Dramaturgi Hujan
Semua ini, agaknya, hanya terjadi di sebuah catatan yang sentimental, yakni ketika saya gagal menemukan seukuran jarak yang cukup untuk menulis sesuatu yang “obyektif” tentang apa-apa yang terjadi di Kampung Seni Ladaya pada tanggal 15 Maret 2025 atau malam 16 Ramadan 1446 Hijriah. Saya telanjur hadir dengan keseluruhan tubuh saya. Dan saya mengalami apa-apa yang terjadi dengan keseluruhan tubuh saya.
Tubuh-yang-mengalami itu adalah tubuh yang beberapa waktu sebelumnya, dalam bentuk tubuh-digital, menemui poster-poster Sahur Mayur 13 di Instagram. Sulur Syukur, satu frasa dengan rima merdu dan lembut yang tertera dalam poster-poster itu, merupakan tajuk besar untuk Sahur Mayur 13 sekaligus merupakan ajakan untuk belajar kepada sulur. Sulur, sesuatu yang yang dalam sunyi terus merambat mencari pegangan. Pegangan tersebut, dalam masa-masa disrupsi seperti saat ini, salah satunya adalah syukur. Mencoba menerima ajakan tersebut, tubuh saya kemudian seperti melakukan hijrah dari tubuh-digital ke tubuh lain, tubuh saya untuk sementara mengira bahwa ia adalah tubuh sulur, tubuh yang merayap, sekaligus tubuh yang berupaya menjulurkan rasa syukur. Dengan tubuh semacam itulah saya kemudian berangkat ke Tenggarong dari Samarinda selepas jam 20.00 WITA. Jalan basah sepeninggal hujan sepanjang jalur. Udara dingin dan di langit, mendung masih menggantung. Di antara gumpalan-gumpalan mendung itu, saya tahu, saya menaruh harapan bakal menemukan pertunjukan-pertunjukan yang akan memberi petunjuk dalam rangka menguatkan tubuh-sulur saya untuk memegang sekaligus memanjatkan rasa syukur.
***
Hujan tidak dijadwalkan bermain di Sulur Syukur. Dan karena itu, namanya tidak tercantum di poster-poster publikasi.
Pada sekitar 21.30 WITA, ketika saya menginjakkan kaki di lapangan terbuka panggung Kampung Seni Ladaya, hujan memang sudah tak ada. Namun jejak kakinya masih tersisa. Beberapa orang panitia tampak bahu membahu mengalasi lantai dengan lembaran-lembaran plastik transparan berukuran besar, dan melapisinya dengan semacam ambal. Saya tahu tanpa perlu bertanya ke siapa pun, di salah satu sudut ambal itulah saya akan duduk, berdesak-desakan dengan tak kurang dari tiga ratus pengunjung lain – sesuai dengan jumlah minimal tiket yang terjual. Di atas panggung kolosal dengan panjang tak kurang dari dua puluh meter, kelompok musik Nawasena sedang mencoba suara.
Semua berjalan baik-baik saja. Satu persatu pengunjung berdatangan. Saya bersalaman dan menyapa beberapa yang kebetulan saya kenal. Setelah menanyakan kabar, percakapan selalu mengarah ke hujan dan apakah kami kehujanan dalam perjalanan ke Ladaya. Hujan, agaknya, selalu punya cara untuk muncul dalam berbagai bentuknya. Namun di atas itu semua, terlihat wajah-wajah lega lantaran hujan telah (dianggap) reda. Ada syukur yang perlahan memanjat ke langit. Sulur-sulur syukur, agaknya, sudah mulai bekerja.
Namun persis pada saat itulah, pada waktu setiap orang telah sepenuhnya yakin bahwa hujan tak akan lagi turun, pada waktu rangkaian acara siap dimulai, tetes pertama setelah jeda meluncur dan hinggap di ujung hidung.
Orang-orang mendongak. Mungkin dengan sedikit ragu-ragu.
Dan apa yang diharapkan tak terjadi, terjadilah.
Hujan turun. Kian lama kian deras. Orang-orang berhamburan. Sebagian yang telah menempati tempat duduk di ambal berlarian mencari tempat berteduh di pondok-pondok (atau lamin-lamin) kecil sekeliling lapangan, sementara para panitia bersigegas menggulung ambal, menutup instalasi lampu, perangkat suara, dan kamera-kamera.
