Hal-Hal yang Tersisa Setelah Korrie…

Hal-Hal yang Tersisa Setelah Korrie...

       Apa yang tersisa setelah pasar bubar, seusai lapak-lapak dikemasi dan para pengunjung melangkah pergi? Pertanyaan itu membayang sepanjang perjalanan pulang dari Pasar Petang, satu pasar yang dimaksudkan untuk menghormati dan merayakan kata-kata dan diselenggarakan oleh Yayasan Lanjong bekerjasama dengan Ruang Sastra Kaltim pada tanggal 24 Mei 2025 di Pekarangan Ladaya, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kata-kata yang dirayakan itu, ternyata, tak pernah benar-benar pergi meski acara telah usai. Ia menghidupkan kembali apa-apa yang telah terjadi di dalam pasar lewat bentuk yang lain, yakni suara-suara dalam kepala yang menuntut jawaban.

       Oleh karena itulah, saya seakan masih bisa mendengar seruan Abang Rende yang menjajakan agama seolah-olah agama adalah komoditas jualan kaki lima dalam sebuah monolog berjudul Agama Diskon. Dalam pertunjukan yang disutradarai oleh Zahira tersebut, batas-batas panggung diruntuhkan. Abang Rende melebur bersama pengunjung Pasar Petang, berdiri di tengah-tengah mereka dengan gerobak kecil dan bertingkah seperti seorang penjual obat. Ia mendirikan UMKM agama, memasukkan Tuhan dalam katalog promosi, menawarkan serum penghapus dosa, menjual ketakutan dalam kemasan yang indah melalui ancaman neraka. Naskah yang ditulis oleh Ab. Asmarandana tersebut, tak kurang dan tak lebih, adalah satu laku kritik keras terhadap cara beragama sebagian orang hari ini.

       Pertunjukan monolog ini menggetarkan saya, sebab ia telah menggeser Pasar Petang, lokus di mana pertunjukan itu terjadi, ke tingkatan yang lain. Pasar Petang, kemudian, tidak hanya bertindak progresif dengan menempatkan kata-kata sebagai mata uang, melainkan juga bergerak lebih jauh dengan menyediakan Tuhan dan agama sebagai barang jualan, berdampingan dengan burger, kopi, kerajinan tangan, jajanan ringan, tato temporer, dan para pengamen puisi.

IMG_3098
Dok Lanjong - Pasar Petang: Monolog "Agama Diskon"

       Akan selalu ada orang yang datang untuk membeli Tuhan dalam bentuk yang paling mudah. Salah satu kalimat dalam monolog tersebut, terus menggema di kepala saya, membuat saya memeriksa diri saya sendiri tentang bagaimana selama ini saya beragama dan memperlakukan Tuhan.

       Pertunjukan Agama Diskon adalah pertunjukan terakhir dari sesi pertama Pasar Petang yang dimulai pukul 16.00 WITA. Sebelumnya, untuk membuka acara, tiga puluh santri dari Pesantren Teater Olah Seni di bawah bimbingan Deprianur membawakan semacam pembacaan dramatik dalam bahasa Kutai berjudul Ndik Ngondok. Dengan sebagian besar santri yang masih SD dan SMP, pertunjukan itu menguarkan keceriaan yang menular ke para pengunjung. Ndik Ngondok, kurang lebih, dalam bahasa Indonesia berarti tidak diam di rumah, sebuah seruan agar anak-anak tidak mager dalam rumah, melainkan keluar untuk menghirup udara segar, jalan-jalan, dan aktivitas-aktivitas yang sejenisnya. Dalam konteks hari ini, apa yang ingin disampaikan oleh pertunjukan itu niscaya sesuatu yang sangat relevan, ketika banyak sekali anak yang lebih memilih mengurung diri dalam rumah, tenggelam dalam layar gawai di tangan, dan melupakan interaksi sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

       Seorang penyair senior Tenggarong, Indah Guzel, tampil setelah para santri TOS, untuk membacakan beberapa puisi. Senja dan puisi, agaknya, masih merupakan pasangan yang serasi.

       Para pengunjung Pasar Petang menggila ketika Koetainesse Clan tampil. Mereka, para pengunjung, turun membentuk lingkaran dan berjoged mengikuti rap yang dibawakan oleh Koetainesse Clan. Lirik-lirik Koetainesse Clan adalah lirik-lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dengan sisipan bahasa Kutai di sana-sini, misalnya dalam lagu mereka yang berjudul Rojali, yang berbicara tentang para perokok yang jarang beli rokok.

