Habateti : Kompetisi Teater “Tentang Anak-anak Panggung di Ladaya (Bag. 1)

Tentang Anak-anak Panggung di Ladaya

Figo Ar' Rayyan

       Habateti

       Habis Barat Terbitlah Timur (Habateti) adalah tema besar yang diangkat Yayasan Lanjong untuk Lanjong Art Festival 2025. Tema ini, yang tentu saja memiuhkan judul buku R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terdengar cukup provokatif, seakan-akan ada dua hal dalam kerangka oposisi biner yang dibenturkan, dengan pemihakan ke salah satunya. Namun, jika kita berkenan membaca penjelasan lebih lanjut mengenai tema tersebut, yang bisa diakses di website resmi Yayasan Lanjong, yakni lanjong.id, kita akan mengetahui bahwa kesan provokatif tersebut ternyata tak berdasar. Habis Barat Terbitlah Timur, tak kurang dan tak lebih, adalah upaya mengakui bahwa Barat dan Timur, sebagai kawasan geopolitik, memang ada dan tak dapat disangkal, namun, keberadaan itu bukan untuk ditajamkan atau dibenturkan, melainkan untuk dipertemukan, dirayakan, dialami. Sebagai konsekuensi dari pertemuan, perayaan, dan pengalaman tersebut, kita akan mampu mengenali diri kita sendiri secara lebih utuh, diri yang dibentuk oleh berbagai macam lapisan pengetahuan dan kebudayaan, pengalaman serta perjumpaan, dan seterusnya. Bahwa di hari-hari ini, identitas dan orientasi nilai merupakan sesuatu yang plastis dan fleksibel, banyak ditentukan oleh jejaring yang lebih luas dan sangat dinamis. Habis Barat Terbitlah Timur, dengan begitu, adalah juga upaya untuk meretas ketimpangan dan prasangka, mengikis inferioritas serta stigma, sekaligus ajakan untuk terus mengenali diri sendiri, mendengar suara yang beragam, merayakan segala perbedaan dalam ruang yang terbuka dan setara.

       Dalam penyelenggaraan Lanjong Art Festival 2025, tema besar tersebut diturunkan ke dalam empat program utama, yakni kompetisi teater, sarasehan, workshop, dan eksibisi. Program kompetisi dimulai sejak jauh hari sebelum pelaksanaan LAF, diawali dengan panggilan terbuka kepada semua kelompok teater di Indonesia, dilanjutkan dengan proses kuratorial oleh Ab Asmarandana dan Iswadi Pratama, yang kemudian menghasilkan sebelas kelompok teater dari Lampung hingga Palu sebagai peserta kompetisi. Kesebelas kelompok tersebut akan mementaskan naskah yang sama, yakni Anak Panggung di Negeri Panggung, sebuah naskah yang ditulis oleh Ab Asmarandana dan kurang lebih berbicara persoalan eksistensialisme seorang aktor, kegundahan kehidupan seorang aktor, dan seterusnya. Berdasarkan undian, kesebelas kelompok teater tersebut akan mempresentasikan pertunjukannya selama tiga hari dari tujuh hari pelaksanaan LAF, dimulai dari hari kedua di mana Lesbumi, Teater Mahakam, Sosial Teatrikal, dan Dapur Teater beraksi. Pada hari ketiga festival, akan tampil Teater Petra, Teater Bastra, Teater Gauri, dan Teater GWS. Sementara pada hari keempat festival, giliran Zizaluka Project, Halaman Budaya, serta Lentera Sisolangi yang tampil. Selain dua kurator awal, komposisi juri kompetisi dilengkapi oleh Profesor Yudhi Ariani.

           Dan begitulah kompetisi berjalan.

 

        Lesbumi – Tasikmalaya: Senandung Bambu Kehidupan

        Lesbumi Tasikmalaya merupakan bagian dari Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI), lembaga seni budaya di bawah naungan Nahdatul Ulama. Pada kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025, mereka mendapat undian pertama untuk tampil.

        Lesbumi menampilkan dua aktor, yakni Adel Tripani dan Pongkir Wijaya, dengan sutradara Witjabo. Setting panggung mereka didominasi serba bambu dalam berbagai bentuk dan struktur. Ada yang membentuk segitiga yang mengartikan sebuah kerangka rumah, empat buah tiang bambu berdiri tegak, serta serakan tanah yang melingkari tempat mereka, seakan-akan itu adalah halaman rumah. Seorang perempuan dengan daster bersenandung dalam bahasa Sunda, seolah melantunkan mantra atau berdoa tentang rasa syukur atas rezeki yang diterima. Dua lampu dari sudut kiri dan kanan posisi setara dengan lantai panggung menghasilkan sebuah garis yang mengarah kepada si perempuan yang terlihat sibuk mengayak beras. Absennya suara musik justru membuat adegan ini semakin dramatis. Perlahan cahaya mulai menerangi panggung.

