Dari Ritual hingga Data: Sebuah Cara Mengenali Diri Sendiri (Catatan Ringkas tentang SWOT ala Timur)
Hari Pertama: Ritual Sebagai Metode Analisis Diri
Jauh di atas Pekarangan Ladaya, langit bersih seusai hujan menyapu mendung pada pukul 19.00 WITA, Selasa 11 Februari 2025. Beberapa orang, laki-laki dan perempuan, dalam balutan setelan putih-putih dan lilitan sehelai kain kuning di pinggang, duduk khusyuk di bawah satu-satunya ketapang kencana yang tumbuh kokoh di tengah pekarangan. Ada gentong besar berukir dan berkuping di depan mereka. Seorang lelaki dalam busana yang sama namun dilengkapi pesapu Kutai berdiri di belakang gentong, mengusap segenap yang hadir dengan tatapan lembut. Dengan ketakziman yang nyaris menghentikan waktu, si lelaki berpesapu menciduk air dari dalam gentong menggunakan gayung batok kelapa, dan mengguyurkan air tersebut ke kepala mereka yang larut dalam duduk khusyuk, satu demi satu.
Kelopak-kelopak bunga luruh bersama air yang mengucur, sebagian berhenti tersangkut lebat rambut, sebagian lengket menempel di baju, menciptakan motif acak yang tak terduga.
Ada semacam keheningan yang aneh bekerja pada momen itu. Keheningan yang justru dibangun dari suara-suara: suara hembusan angin di pucuk-pucuk daun, suara gemericik air, suara gesekan kaki pada tikar pandan, suara tarsul yang mengambang lamat di udara. Keheningan yang hampir bersifat magis. Keheningan yang membuat peristiwa mandi kembang itu bukan semata sebuah performance, melainkan ritual.
Ritual mandi kembang tersebut merupakan yang pertama dari serangkaian ritual yang dikerjakan Lanjong dalam rangka menempuh analisis SWOT untuk mengenali sekaligus mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada pada kelompok ini. Mereka percaya, SWOT sebagai teknik, bisa dilakukan dengan metode yang beragam, dan mereka menempuh apa yang mereka sebut sebagai SWOT ala Timur.
SWOT ala Timur, dalam definisi Lanjong sebagaimana bisa dibaca dalam tulisan berjudul SWOT ala Timur di situs resmi mereka, adalah pendekatan reflektif untuk menganalisis Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Kesempatan), serta Threat (Ancaman) dalam kelompok Lanjong dengan mengintegrasikan tradisi dan kearifan budaya Timur dalam praktiknya. Metode ini menggabungkan prinsip-prinsip SWOT seperti yang dianjurkan oleh Albert S. Humphrey dengan laku yang khas Timur, yakni menggunakan ritual dan berbagai macam simbolismenya sebagai strategi untuk menggali informasi secara mendalam dengan melibatkan emosi, spiritualitas, serta kesadaran kolektif.
Dalam mandi kembang, simbol-simbol itu terutama bekerja melalui air yang berasal dari tujuh tempat yang berbeda, yakni air dari Sungai Mahakam, Sungai Kedang Pahu, Sungai Belayan, Sungai Sangatta, Sungai Kedang Kepala, Danau Melintang, dan Danau Semayang. Air adalah salah satu unsur paling penting untuk keberlangsungan hidup umat manusia, namun di Kalimantan Timur, air juga menempati posisi yang lain, yang lebih sakral dan luhur.
Sebagai satu kawasan luas yang diberkahi dengan sungai-sungai besar, masyarakat Kalimantan Timur membangun satu peradaban yang berpondasikan air, sebuah peradaban air. Air dan sungai diagungkan sedemikian rupa, bahkan hingga ke soal pemberian nama. Mahakam, misalnya. Sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan Timur ini, konon mendapatkan namanya dari gabungan dua kata, yakni maha dan kama. Maha berarti besar atau agung, dan kama berarti cinta. Cinta yang besar. Cinta yang agung. Mahakam tidak sekadar mengalirkan air, namun juga cinta. Cinta yang menghidupi masyarakat di sekitarnya, cinta yang menghubungkan antar daerah, cinta yang tak akan kering sepanjang waktu.
Pengagungan terhadap sungai dan air juga yang pada akhirnya melahirkan beraneka macam mitos. Bukan kebetulan bila masyarakat Kalimantan Timur punya ikatan yang unik dengan buaya, alih-alih harimau atau elang. Buaya, si predator puncak dalam rantai makanan ekosistem sungai atau rawa, kerapkali dipanggil dengan sebutan penghormatan nenek. Beberapa kalangan yakin bahwa ada orang-orang tertentu yang terlahir bersama kembaran buaya berwarna kuning yang biasa disebut Gampiran dan mesti disetori sesajen secara berkala.
