Habateti : Dan Kompetisi Belum Selesai…

Dan Kompetisi Belum Selesai...

          Di Ladaya, hujan berkali-kali bersikeras menentukan arah dan jalannya acara. Itulah yang terjadi pada acara tahunan Sahur Mayur edisi 2025 pada bulan Maret kemarin, dan itu pula yang terulang pada sarasehan pertama dari tiga sarasehan yang direncanakan sebagai salah satu program Lanjong Art Festival 2025. Sarasehan dengan tajuk yang cukup provokatif, yakni Seniman Bukan Atlet tersebut, pada mulanya direncanakan berlangsung di Jacinda Stage, dengan diawali serta diakhiri oleh penampilan mahasiswa jurusan etnomusikologi ISBI Kaltim, pada tanggal 23 Agustus 2025, pukul 16.00 WITA. Sudah dari jauh-jauh  hari, panitia menyiapkan lokasi tersebut, mulai dari latar panggung hingga instalasi sistem suara. Namun hujan adalah apa yang tak dapat dielakkan. Ia turun tidak deras, namun rapat dalam intensitas yang terjaga sedari siang, dan belum ada tanda-tanda bakalan reda hingga pukul 16.00 WITA persis, memaksa panitia menggeser acara ke Pendopo Ladaya, tanpa didahului oleh penampil musik.

          Tentu saja perbedaan lokasi menghasilkan perubahan suasana. Namun rasanya, itu tidak terlalu berpengaruh pada topik pembicaraan sore itu, yakni untuk menjawab satu pertanyaan besar, apakah kompetisi teater masih penting atau tidak dalam ekosistem teater hari ini di Indonesia. Pertanyaan ini, barangkali, adalah jenis pertanyaan yang cukup klise, persis seperti yang kemudian dikonfirmasi oleh Bambang Prihadi, salah satu narasumber, ketika ia mengawali paparannya. Bagi saya pribadi, justru karena pertanyaan ini klise, namun tetap kerap muncul dalam pembicaraan, karenanya ia menarik – satu hal yang mengindikasikan bahwa persoalan ini belum juga kunjung beres sejak bertahun-tahun lampau.

          Bambang Prihadi adalah orang yang kompeten untuk membicarakan tema ini. Ia telah terlibat dalam dunia teater kurang lebih sejak tahun 1990, berpartisipasi dalam sejumlah kompetisi teater baik sebagai peserta maupun penyelenggara, serta saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta untuk periode 2023-2026.

          Dadang Ari Murtono, seorang penyair yang didapuk sebagai moderator sarasehan, mengawali acara dengan memaparkan serba sekilas gambaran kasar tentang tema. Ia menyinggung tentang Festival Teater Remaja di Jakarta yang sudah dimulai sejak tahun 1973, yang kemudian menular ke daerah lain, misal ke Jawa Timur melalui Lomba Drama Lima Kota, menyebut sejumlah tokoh penting teater di Indonesia yang lahir dari kompetisi seperti Akhudiat atau Putu Wijaya, dan kemudian membandingkannya dengan gelaran-gelaran festival non-lomba yang cukup marak akhir-akhir ini.

          Bambang Prihadi mengudar cukup jauh sejarah kompetisi teater di Indonesia, yang agaknya, memang dimulai dari Jakarta sebagai pusat, tentu saja dengan Festival Teater Remaja (belakangan berubah menjadi Festival Teater Jakatta) sebagai basis, meski ia sempat pula mengutip ucapan Noorca M. Massardi bahwa sebelum FTR, di sekitar Bulungan, ada lomba-lomba teater dalam skala yang jauh lebih kecil. Secara singkat, festival ini dimulai pada tahun 1973 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, diinisiasi oleh Wahyu Sihombing, dan diresmikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Tujuan festival ini adalah untuk mendorong kreativitas seniman muda, membina kelompok teater agar lebih terorganisir, serta menyajikan karya yang layak bagi publik. Untuk tujuan yang terakhir ini, keberadaan Festival Teater Remaja tidak bisa dipisahkan dari terselenggaranya Sayembara Naskah Drama yang dikerjakan oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 1972, sebab lakon-lakon pemenang sayembara inilah yang kemudian dipentaskan oleh para peserta festival. Festival Teater Remaja yang kemudian menjadi Festival Teater Jakarta bersifat berjenjang, ia dimulai dari penyisihan wilayah administratif Jakarta hingga babak final di tingkat provinsi. Pada masa kejayaannya, peserta kompetisi ini mencapai ratusan grup, meski belakangan menyusut ke angka puluhan.

