari dua orang dengan lagu viral berjudul “Mangu” yang diremix, dengan latar rak pakaian. Instalasi alat DJ tersebut teronggok di atas sebuah meja yang ditutupi kain merah bertuliskan “Zizaluka Project” dengan logo berbentuk kupu-kupu kepala tengkorak. Ada pula sebuah manekin dengan baju-baju yang sepertinya berasal dari era Romawi.

        Di tengah pemainan DJ tersebut, tiba-tiba terdengar pertengkaran pasangan di antara para penonoton. Pertengkaran mereka mengejutkan sekaligus memperlebar wilayah panggung pertunjukan. Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa sepasang penonton yang bertengkar ini adalah aktor-aktor dari Zizaluka yang kemudian mempresentasikan naskah wajib kompetisi, yakni Anak Panggung di Negeri Panggung. Mereka menyudahi pertengkaran melalui keluhan si lelaki yarus mengalah dan memasuki panggung lebih dulu seraya mengatakan bahwa hubungan pernikahan kerapkali menjadi ancaman. Si aktor membuka alas kaki sebelum menginjakkan ke panggung, seakan-akan panggung merupakan kawasan yang suci. Pertunjukan mereka adalah pertunjukan yang menuntut fisik yang prima. Si lelaki, misalnya, melakukan gerakan kayang sambil mengucapkan dialog-dialog panjang. Pertunjukan mereka juga melibatkan cambuk dan pistol. Beberapa kali tembakan terdengar yang dilepaskan oleh si perempuan. Mereka juga merespon isu terkini, misal tentang kemungkinan Perang Dunia ketiga yang terjadi karena Israel berhasil menguasai tanah Palestina, Bitcoin yang tak lagi bernilai, gunung emas muncul, atau kemungkinan kiamat jika matahari terang-terangan terbit dari ufuk barat.

        Pada akhirnya, si lelaki mendatangi si perempuan yang sedang merenung duduk di atas meja, mendengarkan setiap omelan dari mulutnya dan mengeluh tentang hidup mereka yang penuh penyesalan, hidup seperti teater yang tak kunjung selesai. Layaknya panggung sandiwara, perbincangan yang membahas masalah satu sama lain membuat hubungan mereka mulai baik kembali. Suara musik instrument yang mendukung adegan romantis, di tutup dengan hubungan yang kembali bersama dan berdamai dengan keadaan. Zizaluka menghadirkan dinamika rumah tangga di atas panggung, sebagai satu pernyataan bahwa kehidupan domestik tersebut juga sebuah teater, yakni teater kehidupan.

         Halaman Budaya: Selama Hayat di Kandung Badan

        Ruang Kreatif Halaman Budaya adalah ruang dialog, tumbuh dan berkembang sebagai upaya mewujudkan gagasan-gagasan lintas disiplin secara kreatif dan inovatif sejak kemunculannya pada tahun 2017.

        Pertunjukan mereka melibatkan dua orang aktor. Suasana yang tegang segera muncul sejak mula pertunjukan sebagai efek dari perpaduan antara musik dan pencahayaan berwarna merah. Sepasang aktor tersebut diam seperti patung, terkadang bergerak di tempat, namun segera kembali diam. Pertunjukan yang mereka kerjakan lebih dominan ke teater tubuh. Dialog-dialog awal mereka diiringi dengan gerakan menyatukan tubuh ke lantai panggung. Salah satu dari mereka mengeluh tentang kariernya di dunia panggung yang tak seindah bayangan saat yang lain menawarkan sebuah naskah drama panggung tentang pahit manis kehidupan aktor. Mereka merasa ini adalah awal dari segalanya untuk mendapat nama, untuk mendapatkan panggung. Namun, pada kenyataannya, semua kembali seperti biasa saat lampu dimatikan, saat pertunjukan berakhir. Sekalipun begitu, pertunjukan Halaman Budaya bukanlah pertunjukan yang sepenuhnya tegang. Humor coba diselipkan di beberapa bagian, misalnya ketika mereka mencoba menirukan Hamlet dan Romeo and Juliet. Gerakan-gerakan yang disengaja agar tak sepenuhnya sempurna dan tak sesuai dengan kalimat atau gestur tubuh mengundang tawa. Pada akhirnya, kalimat “kita akan terus main kan selama hayat masih di kandung badan” menjadi penutup pementasan Halaman Budaya.