Dari dasar Sungai Mahakam, konon, sekitar seribu lima ratus tahun yang lampau, Lembuswana, makhluk gabungan antara lembu, singa, ayam, gajah, dan elang yang mengenakan mahkota serta memiliki kulit berkilau seperti emas, keluar untuk pertama kalinya seraya menjunjung Putri Karang Melenu yang kelak menjadi istri raja Kutai dan menurunkan raja-raja agung selanjutnya.
Di dasar Sungai Mahakam pula, hingga kini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, berdiam naga raksasa yang suci dan agung.
Dengan dilatari sistem kepercayaan dan peradaban semacam itu, mengumpulkan air dari tujuh lokasi yang berbeda bisa dibaca sebagai upaya menghimpuan kebijakan serta kearifan lokal dari segala macam penjuru Kalimantan Timur. Dan dengan begitu, laku mengguyurkan air itu ke tubuh tak lain adalah usaha menjadikan kebijakan serta kearifan lokal tersebut manunggal dalam diri, menjadi bagian dari diri, menempatkannya sebagai kekuatan diri sendiri.
Simbol lain dalam ritual mandi kembang adalah kembang tujuh rupa yang terdiri dari melati, kenanga, asoka merah, asoka kuning, mawar merah, mawar putih, dan kamboja. Kembang-kembang tersebut tumbuh di Ladaya, sebuah tempat di mana Lanjong mengaktivasi kegiatan-kegiatan mereka. Keanekaragaman kembang adalah simbol tentang keanekaragaman individu yang hidup dan bertumbuh di Lanjong, keanekaragaman yang bukan memecah belah, melainkan tumbuh berdampingan dalam harmoni yang saling menguatkan dan melengkapi. Dengan kata lain, sebuah kebersamaan yang kokoh. Satu kekuatan lain yang agaknya memang tak terpisahkan dari komunitas ini.
***
Menjelang pukul 20.00 WITA, orang-orang dalam setelan putih-putih dan kain kuning di pinggang bergerak perlahan keluar dari area Pekarangan Ladaya. Di setapak jalan yang dipenuhi guguran daun sehabis hujan, mereka menyapu. Suara gemerisik yang dihasilkan sewaktu dedaunan di ujung pelepah sawit yang digunakan sebagai sapu bertemu dengan permukaan jalan menciptakan suasana mencekam.
Suara gemerisik itu memenuhi udara. Merayap pelan bagaikan suara langkah kaki yang diseret dalam film-film horor. Dan dengan perlahan pula, intensitas sapuan menurun seiring kian panjangnya bentang jalan yang disapu. Titik-titik keringat muncul di kening para penyapu. Tenaga yang mulanya tampak menggelegak, perlahan berkurang, walau tak pernah benar-benar habis.
Namun, suara gemerisik itu tetap terdengar, meski kian lama kian lamat.
Itulah yang terjadi pada fase kedua dari rangkaian ritual SWOT ala Timur yang dikerjakan Lanjong. Sebuah laku ritual yang dengan jelas merefleksikan kelemahan dari komunitas ini, yakni konsistensi. Tenaga yang berkurang seiring semakin panjangnya bentang jalan yang disapu adalah metafora yang berteriak lantang, mengingatkan komunitas ini tentang sisi lain dari diri mereka sendiri yang mesti diwaspadai.
Namun, kabar baiknya, para penyapu tetap berusaha menyapu. Proses menyapu tetap berlanjut. Sekalipun konsistensi dan intensitas sapuan mengendur, mereka menuntaskan apa yang telah mereka mulai. Mereka baru benar-benar berhenti setelah setapak bersih dari guguran daun. Dengan kata lain, mereka menyikapi kelemahan mereka dan berupaya mengatasinya.
***
Beberapa menit sebelum jarum di arloji menunjukkan pukul 21.00 WITA, orang-orang dalam setelan putih dan ikat kain kuning di pinggang bergerak lebih jauh meninggalkan setapak jalan yang sudah bersih dari guguran daun dan merapat ke tepian Danau Ladaya. Di danau itu, riak menggelombang pelan dan pecah berhamburan begitu membentur tepian. Ikan-ikan nila berkecipak jinak, seolah kawanan merpati. Di langit, bintang-bintang menggantung seperti titik-titik lentera.