          Perubahan nama dari Festival Teater Remaja ke Festival Teater Jakarta, sesungguhnya, dimulai pada akhir 1980-an, ketika para peserta dibebaskan untuk memilih naskah pementasannya masing-masing, dengan harapan agar kelompok tersebut lebih mampu merefleksikan karakter masing-masing komunitas.

          Apa yang disampaikan oleh Bambang Prihadi diperdalam oleh Christ Aditya, ketua komite teater Dewan Kesenian Jakarta periode 2023-2026 yang hadir di Lanjong Art Festival 2025 sebagai observer. Christ menekankan bahwa kompetisi teater idealnya bersifat pembinaan bagi seniman muda atau emerging, dan seyogyanya ada batasan-batasan peraturan yang jelas terkait ini. Ia juga mempertebal informasi terkait FTR, yang awalnya digunakan sebagai kontrol sosial masyarakat untuk meredam konflik-konflik di antara para remaja Jakarta pada waktu itu. Lebih jauh, Christ menyinggung tentang Djakarta International Theatre Platform, satu platform teater yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 2017 dan bersifat non-lomba. Ada tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh gelaran non-lomba seperti ini,  mulai dari alasan artistik, estetika, hingga efek berlapis di bidang ekonomi. Christ, misalnya, menceritakan bagaimana perputaran uang yang berlangsung selama penyelenggaraan Djakarta International Theatre Plaform, dan bagaimana data-data semacam itu berguna untuk memperkuat daya tawar dengan pemerintah, misalnya.

          Sudut pandang yang menarik disampaikan oleh Iswadi Pratama, sutradara Teater Satu Lampung yang juga bekerja sebagai kurator dan juri kompetisi untuk Lanjong Art Festival tahun ini. Ia melihat kesenian dari sudut yang lain, yang tidak boleh diukur dengan parameter-parameter yang hanya berkutat soal uang dan materi. Ia bercerita tentang Siti (yang barangkali adalah karangan belaka) yang sempat ingin bunuh diri, namun urung sebab ia terlibat dalam kerja-kerja teater. Iswadi juga menengarai bahwa keberadaan kompetisi teater barangkali adalah efek dari modernisme. Narasi besar yang dibawa oleh modernisme membuat orang membutuhkan atau mencari “mana yang paling benar atau tepat”, dan dalam konteks itulah kompetisi menemukan urgensinya.

          Pada sesi tanya jawab, pertanyaan yang muncul mengerucut pada pelaksanaan kompetisi yang lain, yakni FLS3N, satu kompetisi seni dan sastra untuk siswa sekolah di seluruh Indonesia. Saya kira, satu alasan yang mendasari kenapa isu FLS3N ini muncul dan menguat dalam sesi tanya jawab adalah asal para peserta sarasehan yang beragam, merentang dari Lampung hingga Palu. Mereka mungkin tidak relevan dengan isu Festival Teater Jakarta, tapi mereka mengerti bahwa FLS3N berlangsung di seluruh wilayah di Indonesia, berjenjang, dan rutin tiap tahun. Pembahasan mengenai FLS3N juga tidak sepenuhnya baru. Isu-isu seperti juri yang tidak kompeten kembali mengemuka, kriteria pemilihan juri, dan lain sebagainya. Hal-hal yang bahkan setelah sarasehan selesai tak menemukan solusinya.

          Tak ada yang salah dengan solusi yang tak ketemu tersebut, setidaknya bagi saya. Tak semua hal harus selesai dalam satu pembicaraan, apalagi pembicaraan berdurasi satu setengah jam. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa meski klise, namun pembicaraan tentang kompetisi memang tetap harus diupayakan untuk menemukan format penyelenggaraan yang paling sesuai dengan lokus di mana ia digelar.

           Apa pun itu, semua pada akhirnya sepakat bahwa acara teater, baik itu yang bersifat lomba maupun non-lomba, harusnya tetap berjalan dengan tujuan masing-masing, dengan peraturan masing-masing. Toh, kalau kita mau memeriksa lebih dalam, bukankah sistem kuratorial (satu istilah yang menurut Bambang Prihadi baru muncul sekitar tahun 2000) untuk festival-festival non-lomba, dalam beberapa hal juga mengadopsi watak-watak penjurian dalam lomba?

          Untuk menutup tulisan ini, saya ingin sedikit memiuhkan apa yang pernah dikatakan Chairil Anwar: Lomba atau Non-lomba, dua-duanya dapat tempat, dua-duanya layak dicatat.

Scroll to Top