Habis Barat Terbitlah Timur

Habis Barat Terbitlah Timur

       Ketika kami berbicara tentang “Barat” dan “Timur”, sesungguhnya kami tidak sedang berurusan dengan persoalan geografis, melainkan satu ruang geopolitik yang luas dan luwes sekaligus. Begitu pula kami tidak bermaksud membangkitkan kembali Polemik Kebudayaan 1935 yang berupaya menentukan arah kebudayaan Indonesia. Kami tidak hendak mendaur-ulang seruan Sutan Takdir Alisjahbana dalam Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Indonesia – Prae-Indonesia yang berkata bahwa sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengarahkan pandangan ke Barat, yakni Amerika dan Eropa – dan tidak lagi bertopang pada masa silam. Pun kami tidak berkeinginan meniru ajakan Sanusi Pane dalam rangka merespon seruan Takdir itu dalam Persatuan Indonesia yang menawarkan penyatuan antara Faust – si ahli ilmu pengetahuan yang mengorbankan jiwa asalkan menguasai jasmani – sebagai representasi Barat, dengan Arjuna – si pertapa dari Indrakila yang lebih mementingkan rohani ketimbang jasmani – sebagai representasi Timur. Bagaimanapun, ada tahun-tahun yang berselang antara polemik tersebut dengan dunia yang kami pijak hari ini, dan banyak yang terjadi selama itu, misalnya, berkembangnya anggapan bahwa kebudayaan nasional adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah sebagaimana dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dan terus diulang-ulang melalui penataran P4 atau mata pelajaran PMP di masa Orde Baru.

Kami sadar sepenuhnya, dengan menggunakan istilah “Barat” dan “Timur” dalam konteks hari ini, kami seakan sedang melangkah di setapak licin yang gampang bikin tergelincir. Jebakan-jebakan membentang sepanjang jalan tersebut, merayu kami untuk masuk ke dalam perangkap dikotomis antara “pusat” dan “pinggiran”, “ibukota” dan “pedalaman”, atau “yang maju” dan “yang terbelakang”, dan seterusnya. Sekali kami masuk ke dalam perangkap tersebut, maka alih-alih sampai pada tujuan yang kami angankan, kami justru akan mengekalkan satu dominasi tertentu, mereproduksi apa yang pada mulanya ingin dikikis. Kami berjalan berhati-hati sebab kami juga sadar sepenuhnya bahwa kami menghendaki sesuatu yang lebih produktif ketimbang larut dalam persoalan-persoalan tersebut.

“Timur” sebagai ruang geopolitik yang kami maksudkan, tentu tidak berlandaskan pada patokan zona waktu atau bersinonim dengan Indonesia Timur dan Kawasan Timur Indonesia. Dua istilah terakhir ini kerap digunakan untuk menggantikan istilah Timur Raya, suatu sebutan untuk kawasan di sebelah timur Pulau Jawa dan Kalimantan yang digunakan pada masa-masa terakhir kekuasaan kolonial Belanda. Lebih lentur ketimbang itu, “Timur” sebagai ruang geopolitik, lebih diikat oleh kesamaan nasib antar daerah.

Apa yang kami maksud kesamaan nasib sesungguhnya bermula dari ketimpangan-ketimpangan yang berlangsung. Ketimpangan-ketimpangan tersebut membentang panjang, mulai dari ketimpangan pembangunan, ketimpangan ekonomi, hingga ketimpangan akses ke pengetahuan dan lain sebagainya. Sebagai konsekuensi dari kondisi semacam inilah kemudian muncul istilah “pusat”, “dominasi”, dan seterusnya, yang dalam pengertian-pengertian tertentu akan merujuk ke sesuatu bernama “Barat”. Tentu saja akan ada orang yang berkata bahwa sudah sejak lama sesuatu yang bernama, katakanlah, “pusat” itu luruh, terutama dengan kehadiran internet yang menerabas serta memudarkan batasan-batasan. Namun pada waktu yang bersamaan, sebagai contoh sederhana, harus pula diingat bahwa alangkah susahnya sinyal internet di sejumlah daerah dibanding daerah lain; bahwa kami di Kalimantan Timur, yang ribuan ton batubara dikeruk dari kedalaman tanah kami tiap harinya untuk dibawa entah ke mana, harus menghadapi mati listrik sehari-hari – sesuatu yang barangkali tidak terjadi dengan Jakarta, misalnya. Lantas, sebagai contoh lain, seberapa timpangnya keberadaan museum dan perpustakaan berikut koleksi-koleksinya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain di Indonesia.