Namun, langit dan bintang begitu tinggi. Lentera-lentera kecil itu hanya berkelap-kelip dan tak terjangkau. Maka, mereka, orang-orang dalam setelan putih-putih dan ikat kain kuning tersebut, memutuskan menyalakan lenteranya sendiri.
Di atas sembilan perahu kecil, mereka menyulut lilin. Mereka berjongkok dengan takzim di tepian danau, dan dalam satu gerakan serentak, mereka melepaskan perahu-perahu yang berpenumpang lilin-lilin menyala tersebut.
Riak dan arus lembut membawa perahu-perahu bercahaya itu ke tengah, kian lama kian jauh ke tengah. Nyala lilin di tengah danau dalam gelap malam seolah bersahut-sahutan dengan kelip bintang di langit tinggi, berbicara dalam bahasa cahaya.
Melarung merupakan ritual ketiga dari rangkaian ritual SWOT ala Timur. Menyalakan sendiri cahaya melalui lilin adalah pertanda untuk tak berpangku tangan menunggu cahaya lain menerangi, melainkan bersikap proaktif dalam rangka menciptakan peluang. Peluang-peluang tersebut, kemudian, dilarung, diperjalankan dengan harapan akan melaju jauh.
Malam itu, tepat pada saat proses melarung, angin seperti berhenti. Tak ada embusan yang memadamkan nyala lilin. Tak ada kecipak yang membalik atau menenggelamkan perahu-perahu tersebut.
Peluang dan harapan, dengan begitu, terus melaju. Terus melaju sampai jauh di permukaan air, di sebuah kawasan yang memiliki peradaban air.
***
Di salah satu bukit kecil di Ladaya, menjulang pohon-pohon durian. Dedaunan jatuh berguguran. Dan orang-orang dalam setelan putih mendaki pelan bukit tersebut, mengambil tempat duduk dengan satu orang di bawah satu pohon, masing-masing berjarak beberapa meter. Obor-obor dipasang di samping mereka, asap bergeliut pelan melintasi wajah masing-masing. Di satu tempat, bakaran dupa menyebar aroma yang membuat bulu kuduk merinding.
Akan tetapi, tak ada yang mistis di Ladaya malam itu, melainkan simbol-simbol yang terus bersuara lantang. Dalam meditasi, ritual terakhir dari rangkaian ritual SWOT ala Timur, simbol bekerja melalui pohon-pohon durian yang bergoyang serta asap yang mengganggu pernapasan.
Meditasi, seperti yang kerap dilakukan orang, adalah upaya mencari ketenangan, atau usaha mendapat pencerahan. Meditasi kadangkala pula dikerjakan untuk memikirkan berbagai macam masalah. Untuk mencapai tujuan-tujuan semacam itu, bau dupa dibutuhkan, bukan dalam rangka mendatangkan makhluk gaib, melainkan membantu fokus. Namun ancaman menjelmakan dirinya lewat kemungkinan-kemungkinan adanya dahan atau buah durian yang tiba-tiba jatuh atau asap yang menyergap paru-paru.
Meditasi di bukit durian adalah upaya untuk terus mewaspadai ancaman. Tenang dan siaga dalam waktu yang bersamaan.
***
Menutup rangkaian ritual SWOT ala Timur di hari pertama, 11 Februari 2025, sekitar pukul 22.30 WITA, orang-orang dalam setelan putih-putih kembali ke titik mula, ke Pekarangan Ladaya. Di sana, masing-masing berbagi dan bercerita tentang apa yang mereka dapatkan sepanjang rangkaian ritual. Dua orang berdiri dan menyimpulkan bahwa ada kekuatan besar dalam kebersamaan yang dimiliki Lanjong, namun kurangnya konsistensi mendekam sebagai kelemahan. Ada banyak peluang yang bisa diciptakan dan dimanfaatkan, namun mewaspadai berbagai macam ancaman adalah hal yang musti dilakukan.
Dan begitulah. Apa yang malam itu dimulai dari mandi kembang di Pekarangan Ladaya, berakhir dalam momen berbagi di Pekarangan Ladaya pula. Seperti sebuah lingkaran atau siklus, perjalanan dimulai dari dalam diri, menuju ke luar, dan pada akhirnya kembali ke dalam sekali lagi.
