Habateti : Catatan Workshop Ketubuhan Bersama Ari Ersandi

Catatan Workshop Ketubuhan Bersama Ari Ersandi

Syadza Zahratun Nufus AZ

                Setelah malam sebelumnya dibuka dengan begitu meriah, Lanjong Art Festival 2025 seolah meninggalkan energi yang masih bergetar bagi yang menonton. Para peserta, terutama mereka yang ikut dalam kompetisi teater nasional, tentu tak ingin melewatkan kesempatan emas untuk mengikuti workshop Ketubuhan yang dimentori oleh Ari Ersandi pada Sabtu, 23 Agustus 2025 pukul 09.30 WITA. Bagiku, sosok Ari sudah memberi kesan mendalam lewat penampilannya, Limina Wana, pada malam pembukaan. Pertunjukan yang tak hanya memikat mata, namun terasa personal karena menyentuh ruang batinku.

                Namun, ketika tiba saatnya workshop, ada rasa gamang yang menyelip. Aku merasa tidak cukup percaya diri untuk ikut terlibat langsung. Bayangan tentang tubuh yang harus lentur, bergerak bebas, dan memahami bahasa tari membuatku ragu. Aku memang tak punya dasar-dasar menari. Apalagi perihal ketubuhan. Maka, alih-alih bergabung, aku memilih duduk sebagai pengamat. Dari tepi Panggung Kampung Seni di Ladaya, aku memperhatikan bagaimana ruang itu diisi, bagaimana tubuh-tubuh para peserta mulai bernegosiasi dengan dirinya sendiri, dan bagaimana Ari mengarahkan mereka.

                Workshop dimulai dengan sesi peregangan antar peserta. Ada yang membaringkan tubuh dengan mata terpejam, sementara ada yang perlahan membantu menggerakkan tubuh dalam berbagai liukan. Latihan ini dilakukan secara bergantian, sehingga setiap orang berkesempatan merasakan peran sebagai penggerak maupun yang digerakkan. Ari kemudian mengajak para peserta untuk saling mengobservasi tubuh, membangun keberanian sekaligus rasa aman dalam bereksplorasi. Pemanasan ini tidak sekadar melenturkan badan, melainkan juga mengaktivasi napas, menyadari pusat berat tubuh, serta mengartikulasikan sendi agar rentang gerak terbuka lebih luas.

                Setelah rangkaian gerakan itu usai, seluruh peserta diminta menjaga jarak satu sama lain lalu berbaring sambil menggerakkan sendi-sendi tubuh mereka. Dari kejauhan, aku melihat Ari memperlihatkan satu cuplikan gerakan dari pertunjukannya pada pembukaan kemarin. Ia memutar tubuhnya dengan luwes, sementara kedua kakinya tetap menempel kuat di tanah. Aku mencoba menirukan sedikit gerakan itu, namun rasa sakit langsung terasa di tubuhku. Maklum, badanku sekaku tiang listrik.

                Latihan berikutnya membawa para peserta membentuk lingkaran, berjalan perlahan memutari ruang seakan-akan menyadari kembali setiap pijakan kaki yang langsung menyentuh tanah tanpa alas. Lalu mereka berpasangan, ada satu menutup mata dan satu lagi menuntun. Dari situ, terlihat bagaimana tubuh belajar mempercayakan dirinya sepenuhnya pada orang lain, sekaligus melatih sensitivitas untuk merespons gerakan yang muncul spontan. Suasana menjadi cair. Beberapa peserta bahkan berulah kecil dengan membiarkan pasangannya berjalan terlalu jauh hingga hampir menabrak tiang kayu. Namun Ari segera mengarahkan kembali, seolah mengingatkan bahwa keusilan pun butuh batas aman.

                Sesi ini tampak sederhana, namun menjadi ruang bagi para aktor untuk belajar “bermain dengan tubuh” secara lebih halus. Tubuh tidak hanya digerakkan, tetapi juga diajak untuk mendengar, mempercayai, dan merespons. Latihan ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran baru tentang hubungan antara diri, ruang, dan orang lain.

                Pada tahap berikutnya, Ari memberikan semacam pemicu seperti kata-kata, ingatan, atau fragmen memori yang dapat memancing peserta mengekstrak motif gerak dari dalam dirinya. Dari sana, setiap tubuh mulai menemukan alurnya sendiri. Aku menduga, sebagai seorang koreografer, Ari memang mendorong para peserta untuk menggali pola-pola personal yang kemudian bisa dijadikan bahan dasar penciptaan koreografi.

                Metode yang digunakan Ari berakar pada Training for Actors ala Vsevolod Meyerhold. Pendekatan ini menekankan bahwa tubuh adalah instrumen utama aktor, bukan sekadar pelengkap dialog atau naskah. Melalui metode ini, para peserta diajak keluar dari pola gerak baku, melampaui sekadar menirukan instruksi. Tujuan akhirnya adalah membangkitkan keberanian untuk mengekspresikan diri secara fisik dan autentik. Gerakan tidak lagi hadir sebagai hasil pengulangan, melainkan sebagai respon spontan yang lahir dari kesadaran tubuh, ruang, dan emosi. Bagi mereka yang memiliki dasar keaktoran, metode ini membuka kemungkinan baru dalam penciptaan peran. Tubuh tidak hanya patuh pada perintah, tetapi juga menjadi sumber imajinasi dan kreativitas. Ari seakan ingin mengingatkan bahwa tubuh adalah pusat pengalaman artistik, dari mana bentuk-bentuk gerak yang orisinal bisa lahir.

                Dan di sinilah, sebagai pengamat dari tepi panggung, aku menemukan sesuatu yang tak kalah penting. Ketubuhan bukan lagi terlihat sebagai serangkaian teknik, melainkan sebuah perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri. Ari tidak hanya memberikan latihan, tetapi juga membuka jalan agar tubuh menjadi ruang pertemuan antara ingatan, emosi, dan keberanian untuk hadir sepenuhnya. Setiap gerakan, sekecil apa pun, menyimpan cerita. Tentang rasa takut, tentang kepercayaan, hingga kebebasan yang muncul ketika tubuh berhenti meniru dan mulai mendengar dirinya sendiri. Meski aku hanya penonton pasif, ada sesuatu yang ikut bergetar di dalam diriku. Ada kesadaran bahwa tubuh, betapapun kaku atau terbatas, tetap menyimpan kemungkinan untuk bercerita dengan caranya sendiri.

Scroll to Top