Jadi, “Timur” yang kami maksudkan adalah “Timur” yang terdiri dari berbagai macam suku dan kebudayaan, namun menanggungkan nasib yang sama. Dalam konteks global, istilah ini akan setara dengan Utara Global dan Selatan Global.

Sungguh, sekali lagi, dengan mengidentifikasi diri sebagai “Timur” kami tak hendak menegaskan atau menebalkan adanya dominasi “Barat”, baik dalam konteks Indonesia hari ini maupun dalam pengertian lebih luas seperti yang sembilan puluh tahun lalu dimaksudkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Sekali lagi, pembicaraan ke sisi itu akan tidak produktif, dan itu adalah hal yang ingin kami hindari. Kami ingin melampaui itu semua. Kami berupaya melepaskan diri dari polarisasi biner semacam itu.

Dengan melepaskan diri dari polarisasi semacam itu, “Timur”, bagi kami kemudian menjelma ruang untuk saling mengenal (atau lebih mengenal) antar orang atau kelompok yang berada di dalamnya, orang atau kelompok yang tentu saja menanggung kesamaan nasib. Melalui upaya itu, kami akan saling berbicara dan saling mendengarkan sehingga kami sanggup menemukan suara-suara yang sebelumnya mungkin saja tidak cukup atau lamat-lamat belaka terdengar. Dengan begitu pula, kita (bukan hanya kami) akan bisa melihat dan mengalami dunia dengan cara yang barangkali berbeda dibandingkan cara-cara dominan yang sudah ada selama ini. Melalui cara ini, misalnya, kita semua akan sanggup terbebas dari narasi-narasi tentang stigma yang banyak beredar, stigma-stigma yang tentu saja lahir dari prasangka dan ketidaktahuan, misalnya bahwa orang Dayak masihlah suku pemburu kepala, atau bahwa Kalimantan merupakan tempat jin buang anak seperti yang tempo hari dinyatakan secara vulgar oleh salah satu politisi, serta komentar salah satu warganet yang tampak terkejut karena ada motor di Kalimantan, seakan-akan Kalimantan adalah sebuah daerah antah berantah yang tidak tersentuh modernitas.

Pada akhirnya, ruang geopolitik bernama “Timur” ini akan meretas ketimpangan serta prasangka yang diakui atau tidak diakui memang ada selama ini sekaligus akan memperbaharui cara kita melihat serta mengalami dunia.

***

Ketika kami berbicara menggunakan kata “Habis” yang dikaitkan dengan “Terbitlah”, maka sesungguhnya kami sedang bercerita tentang fase, dan bukan patahan. Kata “Habis” bukanlah berarti tidak tersisa, tidak ada yang tertinggal, selesai, dan lain sebagainya. Ia tidak juga bermakna menyudahi atau mengakhiri.

Bagi kami, kata “Habis” yang terkait erat dengan “Terbitlah” pada mula-mulanya adalah sesuatu yang personal dan sentimental. Sebagai sebuah komunitas atau lembaga, kami terdiri dari berbagai macam individu dengan latar belakang yang beragam. Dalam rangka belajar atau untuk urusan lain, beberapa dari kami pernah singgah dan berdiam di banyak ruang, menginjakkan kaki di Jakarta atau Yogyakarta, membaca filsafat dan novel Eropa, dan seterusnya. Apa-apa yang kami dapat dari perjalanan kami tersebut, turut membantu kami melihat Kalimantan Timur dengan perspektif yang baru ketika pada akhirnya kami kembali ke kampung halaman. Seperti lazimnya setiap tualang atau pejalan, kami menemukan perbedaan-perbedaan antar daerah, mulai kondisi bentang alam, situasi sosial politik dan ekonomi, hingga adat istiadat serta cara menyiasati dan memandang hidup. Perbedaan-perbedaan itu kami rasakan, kami lihat, dan kami alami dengan keseluruhan diri kami. Dan itu kemudian menciptakan lapisan-lapisan dalam diri kami, yakni lapisan-lapisan pengetahuan, lapisan-lapisan pengalaman, dan sebagainya. Lapisan-lapisan tersebut menggenapkan kami sehingga kami sanggup menjadi diri kami sendiri hari ini, tentu saja bersama lapisan-lapisan lain yang tercipta dari buku-buku yang kami baca, film yang kami tonton, pertunjukan yang kami saksikan, musik yang kami dengar, dan seterusnya. Identitas dan orientasi nilai, seperti yang dikatakan oleh Bambang Sugiharto (lewat esai berjudul Seni Kontemporer dan Estetika Nomadik dalam buku Seni dan Kondisi Post-Human) merupakan sesuatu yang plastis dan fleksibel, banyak ditentukan oleh jejaring yang lebih luas dan sangat dinamis. Begitulah kami menjadi manusia Indonesia sekaligus warga dunia hari ini, manusia sekaligus warga yang bukan hanya terbuat dari lapisan Jawa, lapisan Kutai, lapisan Banjar, melainkan juga oleh lapisan pengetahuan Eropa, lapisan pengetahuan Jepang, dan seterusnya.