Di dalam naungan malam yang kian gelap, baju putih mereka terlihat jelas. Setelan putih, setelan dalam warna yang akan selalu mengingatkan tentang kesederhanaan, kemurnian, serta kebersihan. Warna kuning dari kain yang mengikat pinggang mereka adalah salah satu warna khas Kutai yang melambangkan kejayaan, keagungan, kemegahan, serta sekaligus menjadi penanda identitas mereka, bahwa sejauh apa pun mereka pergi, mereka akan selalu terikat dengan kebudayaan dan kearifan lokal di mana mereka lahir dan bertumbuh – semacam kompas untuk kembali ke dalam setelah bergerak ke luar.
Simbol-simbol telah bersuara. Ritual telah dituntaskan. Dan semua yang terlibat, yang adalah anggota dari Lanjong sendiri, bersiap menghadapi hari kedua, hari di mana apa-apa yang mereka dapat melalui ritual dan permainan simbol tersebut akan didiskusikan lebih dalam melalui kerangka SWOT yang lebih “ilmiah”, saat ketika nalar dan rasionalitas bekerja melengkapi apa yang sudah dilakukan oleh rasa dan emosi; otak menggenapkan hati; yang ritual dan bersifat spiritual bertemu dengan yang material; Barat dan Timur melebur dalam harmoni dan kerjasama, sehingga mereka akan mendapatkan hasil yang lebih komprehensif untuk merumuskan program kerja yang lebih relevan dengan nilai-nilai yang mereka pegang di masa depan.
***
Hari Kedua: Data-Data yang Menggenapkan dan Melengkapkan
Tak ada hujan pada 12 Februari 2025 di Pekarangan Ladaya pukul 20.00 WITA. Langit bersih cerah dan begitulah adanya. Namun ada suara detak yang teratur. Dan seseorang berkepala plontos duduk bersandar di sebuah kursi berlapis kain kuning yang menjuntai hingga ke lantai. Detik berjalan dan jari telunjuk tangan kanan si lelaki bergerak mengikuti ritme detak. Seiring bunyi detak yang berubah menjadi komposisi suara, ia bergerak. Ia bergeliut-geliut untuk kemudian mengenakan topeng dan menari selama beberapa menit.
Adegan itu adalah semacam hentakan sebelum Lanjong memulai sesi hari kedua analisis SWOT. Adegan tersebut mengejutkan sekaligus memberi semacam ancang-ancang untuk apa-apa yang bakal terungkap dengan blak-blakan. Namun, di sisi lain, adegan itu juga bisa dibaca sebagai jembatan penghubung antara apa yang terjadi pada hari pertama pelaksanaan SWOT ala Timur yang kental bernapaskan ritual dengan analisis SWOT hari kedua yang disusun berdasarkan data-data hasil riset ketat yang melibatkan angka-angka dan metodologi ilmiah.
Dahri Dahlan, penyair sekaligus dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, muncul kurang lebih dua puluh menit setelah tari berakhir. Sepanjang dua puluh menit yang membentang, Kosis Ahoren, ketua Lanjong, memaparkan garis besar rencana program Lanjong selama tiga tahun ke depan, program-program yang agaknya bakal diperkuat dengan hasil analisis SWOT yang dikerjakan selama dua hari tersebut.
Dahri Dahlan membentangkan kertas kerja berisi hasil riset yang ia kerjakan selama sebulan terakhir melalui layar proyektor. Riset tersebut, secara garis besar, disusun dari dua jenis kuesioner yang telah disebar ke sejumlah responden beberapa waktu sebelumnya. Kuesioner jenis pertama adalah kuesioner yang bertujuan memetakan kekuatan serta kelemahan Lanjong sebagai satu komunitas seni dan karenanya bersifat internal organisasi. Sebagai konsekuensi logis dari itu, maka responden untuk kuesioner ini adalah enam belas anggota Lanjong. Kuesioner jenis kedua, yang muncul dari kebutuhan yang tinggi untuk membuktikan secara ilmiah efektivitas, efisiensi, kualitas dan penerapan program-program dan standar politis di semua bidang masyarakat sebagaimana yang dikutip Dahri Dahlan dari Ernst von Kardoff, mengemban tugas meneroka peluang dan ancaman, sesuatu yang bersifat eksternal, dan karenanya disebar ke seratus responden yang tersebar di sejumlah daerah, dengan yang terbanyak berasal dari Kalimantan Timur, diikuti Sulawesi dan Jawa. Beberapa responden dalam jumlah yang jauh lebih sedikit berasal dari Lampung. Tidak semua responden eksternal Lanjong yang menerima kuesioner mengisi dan mengembalikan kuesioner tersebut. Dua puluh sembilan responden, dengan berbagai macam kendala, tidak mengembalikan kuesioner yang telah terisi. Namun, data yang terkumpul sebanyak tujuh puluh satu dirasa sudah cukup representatif dan memadai untuk mengerjakan sebuah analisa tentang peluang dan ancaman yang mungkin muncul di kemudian hari.