       Setelah gegap gempita dan kemeriahan yang dibawa oleh Koetainesse Clan, Radika Darmawan, seorang penyair dan aktor teater, membacakan beberapa puisi dalam bahasa Indonesia, bahasa Kutai, dan bahasa Inggris. Dalam pertunjukan Radika, bahasa-bahasa yang berbeda bertemu dan berdialog, seakan menunjukkan wajah dunia hari ini, sebuah dunia yang kosmopolit dan batas-batas bahasa tak lagi membatasi.

       Baladastra, kelompok musik dari Teater Bastra Universitas Mulawarman, meneruskan suasana ngelangut yang telah dibangun oleh Radika. Mereka membawakan dua buah musikalisasi puisi dan satu lagu tentang korban tambang berjudul Tenggelam, satu lagu berisi kritik sosial yang tidak disampaikan dengan kemarahan, melainkan kesenduan yang reflektif, sekaligus upaya mengingatkan bahwa Kalimantan Timur masih belum beranjak dari persoalan-persoalan industri ekstraktif yang tidak hanya merusak alam, tapi juga membunuh manusia dalam pengertiannya yang paling harfiah.

       ***

Dok Lanjong – Pasar Petang: Beberapa Penampilan di Pasar Petang

       Kata-kata yang lebih pekat membayang dari peristiwa Pasar Petang, sesungguhnya datang dari sesi kedua acara, yakni diskusi sastra dengan tema Setelah Korrie…. Seperti yang diterakan dalam tulisan pengantar Pasar Petang di website Lanjong, diskusi ini adalah upaya untuk menyigi dan memahami bagaimana kondisi ekosistem kesusatraan Kalimantan Timur kiwari. Dan Korrie, yang tentu saja merujuk ke tokoh besar Korrie Layun Rampan, ditempatkan sebagai penanda, semacam tapal atas satu situasi tertentu. Di dalam situasi tersebut, berkelit kelindan banyak hal, mulai dari ekosistem dalam arti yang luas, para penulis, publik penikmat, kritikus, peran pemerintah, capaian estetik, gagasan-gagasan yang ditawarkan, bagaimana kultur dan kearifan lokal mempengaruhi karya, gerakan, komunitas, dan seterusnya.

       Tiga pembicara dari generasi yang berbeda memaparkan kertas kerja mereka. Kristal Firdaus, seorang penyair muda Kalimantan Timur sekaligus penulis emerging untuk Makassar International Writers Festival tahun 2025 membongkar bagaimana ia, sebagai eksponen generasi termutakhir, menemukan panggilan dan mulai meniti jalan kepenyairan. Ia, setidaknya sampai tahun 2022, secara harfiah, nyaris tidak terhubung dengan sejarah kesusastraan Kalimantan Timur. Seperti hampir semua anak yang tumbuh di Indonesia, ia mengenal nama-nama semacam Chairil Anwar atau Rendra dari buku pelajaran bahasa Indonesia di masa SMA. Persinggungannya dengan teater sekolah membawanya bertemu dengan teks-teks drama dari Arifin C. Noer, Putu Wijaya dan Motinggo Busye. Ketertarikannya pada kesusastraan, yang kemudian menjadi jalan baginya memasuki dunia tulis menulis berawal dari novel Supernova: Kesatria, Putri & Bintang Jatuh karangan Dee Lestari yang ia temukan di perpustakaan sekolah. Ketika kemudian ia pindah dari Berau, kabupaten tempat ia lahir dan tumbuh besar, ke Samarinda untuk menempuh studi di Hubungan Internasional Universitas Mulawarman, ia berjumpa dengan buku puisi Norman Erikson Pasaribu berjudul Sergius Mencari Bacchus, buku penting yang menguatkan tekadnya sebagai penyair. Pergaulan kesusastraan Kristal berlangsung di dunia digital dan media sosial. Di sana, ia mengerjakan korespondensi dengan penulis-penulis muda dari berbagai kota, mempublikasikan puisi di Instagram dan situs-situs yang menyediakan rubrik sastra, dan masih berjarak dengan kesusastraan Kalimantan Timur. Dalam pengakuannya, ia bahkan baru tahu nama Korrie Layun Rampan pada tahun 2022, melalui panggilan terbuka proyek buku Lapis Mutakhir Penyair Kalimantan Timur yang diinisiasi oleh Ruang Sastra Kaltim.

