Syafril Teha Noer
Siapakah Ibu Negara?
JIKA ibu adalah pengurus, pengatur, penindak – siapakah sejatinya ibu bagi negara? Apakah dia adalah Prab … eh, presiden, raja, penguasa pemerintahan? Kalau iya, mengapa si tengah klaim ekonomi bertumbuh harga-harga malah mendaki sementara pendapatan rakyat ‘menciruk’? Mengapa dia lebih lebih rajin ngider keliling dunia, mabuk perlakuan istimewa, merasa dihormati negara-negara yang didatanginya, ketimbang mengurus kedaulatan negeri?
Mengapa pula dia bikin program kagetan, mewajibkan anak-anak sekolah belajar bahasa Perancis, Brazil, dan entah bahasa apa lagi demi menarik hati bangsa yang dia sambangi – sementara makanan yang konon bergizi bagi anak-anak itu nyatanya beracun lantaran mutunya ‘ditatak’ lewat anggaran tersunat?
Kalau ibu berperan melayani ayah dengan segala konsekuensinya, siapakah Ibu Negara? Apakah dia para ‘boti’ – pria-pria kekar kelimis kemayu yang mengelilingi sang penguasa ke manapun pergi; bekerja melayaninya sampai ke urusan dandanan, kamar tidur dan perkara di bilik tandas? Demi apakah semua mereka kerjakan? Bakti pada negeri atau semata demi agenda-agenda tersembunyi, seraya menunggu momentum kejatuhan sang penguasa di kamar mandi?
Ataukah Ibu Negara adalah dia yang memilih jadi oposan, karena negeri telah kelewat surplus penjilat ketimbang jumlah mereka yang tak pandai berdusta?
Ibu Negara (IN) yang dipentaskan Teater Lanjong di Amphiteater Ladaya Tenggarong, 1 Juni malam lalu, pada pokoknya terbangun atas tiga kutub karakter itu – penulis naskah, sutradara dan para aktor bisa dilihat pada poster yang saya sertakan ini. Penonton memenuhi trap-trap. Sastrawan Syafruddin Pernyata memperkirakan jumlah mereka 200-an, rata-rata anak muda, datang dari Samarinda dan Balikpapan – ini patut diberi catatan khusus, mengingat mereka nonton dengan membeli tiket.
Pemanggungan IN dibuka dengan penampilan seorang penari yang mengenakan tiga topeng bergantian, mengisi tiga pigura besar yang di belakang salah satunya teronggok sebuah kursi goyang. Setelah itu muncul tiga pemain berkaos loreng bercelana pendek. Tegap, namun kemudian lebih kerap tampil gemulai – ya, ala boti-boti itulah.
Berikutnya pingpong demi pingpong dialog yang memantulkan isu-isu mutakhir, seperti yang belakangan tuan-puan ikuti di media sosial; persaingan politik, makan beracun, ah – bergizi gratis, penguasa yang hobi pidato, serta kerisauan rakyat atas keadaan negeri yang entah sedang bergerak ke mana.
Kelak sang penguasa tewas lewat cara ‘sepele’ – terjungkal di bilik tandas. Lalu, alih-alih meratap, ketiga boti malah berebut kursi kuasa. Dan tak satu pun yang sukses, sebab yang kemudian tampil adalah sesosok fufufafa, duh kleru lagi – sesosok dengan kepala miring, mata ngantukan dan gagap; bicara dengan lebih banyak ‘aaa, eee’. Memang gampang diterka, personafikasi siapa yang mau dituju.
Lampu panggung pun padam. IN berlanjut dengan ngobrol antara para pendukung dengan penonton.
Kang Abuy (AB Asmaranda), penulis naskah dan sutradara, menyebut pertunjukan ini sebagai eksperimen metateater, seraya mengaku kerja penyutradaraan belangsung dalam 10 harian. Dedi Nala Arung, pemeran sang raja, malah menyebut hanya diberi waktu beberapa hari untuk menghapal dialog. Itu pun dengan beberapa tambahan di jam-jam terakhir.
Para pemeran tak terpaku pada karakter yang kaku. Kadang mereka jadi diri sendiri, bahkan duduk di antara penonton, nyeletuk mengomentari kelakuan yang barusan mereka mainkan. Ini rada berbeda dari model ‘sampakan’ yang dipopulerkan Teater Gandrik – di mana interaksi dengan penonton, demi mengatrol daya komunikasi pertunjukan, berlangsung tetap dalam kesetiaan aktor pada peran. Dalam IN, si aktor bahkan bisa melepaskan samasekali peran itu dan lalu menjelma sepenuhnya sebagai penonton.
Saya tidak melihat alasan yang cukup kuat, mengapa sebagian aktor merasa perlu menyelipkan tema dramaturgi, atau ‘uraian’ teater sebagai pantulan realitas – hingga pada bagian itu IN tiba-tiba jadi semacam forum pengenalan atau apresiasi teater. Tidakkah (bahkan) kesenian secara umum memang beranjak dan merupakan bentuk lain dari hasil interaksi realitas dengan para kreatornya?
Syukurnya, sisipan demikian tak kelewat mengganggu. Mungkin juga karena kali ini Lanjong tampil beda dari biasanya. Dalam obrolan usai pentas terungkap Abuy dan kawan-kawan memang sedang coba memotret dan mencetak gambar yang sedapat mungkin relate dengan isu mutakhir. Ya, mirip-mirip cara dan gaya netizen di media sosial.
Jika saja masa penyutradaraan lebih panjang, ensamble antaraktor agak-agaknya bakal jauh lebih terbentuk, dan mereka dapat tampil lebih relaks. Tapi, jangan-jangan ini pun bagian dari eksperimen itu; ketika pemanggungan coba dibebaskan dari ‘aturan’ yang dibaku-bakukan.