Menerapakan metode campuran yang mengkombinasikan penelitian kualitatif dan kuantitatif, memunculkan angka dan narasi dalam satu tarikan napas, Dahri Dahlan menuturkan dengan runut hasil penelitiannya. Secara garis besar, bisa dikatakan bahwa kekuatan Lanjong yang paling menonjol adalah pemahaman yang memadai tentang apa yang harus dilakukan agar dialektika antara penonton dan seniman terwujud. Sementara di sisi lain, kelemahan yang terbaca adalah kurangnya pemahaman perihal ekosistem berkesenian. Peluang yang membentang di depan adalah kemungkinan untuk menjaga hubungan antara penonton dan seniman, yang erat kaitannya dengan kekuatan yang mereka miliki. Peluang ini juga merentang panjang lantaran sejumlah responden berharap agar Lanjong Art Festival sebagai salah satu program unggulan Lanjong tidak hanya berkutat pada seni pertunjukan, melainkan meluas ke hal-hal lain. Ada harapan besar dari publik yang bisa disikapi, meski tentu saja tidak harus serta merta dituruti. Agaknya, salah satu faktor kenapa harapan besar semacam itu muncul adalah kemampuan mereka berjejaring dan berkegiatan secara “mandiri”, seperti yang disampaikan oleh sejumlah responden. Hal lain yang menurut responden menjadi kekuatan Lanjong adalah workshop-workshop yang pernah mereka kerjakan dan bisa dikembangkan lebih jauh lagi dengan diskusi dan kerja-kerja kolaborasi. Sementara itu, ancaman mengintai dari soal publikasi dan dokumentasi kegiatan, khususnya mengenai Lanjong Art Festival. Kelemahan terkait publikasi dan dokumentasi kegiatan ini membawa imbas yang cukup panjang, sebagaimana bisa diketahui dari jawaban sejumlah responden dari luar organisasi, antara lain kesan yang muncul bahwa Lanjong Art Festival hanya untuk kalangan seni dan bukan untuk masyarakat yang lebih luas hingga soal-soal seperti perlunya informasi yang lebih detail untuk mengikuti Lanjong Art Festival.
Dadang Ari Murtono, penyair yang berperan sebagai narasumber dan terlibat mengamati proses ritual SWOT ala Timur pada hari pertama, berupaya mempertemukan apa-apa temuan yang didapat dari hari pertama tersebut dengan data-data ketat yang didapat Dahri Dahlan. Ab Asmaradana, sutradara sekaligus sosok penting dari Lanjong, melengkapi informasi-informasi tersebut dari perspektif orang dalam, memberi gambaran yang lebih utuh tentang apa yang sesungguhnya terjadi di dalam Lanjong. Inilah saat ketika SWOT ala Timur bekerja, ketika nalar dan rasionalitas yang bersifat “ilmiah” bekerja melengkapi apa yang dikerjakan oleh rasa dan emosi, otak menggenapkan hati, yang ritual dan bersifat spiritual bertemu dengan yang material, Barat dan Timur melebur dalam harmoni dan kerjasama.
Data lengkap tentang analisis SWOT ini bakal menjadi rujukan penting di kemudian hari untuk Lanjong. Tentu saja, detail-detail yang lebih rinci tidak mungkin bisa dibagikan dalam laporan singkat pelaksanaan kegiatan ini. Namun, mengutip Dahri Dahlan, ini semua adalah salah satu cara mendokumentasikan sejarah diri sendiri dan akan berharga untuk ditengok kembali, tentu selain untuk memenuhi fungsi utamanya, yakni membantu Lanjong merumuskan program kerja yang lebih relevan dengan nilai-nilai yang mereka pegang di masa depan.
Kesimpulan-kesimpulan yang didapat dari analisis SWOT ala Timur ini akan menarik untuk diuji lagi ke depannya. Dan mengutip Dahri Dahlan sebelum menutup diskusi, ombak itu ada, tapi kapal tak akan tenggelam. Dan kita tahu bahwa ombak itu mungkin berwujud kelemahan dan ancaman, namun kekuatan dan peluang bakal menyelamatkan kapal bernama Lanjong tersebut.
Seperti sembilan perahu yang membawa nyala lilin dalam ritual hari pertama, kapal ini niscaya akan tetap melaju. Melaju. Dan melaju.