***
Kecemasan merambat semakin cepat seiring curah hujan yang kian deras. Beberapa orang mendongak, menatap langit sembari mengangkat tangan, seolah dengan itu, mereka bakal mampu menyibak mendung. Dari kejauhan, saya mengamati mereka dan, ajaibnya, sebagai orang yang tak punya cukup kepercayaan terhadap kekuatan adikodrati semacam itu, turut berharap mendung benar-benar tersibak.
Pada satu momen, saya bahkan turut mengangkat tangan dan menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri. Satu peristiwa kecil yang tentu saja tak akan bekerja sebagaimana yang saya khayalkan. Mendung masih menggantung di langit sana, dan hujan tetap turun, malah bertambah intensitasnya. Namun ada sensasi asing yang saya rasakan. Untuk sesaat, saya merasa terlempar ke masa yang jauh, ke masa ketika leluhur-leluhur saya masih berkeliaran di muka bumi dan modernitas beserta segala pemujaan terhadap nalar adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Masa-masa sewaktu ritual bukanlah lelucon, masa-masa ketika apa yang hari ini dikenal sebagai seni pertunjukan adalah bagian dari ritual yang sakral.
Momen itu pula yang membuat saya bertanya-tanya: sebagai tubuh apakah tangan saya bergerak? Apakah tubuh saya kembali mengalami satu migrasi dan kini beralih menjadi tubuh-aktor yang sedang mengerjakan satu ritual, meski tentu saja itu bukanlah ritual sakral seperti ratusan tahun lampau?
Panitia Sulur Syukur, barangkali, telah merancang satu dramaturgi pertunjukan untuk malam itu. Dalam dramaturgi yang diancang tersebut, saya barangkali akan berperan sebagai satu dari kerumunan penonton. Namun hujan, kenyataannya, merencanakan dramaturginya sendiri. Dan dalam dramaturgi itu, saya bisa turut menjadi aktor.
***
Hujan turun berkepanjangan. Semakin banyak muka yang menampilkan raut cemas. Saya bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Menemui satu dua orang lain. Berbicara ini itu. Berpindah lagi untuk menemukan tempat teduhan yang lebih baik. Dan seterusnya. Pada kenyataannya, bukan hanya saya yang mengerjakan laku semacam itu, melainkan sejumlah orang lain.
Orang-orang bergerak acak.
Orang-orang berbicara acak.
Orang-orang berwajah cemas.
Orang-orang mendongak.
Orang-orang berdoa.
Sebuah mobil bak terbuka berwarna putih memasuki lapangan dan melakukan manuver kecil. Ia mengangkut kursi-kursi plastik berwarna hijau muda. Para panitia menurunkan kursi tersebut, menatanya di depan panggung. Saya tahu, panitia berpikir tak mungkin menggelar kembali ambal ketika hujan reda nantinya, dan mereka menyediakan kursi untuk para penonton.
Gerakan-gerakan mobil dan kesibukan menurunkan serta menata kursi, bersitegang sekaligus saling melengkapi dengan gerakan-gerakan acak dari orang-orang lain, menghasilkan satu komposisi yang tak terduga-duga sebelumnya.
Dramaturgi hujan telah menciptakan satu koreografi yang barangkali tak banyak disadari oleh mereka yang hadir di Kampung Seni Ladaya malam itu. Satu koreografi yang bukan didesakkan oleh konsep-konsep tari atau teori pemanggungan dari luar atau ruang-ruang akademis, melainkan murni didorong oleh tenaga dari dalam tubuh. Dan dengan begitu, itu adalah koreografi yang organik.
***
Pukul 23.46 WITA, hujan terlihat mengendur dan semacam negosiasi nampak mungkin diselenggarakan. Kursi-kursi yang tertata rapi mengundang para pengunjung untuk mendudukinya. Seperti beras yang ditampi, orang-orang kembali bergerak acak dari berbagai macam sudut untuk menuju ke satu pusat, ialah depan panggung. Itu mungkin satu gerakan yang biasa di hari-hari biasa, namun, di malam 16 Ramadan, pikiran saya menyeret ingatan ke gerak orang-orang menuju masjid, orang-orang dari segala macam penjuru pemukiman, bergerak dengan satu tujuan yang sama.