        Seorang lelaki duduk di antara dua kursi dengan baju merah merona yang terbuka, dilapisi dengan kaos kutang berwarna putih. Si perempuan membuka percakapan tentang naskah baru yang dimilikinya, naskah tentang drama panggung, yang memotret pahit manis kehidupan aktor. Perempuan itu mengeluh tentang kecintaannya terhadap panggung dan hidupnya, hingga kata “konkret” keluar dan dikaitkan dengan hal-hal sehari-hari. Lapar, kompor, Listrik, dan beras. Abah, si lelaki itu, bersenandung dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sepasang aktor tua dan aktor muda mencintai dunia panggung milik mereka berdua. Mereka berbincang tentang keluhan karirnya sebagai aktor panggung. Mereka berkonflik tentang pahit manis aktor panggung dan hidup.

         Lalu mereka beradu monolog. Dimulai dari Abah yang berlari ke arah rumah dan mencari properti yang cocok di sekitar tempat masak. Ia mengambil sapu dan mengubahnya jadi tongkat di kedua tangan, dan mengenakan bakul nasi di wajahnya. Dari kejauhan ia beraksi, mengeluarkan teknik-teknik berpedang dan sengaja mengenai kerangka bambu. Abah menuju ke salah satu tiang bambu yang berdiri dan mengangkatnya ke atas kepala yang mungkin bisa diartikan sebagai menanggung beban. Mereka bergantian bermonolog tentang keluh-kesahnya dengan panggung dan kebimbangan untuk terus melanjutkan hidup hanya mengandalkan teater. Abah kemudian duduk membelakangi si perempuan yang sedang menunggu jawaban dengan kedua tangan memeluk bakul nasi berdiri di depan rumah.  Si perempuan memainkan Hamlet, sarung di pinggang Abah menjadi jubah dan sebuah anyaman kerucut menjadi topi sihir, tak lupa tangan kanannya memegang sutil. Giliran sang Abah yang memerankan Romeo. Sapu menjadi ilusi gitar dan ia berdiri di atas kursi dengan pencahayaan top light membuat semua penoton berfokus padanya dan berimajinasi menunggangi kuda yanga kemudian berganti menjadi mobil untuk menjemput si perempuan yang menjadi Juliet.

        Canda tawa menemani mereka, tapi hanya sementara. Begitu mereka melihat beras di tampah, mereka kembali mempertanyakan kondisi hidup dengan cara menggoyangkan salah satu bambu yang berdiri tegak. Seketika semua bambu bergerak loncat-loncat yang mengartikan simbol ketekunan dan keyakinan dalam mengarungi kehidupan ini tentang ucapan, sikap, atau pekerjaan.

        Teater Mahakam – Samarinda: Dua Panggung Tanpa Tirai

        Berdirinya Teater Mahakam dipraksarsai oleh empat pemuda, yaitu Elansyah Jamhari, Muran Gautama, M. Sabir, dan Ramadani, pada tanggal 5 Oktober 1984. Setelah empat puluh satu tahun berdiri, Teater Mahakam dengan aktor Vina dan Veny, serta sutradara Nazib Mahardika, tampil pada urutan kedua di kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025.

        Panggung dibuka dengan dentuman alat musik tradisional yang misterius, lampu tak segera menyala untuk memancing rasa penasaran. Para penonton mulai berdatangan dan tak ingin kehilangan momen yang tak bisa dilihat setiap saat. Di tengah panggung, dua perempuan, yakni kakak dan adik yang kembar, berdiri di atas balok, seolah dalam dua dunia berbeda. Mereka berdiri di atas papan, terdapat satu kursi dan sebuah kotak bertuliskan Anker Bir, di atasnya terdapat sebuah stoples berisi kerupuk dan sebuah buku. Si kakak berada di bidang tersebut. Di bidang sebelah kanan, hanya ada satu kursi yang diisi si adik.

         Tak lama kemudian, si adik menawarkan sebuah naskah drama panggung, tapi si kakak lebih memilih konten 60 detik dibanding latihan 6 bulan demi pentas 60 menit. Sebuah pertanyaan bagi orang yang telah merasakan. Kakak ingin pentas ini dihargai karena banyak keluhan yang ingin didengarkan dan ingin dikabulkan tentang kebutuhan panggung, seperti gedung yang baik dan layak. Adik berpikir, cerita mereka sama seperti naskah yang ia bawa dan itu benar adanya, hanya saja kehidupan mereka tak bisa direvisi. Mereka kemudian bermonolog menjadi tokoh-tokoh dalam lakon-lakon besar seperti Juliet. Namun pada akhirnya, mereka merasa lelah.  “Lelah”, itu yang mereka ucapkan. Lelah pura pura, lelah jadi orang lain. Teater bagaikan tempat sirkus, tuntutan latihan yang melelahkan demi tepuk tangan sesaat. Bukan aktor yang cari sorotan, tapi sorotan yang butuh gelap agar tetap menyala. Renungan-renungan pemikiran tersebut diakhiri dengan perjalanan si kakak meskipun sudah ditolak lima festival.

