Hujan, Sarasehan, dan Tubuh yang Mencari Keseimbangan
Syadza Zahratun Nufus ZA
Sore itu, Ladaya sempat diguyur hujan gerimis. Panggung Jacinda masih menyisakan bekas basah, meski perlahan udara mulai mengering. Kursi-kursi di tribun pun satu per satu terisi, meski cuaca sempat merintangi. Euforia hari pertama Lanjong Art Festival masih terasa pekat, membuat siapa pun enggan melewatkan sarasehan sore ini.
Dadang Ari Murtono, yang akrab disapa Mas Dadang, membuka percakapan sore itu dengan tenang namun tegas. Ia menyebut dua nama penting dalam dunia teater Indonesia. Iswadi Pratama, pendiri Teater Satu Lampung dan Prof. Yudiaryani, profesor teater perempuan pertama di Indonesia yang tak hanya dikenal sebagai akademisi, tetapi juga sebagai praktisi kesenian di tanah air.
“Di ujung tanduk, di tepi jurang,” ucap Mas Dadang, seolah hendak menancapkan suasana percakapan sejak awal. “Kita akan membicarakan regenerasi. Sesuatu yang tak pernah selesai dibicarakan.” Kata-katanya menggantung, menimbulkan gema yang langsung mengikat perhatian kami. Regenerasi, dalam dunia seni, bukan sekadar soal siapa yang akan menggantikan siapa. Ia adalah soal bagaimana warisan pengetahuan, disiplin, dan semangat bisa berpindah tangan tanpa kehilangan daya hidupnya. Aku melempar pandangan ke sekeliling. Banyak yang saling saling menatap, seolah bertanya dalam hati, apakah regenerasi itu sungguh sedang berlangsung?
Prof. Yudiaryani, sosok yang dikenal sebagai profesor teater perempuan pertama di Indonesia, memulai dengan kilas balik. Suaranya tenang, seperti seorang ibu yang bercerita tentang masa lalu. Ia mengenang tahun 70-an ketika naskah drama dianggap anak haram sastra. Di kampus, yang diagungkan adalah novel dan puisi. Drama tidak mendapat tempat terhormat, seolah hanya perpanjangan dari seni pertunjukan. Namun justru dari posisi marginal itulah, kata Prof. Yudi, komunitas teater tumbuh dengan keras kepala. Sanggar-sanggar, kelompok-kelompok kecil di Yogyakarta, membangun ruang alternatif di luar institusi formal. “Komunitaslah yang menjaga tradisi,” ujarnya. Dari komunitas, nilai-nilai diwariskan, dipelihara, lalu diteruskan.
Ia menekankan bahwa ekosistem teater bukanlah ruang tunggal. Ada banyak elemen yang saling terkait seperti keberagaman tradisi, komunitas, festival, pendidikan, dan industri. Tanpa interaksi di antara elemen-elemen itu, kesenian rapuh. Dan di balik semuanya, ada pertanyaan yang ia ajukan dengan nada sedikit getir, “Kalau kita pentas tanpa penonton, apa artinya?” ia bertanya. Pertanyaan itu menggantung, menembus hening yang sesaat hadir di ruang sarasehan.
Giliran Iswadi Pratama, pendiri Teater Satu Lampung, berbicara. Ia memulai dengan bercanda, katanya ingin “cari gara-gara.” Namun dari kejenakaannya, lahir gagasan yang menusuk. Ia membawa kita pada perjumpaan tak terduga antara Pierre Bourdieu dengan Semar. Bourdieu berbicara tentang tiga hal yaitu habitus, arena, dan modal. Iswadi menghubungkannya dengan tradisi Jawa. Ia dengan lancar menganalogikan Semar sebagai modal sosial, kultural, bahkan spiritual. Ia juga menggambarkan dengan sangat logis bahwa sanggar sebagai arena; dan kawruh sebagai habitus. “Inilah ekosistem kita,” katanya.
Bagi Iswadi, Semar penting bukan karena ia menyeragamkan, melainkan justru menjaga keberbedaan. Petruk tetap Petruk, Gareng tetap Gareng. “Seorang pemimpin sejati tidak menjadikan semua muridnya seperti dirinya. Ia membiarkan karakter tumbuh,” tambahnya. Dari Semar, ia melompat ke Antonio Gramsci dengan gagasan intelektual organik atau diibaratkan sebagai sosok yang tidak tunduk pada modal atau rezim, melainkan bekerja dari pengetahuan yang ia miliki. “Seniman tugasnya bukan jadi corong, tapi jadi ruang belajar bagi masyarakat,” kata Iswadi.