Namun tentu saja tak ada imam yang akan memimpin salat di Kampung Seni Ladaya, melainkan dua orang pembawa acara yang menyampaikan semacam optimisme bahwa rangkaian acara Sahur Mayur segera dimulai. Mereka mengawali dengan permintaan maaf terkait keterlambatan acara, meski bagi saya, tak ada yang perlu dimaafkan.
Pembawa acara kemudian menyebut satu nama: Mar’ie Muhammad. Dan lampu tiba-tiba padam. Ketika semua mata tertuju ke panggung, mengira seseorang dengan nama Marie Muhammad akan muncul di sana, ternyatalah panggung hanya menyajikan kesunyian yang memanjang. Di tengah-tengah penonton, seseorang dengan kemeja putih dan bawahan kain hitam, tiba-tiba muncul dengan segenggam koran (atau majalah). Cahaya lampu sorot mengarahkan perhatian penonton. Dan saya merasakan ketegangan mengambang di udara. Ketegangan yang muncul dari negosiasi yang tak berjalan mulus antara dramaturgi yang dikerjakan manusia dengan dramaturgi yang dikehendaki hujan yang masih turun meski tak lagi deras.
Mar’ie Muhammad melempar-lempar lembaran koran (atau majalah) ke tengah penonton, dan hujan yang keras kepala membasahi lembaran-lembaran itu hingga lembaran-lembaran basah itu tak kuasa melayang-layang seperti burung, melainkan segera jatuh seperti gumpalan lempung. Suasana hening dan tetes-tetes hujan yang menembus cahaya lampu sorot menciptakan benang-benang air yang terasa puitis.
Puitis. Saya kira itulah kata kunci yang kemudian menjadi jembatan bagi terciptanya semacam kompromi antara hujan dan pertunjukan Marie Muhammad yang berjudul The Paradox of Being. Keheningan masih bekerja sampai Mar’ie Muhammad selesai melempar lembaran-lembaran di tangannya, dan melilitkan sisanya ke kepalanya yang botak, menghasilkan satu makhluk asing dengan kepala yang dipenuhi teks. Pada waktu itulah, dentuman-dentuman dengan tempo yang kian lama kian rapat mulai terdengar dari perangkat pengeras suara, diikuti oleh narasi-narasi dalam bahasa Inggris yang mempersoalkan rasa sakit.
Tubuh Mar’ie Muhammad menjelma tubuh yang sakit. Tubuh yang berkelahi dengan dua macam teks, yakni teks yang membungkus kepalanya dan teks yang meluncur dari pengeras suara. Di luar itu, ia masih harus terus bernegosiasi dengan hujan. Kesakitan berlapis itu menular, barangkali diperantarai tetes hujan dan udara dingin, menembus tubuh saya, si tubuh-yang-menatap.
Untuk beberapa detik yang seakan berlangsung selama-lamanya, saya merinding. Pekerjaan saya sebagai penulis agaknya turut berperan dalam soal bagaimana kesakitan yang dibawa oleh tubuh Marie Muhammad menemukan rumahnya pula dalam tubuh saya. Saya tahu bagaimana rasanya ketika teks-teks berkelit kelindan dalam kepala dan tak bisa dikeluarkan lantaran satu dan lain hal. Teks-teks itu berisik, berteriak, memberontak, kadangkala memancing saya untuk membenturkan kepala ke tembok.
Suara-suara dalam kepala Mar’ie Muhammad melakukan hal yang sama, agaknya.
Namun, untungnya, Mar’ie Muhammad tidak membenturkan kepalanya ke tembok. Ia bersusah payah melepaskan ikatan teks-teks yang membungkus kepalanya, ia berkelahi degan dirinya sendiri untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia berhasil meski narasi-narasi kesakitan terus terdengar, kali ini diiringi musik yang semakin padat. Suara-suara itu masih mengganggu, dan Mar’ie Muhammad terus bergerak. Sebagai tubuh yang bergerak, ia menjelajahi banyak khazanah, salah satunya adalah ke pola-pola trance dari tari sufi yang dikembangkan Jalaludin Rumi.