         Sosial Teatrikal – Magelang: Panggung yang Menggantung

        Komunitas Sosial Teatrikal adalah komunitas teater independen yang berakar di Magelang dan berdiri sejak tahun 2023. Pada kompetisi Lanjong Art Festival 2025, mereka membawa aktor Priyo Nugroho dan Rizki Wulan serta Sutradara Kiki Maundri.

        Pada awalnya, lampu menyorot ke dua sudut panggung dan kursi yang melayang. Satu seting panggung yang mencengangkan. Dua aktor menyaksikan kursi itu dengan seksama, barangkali mereka juga merasa tercengang seperti penonton. Kalimat-kalimat yang kemudian mereka lontarkan menimbulkan rangkaian pertanyaan dan itu semua akan terjawab saat pertunjukan berjalan.

        Dialog-dialog yang dibawakan oleh para aktor adalah dialog-dialog yang medok dalam bahasa Jawa. Percakapan ini langsung memicu tawa, terutama berkat sikap si lelaki yang nyeleneh dan jenaka. Namun, di balik tawa, ada perdebatan serius tentang naskah dan kehidupan aktor. Si perempuan, Mbak Yu, mencurahkan isi hatinya, mengungkapkan bahwa meski telah menjadi pemeran utama, kariernya terasa seperti pola yang berulang, yakni selalu diakhiri dengan tidur dalam keadaan perut kosong. Di momen sedih itu, si lelaki hadir, bukan dengan solusi, melainkan dengan sebuah perumpamaan puitis: cinta layaknya panggung yang tak bisa ditebak, antara redup atau gemerlap. Sebuah dansa menjadi penutup duka sejenak, sebelum duka yang baru kembali datang. Pertunjukan ini kemudian berlanjut dengan monolog kehidupan yang mendalam. Mbak Yu berdiri di atas kursi, berpose bak tokoh Shakespearean, lalu mengangkat kursi di atas kepalanya sambil membungkuk. Aksi ini adalah metafora kuat tentang beban seorang aktor perempuan yang merasa tua, yang dulunya adalah “pemain Lady n Bird” tapi kini hanya “pembawa properti.” Namun, ia tetap berbakti, bersumpah untuk “hidup dan mati seribu tahun lagi” di atas panggung. Tak mau kalah dengan itu, si lelaki juga beresonansi dengan monolognya. Ia mengucapkan “aktor yang tak pernah menyerah,” meski hanya mendapat peran hiburan dan bayaran “nasi bungkus karena efisiensi.” Ia menyebut panggung sebagai “panggung realita,” tempat di mana ia tetap berdiri dengan tangan kosong. Uniknya, saat ia mencoba berakting menjadi Hamlet, penampilannya justru mengundang tawa. Aksi tersebut, entah disengaja atau tidak, dinilai “kurang Indonesia” dan dialog bahasa Inggrisnya “tidak sejelas masa depan aktor panggung.”

        Mereka berdua mencoba merenungi teater yang tak pernah usai dari panggung sandiwara yang harus dimainkan dalam satu peran. Mereka berdua kembali menghadap kursi yang menggantung, seakan-akan itu adalah panggung yang menggantung.

        Dapur Teater – Banjarmasin: Batas Antara Fiksi dan Kenyataan

        Dapur Teater Kalimantan Selatan adalah komunitas seni pertunjukkan yang berpusat di Banjarmasin. Berdiri pada 15 september 2008, komunitas ini lahir dari semangat para insan seni yang memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia pertunjukkan. Dengan aktor Bayu Bastari dan Muhammad Ridhoni serta sutradara Ario Ramadhan, mereka tampil pada urutan keempat kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025, sekaligus sebagai penutup kompetisi pada malam itu, sebelum dilanjutkan oleh penampilan empat peserta lain pada malam selanjutnya.

        Sorakan dan tepuk tangan penonton mendahului lantunan suara harmonika yang menggema di Amphitheater Ladaya, disusul aksi para aktor. Panggung dikemas cukup sederhana, yakni hanya dengan dua kursi dan satu meja. Seorang aktor, si Abang, sedang duduk membaca. Di tengah panggung terdapat gambar tirai yang telah usang dan sobek, dan sang Adik menawarkan naskah berjudul Anak Panggung Di Negeri Panggung. Bagi si Adik, Abang adalah orang yang pahit dan tak bisa diajak bercanda.