       Apa yang terjadi dengan Kristal Firdaus adalah satu pintu masuk untuk melihat satu persoalan krusial kesusastraan Kalimantan Timur yang dihadapi oleh generasi termutakhir, yakni, ketidaktersediaan akses atas buku-buku para penulis asal Kalimantan Timur di Kalimantan Timur itu sendiri. Ia menemukan nama-nama penyair yang jauh dalam pelajaran sekolah, ia menjumpai Dee Lestari di perpustakaan sekolahnya, tapi tidak dengan buku Korrie atau Djumri Obeng, misalnya. Satu pertanyaan besar yang kemudian menggantung di kepala saya adalah, kenapa perpustakaan sekolah tidak menyediakan buku sastrawan lokal di rak buku mereka? Kenapa kurikulum-kurikulum sekolah mengajarkan karya para penulis yang berbeda latar belakang budaya sebelum mengenalkan para penulis yang membawa suara daerah itu sendiri? Satu persoalan yang agaknya klise, namun tak kunjung menemukan pemecahan hingga kini.

       Fitriani Um Salva berasal dari generasi yang lebih senior ketimbang Kristal Firdaus. Jalan kepengarangannya menempuh jalur yang berkebalikan dengan apa yang dialami oleh Kristal. Sedari awal memasuki pergaulan kesusastraan, ia telah sepenuhnya terhubung dengan sejarah kesusastraan Kalimantan Timur dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting di dalamnya. Ia pernah bersinggungan langsung dengan Korrie, mendengar bagaimana Korrie bercakap, dan menyaksikan kebangkitan kesusastraan Kalimantan Timur seiring kepulangan Korrie dari rantau panjangnya di Jawa pada awal milenium ketiga. Dan karena itu, ia cukup otoritatif untuk menceritakan sejumlah tonggak penting yang menandai kebangkitan kesusastraan Kaltim era awal 2000-an, antara lain pembentukan Jaring Penulis Kaltim yang diinisasi oleh Korrie bersama Herman A. Salam dan Amien Wangsitalaja pada tahun 2004. Jaring Penulis Kaltim, pada masanya, adalah semacam episentrum bagi gerakan kesusastraan Kaltim. Melalui lembaga ini, penulis-penulis muda yang di kelak kemudian hari menjadi  penting bermunculan, antara lain Shantined, Uni Sagena, Atik Sri Wahyuni, dan lain sebagainya. Lembaga ini juga aktif menerbitkan buku-buku sastra yang memberi wadah sekaligus mendokumentasikan kerja-kerja kesusastraan para penulis Kaltim, antara lain kumpulan cerpen Bingkisan Petir, Bedadai, Samarinda Kota Tercinta, dan lain-lain. Buku-buku tersebut, niscaya, senantiasa menjadi pintu yang selalu terbuka untuk memeriksa dan melihat kondisi kesusastraan Kaltim masa lampau. Fitriani Um Salva juga membabar peristiwa-peristiwa kunci kesusastraan di masa lampau yang terjadi di Kalimantan Timur, mulai dari Seminar Nasional bertajuk Sastra Kaltim dalam Konstelasi Sastra Nasional, lolosnya tiga penulis Kaltim dalam Cakrawala Sastra Indonesia yang ditaja oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2005, terbentuknya Sanggar Sastra Remaja Indonesia di Samarinda yang mendapat dukungan dari majalah legendaris Horison, hingga Dialog Borneo-Kalimantan XI pada tahun 2011 di Samarinda yang melahirkan tiba seri buku babon: Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia, Kalimantan dalam Prosa Indonesia, dan Kalimantan dalam Puisi Indonesia.

       Apa-apa yang disampaikan oleh Fitriani Um Salva cukup memberikan gambaran betapa semarak dan meriah ekosistem kesusatraan Kalimantan Timur masa lampau. Sesuatu yang seyogyanya menjadi renungan dan pijakan untuk mengembangkan ekosistem kesusastraan Kalimantan Timur hari ini. Bagaimanapun juga, kita tak bakal kuasa melangkah ke depan tanpa pernah menengok ke belakang, tanpa mengambil pelajaran dari apa yang telah lewat.