Pertanyaan yang kemudian muncul di kepala saya adalah: apakah kesakitan itu yang membikin Mar’ie Muhammad sampai kepada trance atau justru ia trance untuk berdamai dengan kesakitan itu?
Berangkat dari sesuatu yang personal dan berkaitan dengan persoalan-persoalan domestik dari dalam rumah, Mar’ie Muhammad, dalam perbincangan santai setelah pertunjukannya, mengatakan bahwa ia sedang berbicara tentang kesehatan mental, tentang pengaruh standar hidup media sosial, sistem dukungan lingkungan sekitar yang tak sesuai harapan, dan lain sebagainya – hal-hal yang agaknya menjadi isu besar masyarakat kita hari ini.
Namun, saya kira, Mar’ie Muhammad tidak semata mengeluh. Ia tidak menempatkan tubuhnya sebagai tubuh-pengutuk yang terus menerus merutuki keadaan. Alih-alih mengutuk kegelapan, ia menyalakan sebatang lilin. Beberapa kali, ia mengacungkan satu jari ke atas, menengadahkan tangannya seakan berdoa, dan lain sebagainya, menggenapi laku tari sufi Jalaludin Rumi. Ia, barangkali, sedang mengingatkan kita untuk kembali ke Tuhan (atau yang semacam itu) sebagai salah satu jalan untuk menyelamatkan diri dari kesakitan yang dialami.
Lilin itu (secara metaforis) menyala di akhir pertunjukan. Jalan menuju Tuhan ia tempuh dengan berlari. Ia berlari. Ia berlari. Barangkali, hingga habis napas. Sebelum kemudian ia mengacungkan satu jari ke atas, menunjuk Tuhan, barangkali, dan cahaya lampu sorot perlahan menyempit, menyempit, menyempit, dan pada akhirnya hanya menyinari jari telunjuk yang teracung tersebut. Satu penutup yang, sekali lagi, puitis.
***
Jika Mar’ie Muhammad menghadirkan tubuh-sakit-yang-puitis, maka Adiyad dan Risko menyuguhkan semacam prosa yang lebih cair di pertunjukan kedua. Jika Mar’ie Muhammad mendekatkan tubuhnya ke tubuh penonton, Adiyad dan Risko memutuskan mengambil jarak, memberi ruang bernapas untuk penonton, dan berdiri di atas panggung raksasa, menantang diri mereka sendiri untuk bernegosiasi dengan ruang lapang panggung kolosal.
Pertunjukan bertajuk Trial and Error itu, sesungguhnya, merupakan satu karya tari eksploratif yang merepresentasikan proses pencarian melalui siklus mencoba, gagal, belajar, dan bangkit kembali. Benturan antar penari, jatuh-bangun, serta repetisi gerakan menegaskan bahwa proses eksplorasi merupakan elemen penting dalam perjalanan kehidupan manusia.
Hujan, agaknya, menyambut, menguji, sekaligus menegaskan apa yang ingin mereka kejar dari pertunjukan tersebut. Hujan yang kembali menebal di tengah kesakitan Mar’ie Muhammad, bertambah tebal lagi pada pertunjukan Adiyad dan Risko. Tugur di tengah panggung dalam guyuran hujan, mereka berdiri berhadap-hadapan dengan masing-masing satu tangan menyentuh pundak satu sama lain. Beberapa menit berlangsung dan mereka bertahan dalam posisi semacam itu, posisi yang agaknya memaksa saya untuk berpikir: ke mana serta bagaimana dramaturgi hujan akan membawa kita?
Setelah menit-menit yang purba, Adiyad dan Risko mulai bergerak. Seperti apa yang mereka kehendaki, mereka berbenturan, mereka jatuh untuk kembali bangun, mereka bangun untuk kembali jatuh, repetisi-repetisi yang mungkin bakal membawa ingatan kita ke apa yang dikerjakan Sishipus, yakni mendorong batu ke puncak bukit untuk kemudian menggelindingkannya kembali ke bawah, atau menuju ke khazanah yang lebih dekat: apa yang dikerjakan Syeh Domba dalam rangka menuruti perintah Sunan Kalijaga, yakni mengangkut air dari sungai untuk mengisi padasan wudhu dengan timba yang bocor.
