KORANKALTIM.COM : Pasar Petang, Menyemai Sastra di Tengah Hiruk Pikuk Senja

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Sebuah pasar biasanya identik dengan hiruk-pikuk jual beli barang, tawar-menawar harga, dan suara ramai khas ruang publik.

Namun, di tangan Yayasan Lanjong dan Ruang Sastra Kalimantan Timur, definisi itu digeser dengan lembut namun pasti. “Pasar Petang”, yang digelar di kawasan wisata budaya Ladaya, Tenggarong, menjadi semacam oase, ruang pertemuan antara manusia, kata dan budaya dalam satu tarikan napas senja.

“Ini bukan sekadar event. Ini adalah cara kami membangun kembali hubungan manusia dengan bahasa yang selama ini makin tergerus oleh rutinitas digital,” ucap Ketua Yayasan Lanjong, Ahmad Qoshashih, Sabtu (17/5/2025).

Dengan mengusung konsep “kata sebagai mata uang”, pengunjung Pasar Petang tidak membayar dengan uang, melainkan dengan puisi, catatan pendek, atau kalimat penuh rasa. Sebuah sistem barter estetik yang membuka ruang intim antara pengunjung dan karya sastra.

Mengangkat tema Setelah Korrie, Pasar Petang menjelma sebagai bentuk penghormatan dan keberlanjutan terhadap jejak Korrie Layun Rampan, sastrawan besar Kaltim.

Scroll to Top