Dok Lanjong – Pasar Petang: Para Pengunjung di Pasar Petang dan Diskusi Sastra

       Pembicara ketiga, Dahri Dahlan, adalah seorang akademisi, peneliti, sekaligus penyair yang berbasis di Samarinda. Kertas kerjanya membentang panjang, mengutip Nirwan Dewanto hingga Adorno dalam catatan kaki. Ia menyinggung kerja-kerja dokumentasi yang dikerjakan oleh Korrie, bagaimana Korrie aktif menggandeng para penulis muda di Kalimantan Timur, dan lain sebagainya yang diiringi dengan produktivitas Korrie sendiri dalam berkarya. Dahri Dahlan menempuh ziarah ke masa lalu, ke masa ketika Korrie masih hidup, menyambangi hari sewaktu Korrie melakukan wawancara dengan Tiffani Tsao dan mendengar ia berkata, “Kalimantan Timur tidak kekurangan uang, tapi kekurangpahaman dan kekurang pengertian terhadap penting dan perlunya sastra itu dibaca.” Dari sana, ia bergerak mengikuti arus waktu, menyeberangi 2015, tahun paling muram dalam sejarah kesusastraan Kaltim yang ditandai dengan mangkatnya Korrie, lantas mengajukan pertanyaan reflektif tentang siapa yang bisa menggantikan posisi Korrie, baik dalam capaian kekaryaan maupun aktivisme dalam kesusastraan. Dengan murung, ia menjawab tidak ada, sampai pada satu generasi yang ia sebut sebagai Sastrawan Kaltim Pasca-Covid 19.

       Setidaknya ada tiga nama yang disebut Dahri Dahlan dari generasi ini, yakni Andria Septy, Novan Leany, dan Kristal Firdaus. Ketiganya adalah penulis emerging untuk Makassar Intenational Writers Festival di tahun yang berbeda. Dua di antaranya, yakni Andria Septy dan Kristal Firdaus, baru saja menerbitkan buku puisi yang didistribusikan secara luas.

       Dahri juga menyoroti pola pergaulan kesusastraan yang berbeda antara generasi Korrie dengan generasi yang ia sebut sebagai Sastrawan Kaltim Pasca-Covid 19 tersebut, terutama terkait pemanfaatan internet dan media sosial dalam berkorespondensi dengan para penulis dari daerah lain, serta tata cara dan strategi mempublikasikan karya. Satu pola pergaulan yang memungkinkan para penulis generasi ini menyerap banyak wacana dan pengaruh estetik dari belahan dunia mana pun serta tidak lagi terkungkung batas-batas geografis  — satu perkara yang seharusnya kian memperkaya khazanah kesusastraan Kalimantan Timur itu sendiri.

       Di akhir kertas kerjanya, Dahri Dahlan menyusupkan secercah optimisme: di zaman kini, perlahan Kalimantan Timur bangkit dari “absen”. Dan kita, saya kira, perlu mengaminkan optimisme ini.

       ***

       Situasi Setelah Korrie, agaknya, bukan sekadar keterputusan antargenerasi akibat keterbatasan akses dan tidak meratanya distribusi pengetahuan seperti yang terjadi pada Kristal Firdaus, bayang-bayang kebesaran masa silam yang sulit sekali disiasati dalam kertas kerja Fitriani Um Salva, atau sedikit harapan seperti yang dikatakan Dahri Dahlan, melainkan juga satu pertanyaan krusial yang disampaikan oleh Samarinda Book Party. Mereka menengarai bahwa sastra itu eksklusif sekaligus mempersoalkan mengapa hal seperti itu bisa terjadi.

       Pertanyaan ini, bagi saya pribadi, membuka satu kemungkinan pembicaraan yang baru. Seperti ada jarak yang entah dari mana, namun tiba-tiba muncul dan membentang. Satu jarak, yang karena tidak jelas asal-usulnya, maka juga tidak mudah dinavigasi. Pertanyaan itu melahirkan sejumlah pertanyaan lain dalam kepala saya: karya sastra atau para pelaku sastra yang ditengarai bersifat eksklusif? Jika karya sastra yang memiliki sifat eksklusif, maka dalam hal apakah ia eksklusif? Apakah kandungan dalam karya itu yang terlalu susah dijangkau, atau ketersediaan karya sastra itu yang terbatas seperti disinyalir dalam kertas kerja Kristal sehingga membuat karya sastra tersebut terkesan eksklusif karena hanya beredar di kalangan tertentu? Atau jangan-jangan, bukan karya sastranya yang eksklusif, melainkan para pelaku kesusastraannya sendiri, yang itu juga merentang dari pengarang, penerbit, media massa, distributor buku, kritikus, perpustakaan, dan lain sebagainya. Jawaban atas pertanyaan ini, niscaya, akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru mengingat fakta bahwa di mana-mana, kegiatan kesusastraan selalu dipublikasikan gencar-gencaran melalui media sosial, undangan disebar ke mana-mana, penerbit mengerjakan promo gila-gilaan, namun tetap saja hanya segelintir orang yang menghadiri acara sastra, hanya sedikit buku yang terjual. Satu fakta pahit yang agaknya terjadi di banyak tempat.