Laku absurd yang mereka ulang-ulang tersebut, untuk sesaat, membuat saya, setidaknya, merasa jatuh prihatin. Namun, dengan segera pula, saya teringat bahwa ini juga merupakan upaya untuk memberi makna pada hidup yang mungkin sia-sia dan tak berarti, bahwa yang penting bukan apa yang akan diperoleh, melainkan proses pemaknaan untuk menuju titik tersebut – pemaknaan yang tak bisa tidak senantiasa melibatkan percobaan dan kegagalan yang berulang.
Hujan yang membuat lantai licin menegaskan bahwa proses pemaknaan atas hidup yang absurd kian terasa sulit. Beberapa kali kaki-kaki mereka tergelincir. Dan persis seperti yang mereka kehendaki, mereka kembali bangkit. Mereka bertaut untuk membenturkan diri, mereka berpisah untuk kemudian saling mendekat.
Hujan yang mencoba mengintervensi pertunjukan Adiyad dan Risko juga hujan yang sama yang mengintervensi penonton. Sejumlah penonton mulai bergerak di tempat duduknya dengan tegang, beberapa mulai kasak-kusuk mengenakan mantel. Dan dua gadis tak jauh dari lokasi saya berdiri di bawah sebatang pohon, membuka payung yang entah mereka dapat dari mana.
Ketegangan dalam tubuh penonton tersebut, agaknya, juga ditularkan dari ketegangan yang menggejala dalam tubuh Adiyad dan Risko. Tema serta konsep yang mereka ambil serta intervensi dari dramaturgi hujan menuntut satu konsekuensi yang harus diambil, yakni kekekeraskepalaan dan ketabahan – dua unsur yang menghasilkan ketegangan dalam tubuh dan gestur.
Hujan, nyatanya, tak mampu menghentikan kesungguhan mereka dalam upaya memberi makna terhadap proses absurd menjalani hidup yang berisi siklus percobaan dan kegagalan tersebut. Mereka menuntaskan pertunjukan dan penonton betah menghikmatinya. Di akhir pertunjukan, salah satu dari mereka terkulai di lantai, seperti sulur yang patah.
Saya berharap, si-tubuh-yang-patah itu adalah kegagalan, alih-alih kekeraskepalaan serta ketabahan itu sendiri.
***
Perempuan Azan adalah pertunjukan ketiga dalam rangkaian acara Sahur Mayur edisi ketigabelas malam itu, sekaligus merupakan pertunjukan yang paling verbal (dan karenanya, lugas) dari seluruh pertunjukan. Perempuan Azan, kurang lebih, merupakan pembacaan dramatik dari cerpen dengan judul sama yang dikarang oleh Ab Asmarandana.
Watak cerpen yang naratif, sesungguhnya, telah menyediakan dirinya untuk bisa tampil ke penonton begitu saja. Namun, Perempuan Azan memilih jalur yang lebih rumit. Ia bekerja melalui dua lapis bahasa, yakni bahasa verbal melalui narasi-narasi yang dibacakan oleh dua orang aktor, dan bahasa tubuh yang dipresentasikan oleh dua orang penari. Sementara dua orang aktor bersembunyi di belakang (meski sesekali muncul di atas panggung), dua penari bekerja sebagaimana juru bahasa isyarat menerjemahkan teks-teks yang dibacakan di atas panggung. Dengan begitu, interaksi serta relasi yang terbangun di antara keempat penampil ini bukanlan interaksi serta relasi dua arah, melainkan searah, yakni semata dari sepasang aktor yang membaca narasi untuk diterjemahkan oleh sepasang penari di atas panggung. Oleh karena itulah, misalnya, ketika aktor-narator berbicara tentang burung gereja, maka si penari akan menggerakkan tangan serupa kepak burung, dan sewaktu aktor-narator menyebut kata kerja tersenyum, si penari juga tersenyum di atas panggung. Para penari menjelma para pekerja yang menyerahkan tubuhnya di bawah kuasa teks, tak berdaya melakukan pemberontakan atau menghaturkan tawaran dialog yang lebih setara.
