INILAHTASIK.COM : Pasar Petang, Saat Puisi Jadi Tiket dan Kata-Kata Menjadi Mata Uang

INILAHTASIK.COM | Di tengah deru zaman yang didominasi derit mesin dan klik-klik layar sentuh, Pasar Petang hadir sebagai ruang jeda—sebuah perhentian sunyi yang menggugah. Diselenggarakan oleh Yayasan Lanjong dan Ruang Sastra Kalimantan Timur, acara ini bukan sekadar tempat jual beli seperti pasar pada umumnya. Ia adalah panggung bagi bahasa, wadah di mana kata-kata diperlakukan sebagai nilai, bukan sekadar alat.

Tak ada rupiah yang berlaku di sini. Untuk memasuki area wisata Ladaya, pengunjung cukup membawa sebaris puisi, selembar catatan, atau kalimat yang lahir dari hati. Kata menjadi tiket masuk, dan sastra menjadi sarana tukar paling jujur. Petang pun menjelma momen pertemuan lintas ruang dan generasi.

Mengusung tema Setelah Korrie…, acara ini menjadi refleksi sekaligus pembuka jalan. Korrie Layun Rampan, tokoh sentral sastra Kalimantan Timur, bukan hanya dikenang, tetapi juga dijadikan pijakan untuk menumbuhkan narasi-narasi baru. Pasar Petang bukan nostalgia, melainkan awal yang segar bagi para pencinta kata.

Scroll to Top