       Tidak mudah menjawab serta mengurai pertanyaan ini dan saya kira dibutuhkan satu penelitian tersendiri untuk bisa menguak eksklusivitas yang dimaksud. Eksklusivitas yang sejatinya entah ada atau tidak, namun kesan-kesannya begitu kuat. Kesan-kesan yang begitu kuat ini, bagaimana pun, adalah hal yang tidak terbantahkan. Dalam sesi tanya jawab diskusi Setelah Korrie… misalnya, sejumlah penanya bersaksi bahwa mereka tidak mengenal dan tidak tahu siapa Korrie, apalagi membaca karya-karyanya – satu hal yang persis terjadi dengan Kristal di awal ia menulis. Pergaulan digital mereka, ternyata, tak kuasa membawa mereka untuk  mengenal sejarah tanah sendiri. Ada semacam mata rantai penghubung yang hilang agar bisa melihat akar dari masalah ini. Dan ini yang mesti dicari.

       Situasi runyam dan samar-samar Setelah Korrie… ini menggenangi kepala saya sewaktu menyaksikan pertunjukan teaterikalisasi cerpen untuk memberi jeda diskusi. Pertunjukan tersebut dikerjakan oleh Fahrul Yamani dengan membongkar dan menyusun ulang cerpen berjudul Sekolah karya Pandu Pratama, salah satu cerpen yang termaktub dalam buku Hal-hal yang Tersisa dari Jam Makan Malam yang produksi Ruang Sastra Kaltim dalam rangka memetakan lapis paling mutakhir generasi sastrawan Kaltim. Fahrul Yamani menghadirkan seorang ibu dan anak di atas panggung, dan membuat sang ibu berbicara dengan seragam serta tas di atas kursi, seragam dan tas yang tak bertuan sebab si anak pemilik seragam itu telah meninggal. Ibu yang mengalami gangguan jiwa akibat meninggalnya si anak itu, tiba-tiba berlipat ganda dalam kepala saya. Ia menjadi semua orang yang hadir di Pekarangan Ladaya. Dan si anak yang tiada adalah Korrie yang telah tiada. Si ibu yang meratap adalah kita semua yang meratapi Korrie, si ibu yang tak mampu lepas dari bayang-bayang dan kenang-kenangan si anak adalah kita semua yang tak kuasa lepas dari bayang-bayang dan kenang-kenangan Korrie. Seragam dan tas yang teronggok di atas kursi, barangkali adalah hasil kerja Korrie yang telah lewat. Kita membiarkannya teronggok sebagai artefak beku tanpa sekalipun pernah mencoba untuk memanfaatkannya, membacanya, menghidupkannya kembali, membawanya ke khalayak yang lebih luas. Pada titik inilah, presentasi Kristal dan pengalaman sejumlah penanya relevan kembali: mereka yang tak menemukan Korrie di perpustakaan sekolahnya, mereka yang baru mendengar Korrie jauh setelah berkenalan dengan Chairil dan Rendra.

       Pertunjukan itu melahirkan kecemasan dan kekhawatiran dalam diri saya. Namun, kecemasan dan kekhawatiran itu barangkali sesuatu yang tak terelakkan dan memang mesti ditanggungkan.

Dok Lanjong – Pasar Petang: Pertunjukan Dramatisasi Cerpen “Sekolah”

        Kita bertemu banyak kekhawatiran dan pertanyaan, kata Dahri Dahlan menutup sesi diskusi Setelah Korrie, tapi itu justru bagus agar kita bisa memecahkan masalah.

       Saya setuju. Jalan masih panjang. Jalan yang bukan lurus lempang, namun, mengutip kata-kata Korrie di akhir presentasi Fitri Um Salva, jalan ini berdebu dan siang pun garang sepanjang kulminasi. Apa yang telah dilakukan oleh Yayasan Lanjong dan Ruang Sastra Kaltim lewat Pasar Petang, Setelah Korrie… agaknya adalah satu langkah kecil untuk mengurai apa-apa yang kusut, yang mungkin belum mampu menjawab, tapi setidaknya telah turut menyumbang pertanyaan. Pertanyaan itu, entah kapan, barangkali akan berguna demi ekosistem kesusastraan Kaltim yang lebih baik, ekosistem yang tidak tenggelam di bawah bayang-bayang kebesaran Korrie seperti yang terjadi pada tokoh ibu dalam pertunjukan Fahrul, namun mampu menambahkan warna lain, menyusupkan satu atau dua kata baru, menghidupkan kembali artefak beku yang terlalu lama berdebu di atas kursi menara gading kesusastraan yang membuatnya terkesan eksklusif.

       Semoga.

Scroll to Top