Oleh karena itulah, kata “Habis” dan “Terbitlah” menandakan sebuah fase, yakni, jika dulu kami mengalami Barat sewaktu berada di Barat, maka sekarang kami mengalami Timur setelah kembali pulang dari tualang.

Namun, pada waktu yang bersamaan, kami juga percaya bahwa yang personal adalah juga yang politis. Yang personal adalah juga yang estetis. Karena itu, berangkat dari yang personal serta sentimental itulah kami merumuskan frasa Habis Barat Terbitlah Timur sebagai sebuah tema serta spirit besar yang kami usung untuk memberi nafas kegiatan-kegiatan kami setahun ke depan. Frasa ini, sekali lagi, bukan dalam rangka menegakkan dikotomi antara Barat dan Timur, pusat dan pinggiran, yang mendominasi dan yang didominasi, melainkan sebuah ajakan untuk saling mengenal setelah mengenali diri sendiri, mempercakapkan apa-apa yang selama ini barangkali kurang dipercakapkan, merayakan keberagaman yang tak terelakkan, mengakui sekaligus memeriksa ulang lapisan-lapisan yang membentuk diri kita.

Habis Barat Terbitlah Timur adalah sebuah pernyataan bahwa ketimpangan serta prasangka perlu diretas untuk mengingatkan kembali bahwa selain A ada B, selain kanan ada kiri, selain Eropa ada Asia, selain Amerika ada Afrika, dan seterusnya yang kesemuanya itu sama-sama berharga. Puncak dan lembah, yang mungkin saja tidak pernah benar-benar ada itu, perlu sama-sama didengar. Dengan kesadaran semacam itu, maka kita akan mengenali dan mengenali ulang terus menerus apa itu Timur sama seperti kita akan mengenali dan terus mengenali ulang apa itu Barat. Dengan saling mengenal satu sama lain, maka inferiotas terhadap Barat akan menguap, stigma terhadap Timur akan terkikis. Tak akan ada lagi sikap rendah diri atau arogan yang muncul. Dengan itu pula, kita akan menemukan diri kita sebagai diri yang utuh dan lengkap. Hidup akan berjalan lebih harmonis dengan berbagai lapisan yang berkelit kelindan. Tendensi hibriditas, sekali lagi mengutip Bambang Sugiharto dalam buku yang kami sebut di atas, cenderung kami lihat sebagai sesuatu yang alamiah dan tak terhindarkan, serta bukan suatu yang tabu. Adalah hal yang tak terelakkan jika di dunia (kesenian) kontemporer hari ini, terjadi pergeseran dari Barat sebagai kerangka acuan utama ke perspektif yang multi dan inter-kultural dan orang semakin menyadari bahwa segala kebudayaan terbentuk melalui interaksi dengan kebudayan lain.

Karena itulah, Habis Barat Terbitlah Timur juga ajakan untuk berjalan. Pada mulanya adalah berjalan ke dalam diri sendiri, lalu berjalan keluar untuk bertemu dengan segenap umat manusia dari latar yang beragam. Perjalanan yang juga berarti akan membuka ruang-ruang baru, akan melahirkan ruang-ruang alternatif yang aman di mana semua orang dari mana pun bisa hadir dan berinteraksi dengan setara.

Demikianlah.

Scroll to Top