        Pertunjukan Halaman Budaya adalah pertunjukan kontemporer yang lebih menekankan pada tubuh. Dan agaknya, ini adalah satu-satunya peserta kompetisi yang menggarap wilayah tersebut untuk naskah wajib Anak Panggung di Negeri Panggung.

        Lentera Sisolangi – Palu: Mengenang dan Mengabdi di Atas Panggung

        Lentera sisolangi adalah komunitas seni teater independen yang memfasilitasi pembelajaran, pengembangan diri, dan eksplorasi artistik, melalui proses kreatif jangka panjang yang bersifat socio-profit. Lentera Sisolangi menjadi kelompok terakhir yang mempresentasikan pertunjukannya dalam kompetisi teater dalam rangka Lanjong Art Festival 2025. Dan untuk itu, mereka melibatkan aktor Andre Oktavianus dan Dito Indrawan, serta sutradara Irisuara.

        Pertunjukan Lentera Sisolangi dimulai dengan seorang lelaki yang duduk di atas dua kursi seraya memainkan harmonika dan gitar. Panggung yang hanya diterangi satu sumber cahaya ini perlahan berubah dari oranye menjadi biru, seiring dengan alunan musik yang mengalun tentang kebebasan dan kebenaran seorang aktor. Di balik keindahan musik itu, tersembunyi sebuah konflik. Seorang anak muda datang membujuk, berusaha meluluhkan hati lelaki yang bermain musik tersebut. Ia mencoba menyamakan mereka dengan tokoh dalam naskah, tetapi si lelaki yang lebih tua, yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia teater, tahu betul realita yang ada. Ia menceritakan pahit manisnya menjadi aktor, yang selalu pulang dengan perut kosong, tak peduli apakah itu dari panggung kecil atau panggung besar. Siklus yang sama terus berulang. Anak muda itu kemudian memulai monolog tentang pengabdiannya pada panggung, semangatnya untuk hidup di dalamnya. Sementara itu, ia yang lebih tua mencontohkan monolog dengan berdiri di atas kursi, memainkan gitar dengan suara yang sendu. Ia bercerita tentang aktor yang setia pada perannya, bahkan saat harus menahan lapar, dengan bayaran yang tak pasti, hanya nasi bungkus.

        Pertunjukan ini adalah sebuah perenungan mendalam tentang pengorbanan dan hasrat seorang seniman. Bahwa di balik kilauan lampu panggung, ada perjuangan untuk bertahan hidup. Monolog mereka, meski berbeda, menyuarakan satu kebenaran yang sama: dedikasi tanpa henti pada sebuah seni yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri mereka.

         Pada Akhirnya…

        Pengumuman pemenang kompetisi agaknya adalah salah satu mata acara yang paling ditunggu-tunggu dalam gelaran Lanjong Art Festival tahun 2025. Nama-nama para pemenang diumumkan pada malam penutupan, 27 Agustus 2025, persis setelah semua eksibitor rampung mempresentasikan karya masing-masing.

        Ab Asmarandana dan Iswadi Pratama memasuki panggung sebagai perwakilan dewan juri. Ab Asmarandana, pada mulanya, menyampaikan bahwa dewan juri telah menyusun catatan pertanggungjawaban secara lebih detail dan akan dikirim ke masing-masing grup peserta kompetisi sebagai bahan evaluasi. Malam itu, Ab Asmarandana membacakan daftar nominee untuk dua kategori yang telah ditentukan untuk kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025, yakni kategori sutradara terbaik dan aktor terbaik.

        Nominee sutradara terbaik adalah Riski Rizal Maundri dari Sosial Teatrikal, Wit “Jabo” Widianto dari Lesbumi, Aldo Adriansyah dari Zizaluka Project, Hendri dan Husni dari GWS Teater, dan Sila Faizatul Hayati dari Teater Bastra. Sementara nominee untuk aktor terbaik adalah Hendri dari GWS Teater, Muhammad Ridhoni dari Dapur Teater, Priyo Nugroho dari Sosial Teatrikal, Adel Tripani dari Lesbumi, dan M. Ibnu Sochib dari Zizaluka Project.

        Iswadi Pratama mengambil alih peran untuk mengumumkan pemenang dari dua kategori tersebut. Wit “Jabo” Widianto terpilih sebagai sutradara terbaik, dan Priyo Nugroho dari Sosial Teatrikal sebagai aktor terbaik.

        Dan begitulah rangkaian kompetisi dalam Lanjong Art Festival 2025 berakhir.

Scroll to Top