Pada beberapa bagian, percobaan-percobaan dalam pertunjukan ini cukup menyenangkan, meski untuk beberapa hal, saya tidak bisa untuk tidak berpikir apakah hal ini memang diperlukan. Apakah dua bahasa ini memang harus bekerja bersama-sama hanya untuk menyampaikan narasi yang sama? Atau apakah ada kemubaziran yang bekerja dan jika ada, sejauh mana ia bisa ditoleransi?
Ketika tubuh saya bergetar oleh pertunjukan ini, maka itu, saya kira, bukan disebabkan oleh bagaimana ia dipresentasikan, melainkan oleh apa yang dibawa oleh cerpen itu sendiri. Perempuan Azan menggarap tema yang cukup sensitif, apalagi di zaman ketika konservatisme beragama tampak menguat. Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang suka mengumandangkan azan, yang tentu saja, terkait larangan agama tentang perempan yang mengumandangkan azan, mendapat respon tidak baik dari masyarakat. Larangan dari masyarakat tidak membuat si perempuan berhenti mengumandangkan azan, meski kini ia mengumandangkan azan dengan cara bergumam (tapi saya menangkap kesan bahwa pada titik paling ekstrimnya, azan itu hanya berlangsung dalam hati). Namun, suara azan itu, dengan ajaib, tetap saja mampu menjangkau telinga umat.
Cerpen ini, sekilas, membawa ingatan saya ke Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karangan Seno Gumira Ajidarma, terutama terkait larangan dan bagaimana suara-suara berupaya tetap menjangkau siapa saja. Suara, agaknya, memang sesuatu yang sukar dibungkam. Ia akan tetap menemukan celah untuk keluar. Namun, jika cerpen Seno berfokus pada urusan moral masyarakat, maka Perempuan Azan bergerak ke arah agama, sesuatu yang sama sensitif dan rawan dengan moral itu sendiri.
Pada titik inilah, agaknya, hujan kembali mengintervensi. Tema yang diusung Perempuan Azan yang cukup rawan, teredam oleh hujan yang kian lebat, membuat konsentrasi hadirin terpecah antara tubuh yang kedinginan dan narasi-narasi yang provokatif.
Dengan demikian, sekali lagi, dramaturgi hujan bekerja untuk menentukan ke mana Sahur Mayur ketigabelas ini berjalan.
***
Ada banyak penampil yang dijadwalkan tampil di Sahur Mayur malam itu. Selain Nawasena yang sedang mencoba suara ketika saya datang, ada beberapa penari dengan kostum dan riasan yang sudah siap sedia sedari sore. Di gerbang loket depan Ladaya (Gerbang Jauh, kata Wawan Soreawan, pimpro untuk Sahur Mayur 13), sewaktu baru turun dari motor teman yang mengantar, saya berjumpa dengan teman-teman dari Teater Bastra, Unmul Samarinda, yang juga akan tampil membawa satu lakon berjudul Tempat Suci, satu naskah yang ditulis oleh Sila Fauzatul Hayati. Dalam susunan acara yang saya dapat dari panitia, saya membaca susunan lengkap para pengisi acara: Hadrah, Nawasena, Tranggana ISBI Kaltim, Cahaya Mahakam Kaltim, Marie Muhammad, Teater Bastra, Aang, Lentera Kukar, Etno ISBI Kaltim, Adiyad dan Risko, serta Lanjong sebelum penutupan yang dilanjutkan dengan sahur bersama.
Malam itu, kita tahu bahwa hanya ada tiga penampilan. Saya tidak merasa perlu menerka-nerka apa yang menyebabkan hal itu. Hujan terus turun, kali ini dengan intensitas yang lebih terjaga ketimbang sebelumnya. Hujan, sang dramaturg yang cukup dominan malam itu, memaksa panitia menempuh semacam laku improvisasi yang cukup ekstrim, yakni memotong rangkaian acara. Terdengar desahan dari beberapa sudut. Desahan-desahan yang tak bisa dengan gampang dimaknai, antara kekecewaan atau kelegaan. Para hadirin bergerak untuk kembali mencari tempat teduhan, dan panitia menyusup ke kerumunan-kerumunan untuk membagi-bagikan makan sahur dalam kotak.
