Terima kasih hujan
Hujan yang turun saat Sahur Mayur terhenti bukan sekadar peristiwa alam, tapi seperti sutradara yang memutuskan bahwa adegan harus berakhir ditengah klimaks. Kita telah menata panggung, menyusun alur, membangun suasana, lalu tiba-tiba hujan datang sebagai aktor yang tak diundang, mengambil alih lakon.
Tapi bukankah hujan selalu punya hikmah?
hujan mengajarkan kita tentang ketidaksempurnaan yang harus diterima. Bahwa sekeras apa pun persiapan kita, ada kekuatan diluar kendali yang bisa mengubah jalannya cerita. Dan di sanalah kita diuji apakah kita kecewa atau justru menemukan makna di baliknya?
Mungkin hujan datang sebagai jeda, agar kita belajar bahwa yang lebih penting dari perayaan adalah kebersamaan. Mungkin hujan adalah cara semesta mengingatkan bahwa kerja keras kita tidak sia-sia, meski akhirnya tak semua bisa terselesaikan sesuai rencana.
Seperti aktor yang tak jadi naik ke panggung, kita bisa merasa sedih. Tapi bukankah teater sejati bukan tentang panggungnya, melainkan tentang prosesnya? Maka hujan bukan penghalang, ia adalah pengingat bahwa semua ini bukan tentang hasil, tapi tentang perjalanan yang sudah kita lalui bersama.
Dan siapa tahu, doa-doa yang kita bisikkan saat berlindung dari hujan justru lebih didengar daripada yang kita kumandangkan di tengah keramaian?
Saudara-saudaraku, panitia Sahur Mayur…
Kalian seperti aktor yang berlatih tanpa kenal lelah, menghafal setiap gerak, mengulang setiap dialog, memastikan setiap cahaya jatuh di tempatnya, setiap suara mengalun sebagaimana mestinya. Kalian menyiapkan segalanya dengan sepenuh hati, dari yang terlihat hingga yang luput dari perhatian.
Lalu tiba saatnya… panggung dibuka, lampu menyala… dan hujan
Begitulah rasanya, bukan?
Kalian menata meja, menyusun kursi, meracik rasa dalam setiap hidangan, membangun ruang agar kita bisa bersua, berbagi, merayakan. Kalian bekerja dalam sunyi, sementara orang-orang datang, makan, pergi… dan mungkin lupa bahwa ada tangan yang meracik, ada pikiran yang merancang, ada hati yang berkorban.
Tapi, tidakkah ini mirip panggung kita?
Panggung yang tak selalu ramai tepuk tangan, tapi tetap kita jaga agar tetap berdiri. Panggung yang tak selalu mendapat sorot lampu, tapi tetap kita nyalakan agar tak gelap sama sekali.
Maka izinkan aku mengucapkan terima kasih… dengan perasaan yang mungkin lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Untuk kalian yang telah menjadi dupa, harum gaharu, meski harus terbakar.
Untuk kalian yang telah menjadi pisau, lading tajam, meski harus diasah terus-menerus.
Untuk kalian yang tetap berdiri dibalik panggung, memastikan semuanya berjalan, meski tak semua orang menoleh dan melihat kalian.
Kita ini aktor boy, di panggung yang bernama kehidupan. Kadang kita tak dipandang, kadang kita tak dihargai, tapi kita tetap bermain. Dan aku tahu, di antara kepenatan dan kelelahan, kalian juga lapar. Kalau iya marahin saja mbak yanti.. yang sedang menangis terisak bercampur hujan malam itu,
Eitt tapi aku yakin, lapar bukan hanya karena menahan sahur, tapi lapar akan makna.
Dan ketahuilah, makna itu ada… dalam setiap kelelahan yang kita terima tanpa pamrih.
Terima kasih, panitia Sahur Mayur. Kalian adalah bintang di langit yang jarang dilihat, tapi selalu ada. Tapi kan hujan .. eh ada lho bulan tapi tetap hujan….
