Suarastra.com – Senja itu turun dengan tenang. Angin membawa harum dedaunan yang menyentuh tanah Ladaya, sementara suara gamelan sayup-sayup mengantar para pejalan hati menuju satu ruang yang tak hanya menjual dagangan, melainkan juga menyuguhkan kehangatanbahasa, sastra, dan kenangan.
Disinilah Pasar Petang kembali membuka lapaknyabukan sembarang pasar, tetapi pasar yang mata uangnya adalah puisi dan catatan pendek, dan setiap transaksi dibayar lunas oleh kesungguhan rasa.
Tuan dan puan datang bersisian, membawa sajak dalam kantong kain dan rindu dalam pelipis. Mereka berkumpul di pelataran yang telah ditata semacam panggung bumi ada yang menjual kopi, tato temporer, dan burger tetapi juga ada yang melantunkan cerpen secara dramatik, menyulam puisi dengan denting gitar, dan mengajak berdiskusi tentang jejak-jejak literasi yang ditinggalkan Korrie Layun Rampan.