        Batas antara fiksi dan kenyataan menjadi kabur dalam pertunjukan Dapur Teater. Sutradara dapat muncul dari kursi penonton, berteriak “Cut” dan “Action” sambil menyuruh para aktor memindahkan properti. Para aktor, yang lelah karena kadang harus berperan ganda sebagai kru, mengekspresikan kepenatan mereka bukan dengan tangisan, melainkan dengan humor yang menusuk. Ada tekad kuat untuk setia pada panggung—sebuah “upacara kesetiaan pada mimpi” di mana mereka melihat diri mereka bukan sebagai figuran, melainkan sebagai penanda bahwa seni itu masih hidup. Namun, mimpi itu sering kali “lebih lapar daripada mereka.” Hal ini terlihat jelas dari monolog ironis tentang mie instan kedaluwarsa dan upaya menjual alat pencahayaan bekas demi sebuah gas. Mereka berani merangkul realita pahit ini. Saat sang Adik berupaya menjadi Hamlet, aktingnya justru dinilai “kurang Indonesia” dan mengundang tawa. Sang pria, di sisi lain, menyajikan “Romeo versi subsidi” yang penuh dengan referensi mie instan dan kopi 3-in-1. Ini adalah “panggung realita” di mana mereka tetap berdiri meskipun dengan tangan kosong.

        Pada akhirnya, pertunjukan ini adalah pengingat bahwa di balik peran yang dimainkan, ada perjuangan yang nyata. Di balik tawa dan air mata yang dibuat-buat, ada kebenaran tentang hidup yang terus berulang. Sebuah panggung yang butuh gelap agar sorotan bisa menyala, dan sebuah seni yang jujur saat berpura-pura.

        Teater Petra – Jakarta Pusat: Camping dan Cerita Drama Panggung

        Teater Petra merupakan wadah kreatif remaja karang taruna dan pelajar yang ada di wilayah kelurahan Galur, Jakarta Pusat. Pada kompetisi teater Lanjong Art Festival 2025, mereka mendapat urutan pertama pada malam ketiga festival (yang artinya malam kedua kompetisi) dengan sutradara Ahmad Rifqi Fakruzzaman dan aktor Rizka Audria Mairani serta Sekar Dwi Nawangwulan.

        Pertunjukan mereka dibuka dengan cahaya senter yang menyorot panjang di tengah panggung yang gelap sempurna. Semua mata penonton tertuju ke arah sumber cahaya dan lamat-lamat suara yang sedang mencari tempat untuk camping.

        Dua wanita masuk dari samping kiri panggung lengkap dengan tas, senter, dan jaket layaknya seorang pendaki yang menyatu dengan alam. Dan seperti dua orang pecinta alam, salah satu dari mereka mencari kayu bakar dan yang lain menunggu sembari membuat tenda. Dialog yang mereka berdua kerjakan terasa mengalir dan wajar, nyaris seperti dialog keseharian dan bukan dialog di atas panggung berdasarkan naskah. Mereka saling membantu menyalakan api dan mendirikan tenda. Setelah itu, mereka mulai mengobrol di samping unggun api yang membara, membicarakan naskah drama tentang pahit manis kehidupan anak panggung. Obrolan mereka mengingatkan kita kepada obrolan adik kakak yang dekat dan akrab, satu obrolan yang intim dan dekat. Mereka mulai membahas pahit manisnya kehidupan panggung yang terkadang tak sebanding antara yang mereka lakukan dan yang mereka dapatkan. Seraya mengobrol, persis seperti kehidupan sehari-hari yang wajar, mereka membikin mie instan dan kopi. Mereka memainkan gitar. Mereka memperagakan sikap seorang sutradara saat berada latihan dan berteriak, “Ayooo, mulai, ayook”. Sesekali mereka merenungi nasib si pemeran utama, mengingat kembali nasib yang tak kunjung berubah dan selalu berulang saat lampu dimatikan. Salah satu dari mereka melakukan pose Hamlet, melakukannya dengan penuh semangat di panggung yang sunyi dan gelap. Lalu berlanjut ke Romeo and Juliet dengan sungguh-sungguh hanya untuk mendapat nilai lumayan. Keadaan menjadi hening kembali, kebahagiaan hanya lewat sementara dan silih berganti dengan mempertanyakan peranan tak pernah usai dari dunia panggung sandiwara.

        Pertunjukan Teater Petra adalah pertunjukan yang memindahkan segala yang wajar di kehidupan sehari-hari ke atas panggung, tanpa membuatnya menjadi dramatis.

Scroll to Top