Pertanyaan moderator tentang regenerasi penonton kembali memantik percakapan. Prof. Yudi bercerita bagaimana ia mengajak ibu rumah tangga, remaja, bahkan asisten rumah tangga menonton teater perempuan. “Penonton harus dirangkul,” katanya. Tanpa mereka, pertunjukan hanyalah latihan panjang yang sunyi.
Iswadi menimpali dengan contoh di Lampung. Ia bercerita pelaku teater sering enggan menonton karya sesamanya. “Kalau bukan dia yang main, dia nggak mau nonton,” ujarnya sambil tertawa getir. Baginya, regenerasi penonton tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada kelompok teater. Ada peran lembaga, dewan kesenian, bahkan negara. Kalau tidak, energi komunitas akan habis hanya untuk mengurus pertunjukan sekaligus membina penonton. Di titik ini, sarasehan berubah menjadi ruang refleksi kolektif. Semua yang hadir seperti diingatkan bahwa keberlangsungan teater bukan hanya soal menyiapkan aktor baru, tapi juga soal memastikan ada mata yang setia menyaksikan.
Diskusi lalu mengalir ke soal festival. Prof. Yudi menolak memandang festival hanya sebagai lomba. Baginya, festival adalah ziarah atau perjalanan kembali ke titik nol, meneguhkan jati diri. Ia menyinggung bagaimana di Yogyakarta, hampir setiap bulan ada festival, menjadi ajang silaturahmi antar komunitas. “Festival adalah ruang kembali pada akar, sekaligus ruang untuk merumuskan masa depan,” ujarnya. Kata “ziarah” yang ia pilih begitu kuat, mengingatkan bahwa berkesenian bukan sekadar soal produksi karya, tetapi juga perjalanan spiritual, perjalanan mencari diri.
Tak luput, teknologi digital ikut disinggung. Bagi Prof. Yudi, mau tidak mau, suka tidak suka, seniman harus belajar memanfaatkannya. Rekaman, media sosial, hingga dramaturgi intermedia menjadi jalan baru untuk menjaga relevansi. Iswadi pun mengakui bahwa digital bisa menjadi sarana memberi gambaran awal bagi penonton. “Orang jadi punya bayangan sebelum datang menonton,” katanya.
Pada akhirnya, diskusi sore itu memang tidak memberi kesimpulan tunggal. Yang tersisa hanyalah serpihan gagasan yang bisa disulam kembali oleh siapa saja yang hadir. Prof. Yudi mengingatkan pentingnya merawat keberagaman tradisi, Iswadi menegaskan peran komunitas sebagai arena regenerasi, dan moderator menggarisbawahi bahwa regenerasi penonton sama pentingnya dengan regenerasi pelaku seni.
Sarasehan ditutup, tetapi percakapan terus bersambung. Orang-orang masih duduk berkelompok kecil. Ada yang tertawa, ada yang mencatat, bahkan ada yang merenung dalam diam. Dan di tengah suasana itu, aku membayangkan teater seperti tubuh hidup. Kata ekosistem yang berulang kali disebut Prof. Yudi dan Iswadi, menyeret pikiranku pada konsep One Health yang pernah kupelajari di bangku kuliah. Konsep ini menjelaskan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait, tak bisa dipisahkan.
Jika dipandang dengan kacamata One Health, teater bekerja layaknya tubuh. Seniman adalah organ vital, komunitas dan festival menjadi lingkungan yang menentukan kesuburan, penonton berfungsi sebagai sistem imun, institusi ibarat regulasi kesehatan, sementara industri dan teknologi digital menjadi faktor eksternal yang sifatnya terkadang ancaman, kadang terapi.
Masalah regenerasi teater bisa dibaca sebagai gangguan metabolisme. Seniman tanpa penonton bagaikan anemia, komunitas tanpa kebijakan seperti imun yang disupresi, festival menjadi imunisasi yang menjaga daya tahan. Seperti tubuh yang perlu homeostasis, ekosistem teater pun menuntut keseimbangan. Dalam kerangka ini, kesehatan teater tidak bisa ditanggung satu pihak. Ia hanya hidup bila seniman, penonton, komunitas, institusi, dan teknologi saling berinteraksi harmonis.