Saya menatap tetes-tetes hujan. Saya menyadari, di sebuah tempat bernama Kalimantan Timur ini, hujan dan panas adalah dua perkara yang nyaris mustahil ditebak. Mereka bisa berganti dengan sangat cepat, dan kerapkali tanpa ancang-ancang. Karena itu, bukan perkara hujan benar yang penting, melainkan bagaimana menyikapinya. Untuk sesaat, saya teringat sebuah tulisan saya di Propublika, yang menyoal tentang normalisasi warga Samarinda terhadap banjir sebagai akibat dari hujan. Saya ingat bagaimana orang kerap berkata “ikam hanyarkah di Samarinda?” untuk merespon keluhan orang lain terkait banjir yang disebabkan hujan, seolah-olah banjir adalah satu kewajaran. Hujan adalah wajar, namun melakukan langkah-langkah navigasi atas akibat yang dibawanya, itu adalah hal yang mustinya dikerjakan. Dengan memutuskan untuk memangkas rangkaian acara Sahur Mayur, panitia, bagi saya, telah melakukan upaya navigasi ini: mereka menyelamatkan peralatan-peralatan dari kemungkinan rusak terkena air, sekaligus mengevakuasi hadirin dari kemungkinan masuk angin.
Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, untuk kemudian menyadari bahwa para penonton yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil, sesungguhnya telah dan tengah mengerjakan sebuah negosiasi. Persebaran itu membuat lanskap Kampung Seni dan sekitarnya yang luas seperti terjinakkan. Lantas, saya berpikir, jangan-jangan, malam itu, apa yang dimaksud pertunjukan bukanlah apa yang secara harfiah disebut pembaca acara sebagai pertunjukan, yakni tari dari Mar’ie Muhammad, Ardiyad dan Risko, serta pembacaan dramatik Perempun Azan, melainkan lebih luas ketimbang itu, yakni segala macam tingkah laku yang diorkestrasi oleh hujan semenjak semula. Dan panggung itu bukanlah panggung dengan ukiran sulur-sulur besar di depan sana, melainkan keseluruhan Kampung Seni Ladaya.
Dengan begitu, hujan telah membuat semua yang hadir menjadi penampil. Dramaturgi yang dikerjakan hujan bukan hanya membikin basah, melainkan mencairkan batas antara penampil dan penonton, membuat semua yang hadir terlibat aktif dalam pertunjukan yang bahkan mungkin tidak disadari.
Dengan tubuh-penampil tersebut, saya merenungkan apa yang terjadi seraya menyantap makan sahur. Dan dengan semena-mena, saya berkesimpulan bahwa semua berjalan baik-baik saja. Dan dengan semena-mena pula, saya memutuskan menulis dengan sudut pandang orang pertama, menghasilkan sesuatu yang lebih menekankan perasaan ketimbang laporan pandangan mata yang “obyektif”, lantaran semua tulisan ini digerakkan oleh tubuh saya. Pada titik ini pula, kutipan puisi Rendra yang digunakan sebagai pembuka tulisan awal untuk mengantar Sahur Mayur 13 berjudul Sulur Syukur yang bisa ditemukan dalam website resmi Lanjong, yakni keberuntungan dan bencana sama saja, menemukan kontekstualisasinya.
Hujan dan cerah sama saja.
Penampil dan penonton sama saja.
Dan karena itu, semua layak disyukuri. Sulur-sulur syukur, harusnya tetap memanjat ke langit, barangkali melalui benang-benang air yang terus merentang antara langit dan bumi, terus merentang sampai saya pulang ke Samarinda, dan terus merentang ketika tulisan ini diselesaikan, lebih kurang dua puluh empat jam kemudian. Dengan sulur-sulur syukur itu, zaman disrupsi yang serba tak menentu, seperti harapan Lanjong sebagai tuan rumah, bisa ditanggungkan. Bukankah hujan yang terus menerus ini adalah bagian dari ketidakpastian yang kadang menyelewengkan apa yang direncanakan sedari mula, semacam wujud dari disrupsi dengan kadar yang berbeda? Dari sudut pandang yang lain, hujan adalah pertanda berkah, membawa kesuburan dan memungkinkan segala tetumbuhan bersemi dan berkecambah, kian lama kian kokoh dan kuat.
Semoga kita tetap bertumbuh bertambah kokoh. Dan selamat menunaikan ibadah puasa.
